Friday, August 21, 2009

Jangan Takut Berubah!

Anak-Anak Coreng Moreng
Sebagai manusia dhoif dan naif tentu kita tak luput dari coreng moreng kesalahan dan dosa yang telah kita bikin sendiri. Bagi sobat-sobit yang beragama Islam maka hari ini adalah hari terakhir padusan sebelum memasuki pergantian ke bulan Ramadhan. Secara harfiah kata padusan disini bisa diartikan sebagai mandi badan all-in. Secara kiasan bisa dimaknai sebagai membersihkan juga pikiran, hati, dan jiwa prasiapan memasuki jalur perubahan. Selama dalam jalur perubahan ini maka para peserta diwajibkan menjalankan ibadah-ibadah demi perbaikan akhlak dan moral yang ditandai dengan ritual utama yaitu puasa sehari-hari dengan dalam jangka waktu 1 bulan.

Paska melalui jalur perubahan di bulan Ramadhan ini diharapkan nantinya para peserta bisa sakses berubah menjadi seindah aslinya alias fitri secara lahir bathin dengan ditandai tradisi saling mohon maaf lahir bathin di hari raya idul fitri kelak.

Sebelum memasuki bulan Ramadahan maka selama bulan ruwah (sya'ban) ini orang membersihkan pikiran, hati dan jiwa melalui tradisi ruwahan ataupun aktivitas-aktivitas lain sebagai pemaknaan dari refleksi dan introspeksi atas kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat selama ini. Bagaikan menambal ban tradisionil (bukan ban nitrogen), maka ban tersebut harus dibersihkan terlebih dahulu dari paku-paku dan segala kemungkinan penyebab kebocoran.

Tradisi ruwahan ini dimaksudkan sebagai media untuk membakar keangkuhan diri dengan legowo untuk rela mengalah, mau merasa salah, dan mau mengakui memiliki banyak kelemahan melalui ritual aktivitas sesuai keyakinannya. Misalnya meminta maaf kepada handai taulan baik yang rohnya masih berada di dunia fana maupun yang sudah berada di dunia ghaib. Raga boleh saja rusak atau musnah, tapi roh diyakini berpindah ke dunia halus, yang saking halusnya maka tak kasat mata. Barangkali inilah alasannya, sewaktu beberapa hari lalu saya membeli bunga untuk nyekar ke makam-makam keluarga di jokja, di depan warung bunga tersebut tertulis papan nama:
"Warung Makan Roh Halus".

Konon... hare gene sgalanya serba butuh duit. Jangankan yang masih hidup, orang mati pun juga butuh duit bo! Bagaimanapun bagi insan beragama perubahan dari hidup ke mati tak perlu ditakuti karena insan beragama memiliki keyakinan akan masuk syurga, suatu lokasi yang jauh lebih mewah dan indah dari lokasi manapun di dunia fana ini. Dengan demikian insan beragama sudah pasti ingin masuk syurga. Bagaimana mungkin akan masuk syurga bila tak melalui mati khan?!

Salah satu ciri manusia hidup adalah menginginkan perubahan-perubahan... meskipun diinginkan ataukah tidak setiap manusia pasti mengalami perubahan. Hanya saja tidak semua manusia mau atau mampu bersabar menanti perubahan-perubahan yang diinginkan tersebut terwujud menjadi kenyataan. Akibat yang parah adalah manusia tersebut bisa menjadi putus asa dan frustasi oleh persepsi-persepsi dan ilusi-ilusi yang dibangunnya sendiri. Semakin lama persepsi-persepsi dan ilusi-ilusi tersebut menggumpal menjadi keyakinan akan kebenaran yang solid dan valid bagi dirinya untuk mewujudkan keinginan perubahan-perubahannya.

Keinginan perubahan bisa bermacam-macam sebagaimana prioritas kebutuhan manusia juga bermacam-macam baik diakuinya ataupun tak diakuinya. Ada yang membutuhkan materi, kesehatan, kenyamanan, pengakuan (narsis), popularitas (populis), kepuasan ego (egois), dll. Terlepas kebutuhan mana yang paling pantas diprioritaskan menurut garis tangannya, bagi saya keputus-asaan dan frustasi gabungan kebutuhan populis dan egois yang paling membahayakan banyak orang lain disamping dirinya sendiri.

Ciri-ciri manusia tipe ini adalah memiliki keyakinan tinggi akan ilusi-ilusi yang dibangunnya sendiri sehingga diyakininya persepsi-persepsi dan ilusi-ilusinya tersebut kebenarannya valid menurut dirinya meskipun belum tentu ada atau kalaupun ada maka minim sekali orang lain yang memberikan validasi atas kebenaran yang diyakininya tersebut. Meminjam istilah kalimat populer, orang tersebut biasanya... nafsu mendominasi dan tak rela orang lain yang dominan, keras kepala, tak pernah mau mengalah apalagi merasa kalah, tak pernah mau merasa salah apalagi disalahkan, close minded terhadap saran apalagi kritik, rigid terhadap perbedaan-perbedaan pendapat orang-orang atau pihak-pihak lain, rigid terhadap perubahan pendapat ataupun keyakinan, serta tak mau tahu atas kenyamanan atau bahkan kesalamatan orang-orang atau pihak-pihak lain akibat keyakinannya demi mengejar kepuasan nafsu egonya sendiri.

Apabila lingkup nafsu kepuasan egonya itu untuk dirinya sendiri, maka akibat buruk dari frustasi bagi orang itu paling-paling MPP (Mati Pelan-Pelan) ala pecandu narkoba OD ataupun hidup di bui ala koruptor dan penjahat jenis lainnya. Orang lain yang terkena dampaknya adalah keluarga dan kerabat dekat saja. Namun bila nafsu populisnya juga tinggi atau dengan kata lain bila efek nafsu kepuasan egonya itu ingin juga dirasakan oleh banyak orang atau pihak lain, maka akibat buruk dari frustasinya bisa-bisa berdampak bagi masyarakat luas.

Seperti halnya kasus aksi pengeboman di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton lalu oleh Nurdin M. Top dkk, adalah contoh kasus dari ungkapan keputus-asaan dan frustasi dari segelintir orang dalam mengejar kebutuhan egois dan sekaligus kebutuhan populis dalam konteks diatas. Mereka adalah orang-orang yang putus asa dan frustasi untuk berikhtiar menuju perubahan keinginan-keinginannya sendiri tanpa mau memperdulikan protokol ataupun tatanan yang telah susah payah dibangun dan disepakati bersama. Mereka juga tak peduli apakah aksi-aksinya tersebut menumbalkan kenyamanan ataupun kesalamatan orang-orang lain akibat kebutuhan kepuasan ego dan kebutuhan populisnya dalam mengumbar nafsu untuk menebarkan efek dari cara-cara berexpresi dirinya.

Memang, siapapun mengakui tak ada protokol, tatanan atau hukum yang sempurna mengakomodir kebutuhan segenap umat, namun tidak lantas berarti bahwa protokol, tatanan dan hukum tersebut tidak bisa mengalami perubahan-perubahan yang semakin lama akan semakin bisa memuaskan banyak pihak dan semakin meminimalkan minoritas yang belum terpuaskan.

Untuk merubah sistem yang paling jitu adalah dari dalam sistem itu sendiri. Misalnya, apabila sesorang memang betul-betul berniat melakukan perubahan dalam bidang hukum maka ia seharusnya belajar dan bekerja keras agar ia dipercaya oleh mayoritas sebagai orang yang layak berpartisipasi sebagai "ring 1" dalam melakukan perubahan dalam bidang hukum. Begitu juga bila menginginkan perubahan-perubahan dalam bidang-bidang lainnya, seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, dll. Bukannya malah membangun persepsi dan ilusi berdasarkan interpretasi sendiri yang bahkan bisa memporakrandakan kepentingan banyak orang karena merasa putus asa atau frustasi bahwa perubahan yang diinginkan tak bakalan terwujud bila melalui jalur prosedur yang berlaku atau bila mengikuti common sense. Dengan demikian jalur yang dipilihnya adalah jalur yang nggak make sense bagi kebanyakan orang.

Banyak diantara kita yang sering mendengar dari para orang yang mengaku dirinya sebagai inspirator ataupun motivator melalui berbagai media, baik dari buku, radio, tv sampai status-status facebook agar jangan takut berubah... jangan tak berubah... jangan takut berubah...

Namun menurut hemat saya, semangat jangan takut berubah tidak lantas mengumbar nafsu untuk berubah tanpa batas. Masih memerlukan kearifan atas dampak-dampaknya bagi kepentingan orang lain, baik dampak-dampak itu kita ingini maupun tidak kita inginkan. Seperti halnya ada banyak pihak yang tidak atau belum bisa menerima publikasi pornografi dan porno aksi karena mereka memandangnya publikasi tersebut vulgar meskipun para pelaku pornografi dan porno aksi tersebut berkeyakinan tak pernah berniat merugikan mereka yang tak menyukai kevulgaran. Begitu halnya dengan porno emosi dimana seseorang atau sekelompok orang mengumbar nafsu egonya untuk mempublikasikan expresi kemauannya sendiri secara vulgar tanpa pernah mempertimbangkan perasaan atau kenyamanan bahkan keselamatan orang-orang lain. Akibatnya ada orang-orang lain yang merasakan diteror oleh kevulgaran publikasi expresi kemauannya tersebut untuk menuju perubahan yang diinginkan oleh para pelaku porno emosi tersebut.

Banyak orang boleh saja mengutuk terorisme, namun kita tak lantas harus menjadi lebih hina dari para teroris tersebut dengan mengumbar nafsu sumpah serapah, mengumpat atau bahkan meniru pola-pola pikir atau bahkan pola aksi dan pola expresi emosi ala teroris dalam menebarkan teror, meskipun dalam lingkup yang lebih kecil sekalipun. Setiap manusia menginginkan perubahan seperti yang diharapkan maka diperlukan kearifan dalam mempublikasikan expresi atas kemauan perubahan yang kita inginkan.

Telaah ini saya tulis terutama untuk menasehati diri sendiri agar saya tak terlalu konslet untuk mulai berubah dari mabuk fesbuk ke dunia blog lagi setelah cukup lama saya tinggalkan tanpa perantara. Selanjutnya, jangan takut berubah kecuali berubah menjadi takut.
Selain takut berubah menjadi takut maka di dunia fana ini tak ada takut lain yang layak ditakuti, misalnya: takut ngeblog lagi, takut puasa, takut nafsu, takut berbeda, takut perbedaan, takut pembedaan, takut dibedakan, takut terbedakan, takut ... ... ...

Ah, sudahlah... mungkin saya masih kebawa nuansa film Ci(n)ta aja. Satu-satunya film dewasa non bule dan film indo non kanak-kanak yang main di Blitz kemaren. Ada juga sih film dewasa indo lainnya yaitu Merantau, namun masih mengandung bule-bule gitu-gitu de. Ini pertama kalinya saya nonton film dengan spek kayak gini di bioskop sejak.... (*lupa*). Mumpung belum puasa nonton film dewasa dulu lah karena takutnya..... *halah* kok masih ada takut-takut lain lagi ya?!

Puasa bukanlah sarana latihan untuk menghindar dari nafsu karena nafsu adalah bagian dari rahmat Illahi yang wajib disyukuri. Puasa bukan pula sarana untuk mengekang ataupun menahan-nahan hawa nafsu karena kalo ditahan dan ditahan teruuusss ... ... lama-lama bisa meledak malah bisa mengundang marabahaya. Puasa adalah media pembelajaran agar kita bisa lebih arif dalam mengendalikan nafsu daripada hanya sekedar mengumbar nafsu tanpa kontrol sama sekali.

Bagi sobat-sobit yang beragama islam, selamat menjalankan perubahan dari pola makan harian legacy ke pola makan religi ala ramadhan 1430-H. Semoga juga berubah pola kearifan kita untuk mengendalikan nafsu-nafsu yang sebelumnya merugikan diri sendiri ataupun orang lain menjadi hasrat dan semangat untuk menebar amal kebajikan yang jauh lebih bijak dan bermanfaat dari sebelum berubah. Mohon maaf lahir batin yaa....

Monday, June 08, 2009

Stop Perang Neo, Wujudkan Neo Indonesia

Rupanya lakon film trilogi Matrix bernama Neo yang jagoan ngeles peluru (bullet dodging) kembali naik daun populeritasnya. Banyak orang merasa jago ngeles secara Neo getto loh.

Pertama Neo Liberalisme atau akhir-akhir ini sering disingkat sebagai Neolib tiba-tiba merupakan istilah yang amat populer di masyarakat. Isyu ini mulai mencuat ke berbagai media massa paska penunjukan secara resmi Budiono sebagai Cawapres SBY. Ada yang bilang isyu ini sengaja dibesar-besarkan oleh pihak-pihak yang berseteru karena kepepet tak punya modal lain selain modal nekat kebelet menjatuhkan citra figur seorang Budiono yang notabene satu-satunya wajah baru di Pilpres 2009 ini. Namun ada juga yang bilang betapa bahayanya Neolib ini bagi kesejahteraan rakyat dan menuduh Budiono sebagai antek Neolib.

Seiring dengan populeritas istilah Neolib, muncul istilah baru lain yaitu Neo Feodal. Bila istilah liberal mengacu kepada kesamaan dan kebebasan hak siapapun untuk berpolitik, berdagang, dll, maka istilah feodal lebih mengacu kepada faktor bibit unggul. Keturunan pedagang pantasnya mah berdagang sajalaaah... Sedangkan pucuk pimpinan negeri pantasnya dijabat oleh keturunan tokoh-tokoh nomer satu negeri yang sedikit banyak telah berjasa bagi nusa bangsa. Sejarah dan legenda Indonesia pada umumnya istana-sentris sehingga nyaris tak pernah menceritakan kisah seorang rakyat jelata yang mampu membuat negara mendulang kejayaan di masanya. Namun banyak juga kisah keturunan raja-raja yang tak mampu mempertahankan status quo dinastinya atau malah membuat negara hancur berantakan. Artinya ada yang pro dan ada juga yang kontra soal pentingnya faktor keturunan bibit unggul bagi pasangan Capres/Cawapres ini.

Selain istilah Neolib dan Neo Feodal, ada lagi Neo ORBA. Istilah ini jauh lebih mudah difahami oleh masyarakat awam ditujukan kepada pasangan Capres/Cawapres dari partai mana yang selama era yang disebut sebagai era Orde Baru selalu mendominasi suara PEMILU. Saat ini istilah ORBA sudah berkonotasi buruk terutama bagi sebagian masyarakat di Jakarta dan kota-kota besar lain paska demo mahasiswa besar-besaran melawan rezim status quo dengan cara menuntut Soeharto mundur dari jabatan Presiden RI.

Intinya, baik istilah Neolib, Neo Feodal, dan Neo ORBA dimaksudkan sebagai ungkapan untuk menggambarkan kepada masyarakat akan ancaman keburukan dan keterpurukan bakal menimpa rakyat apabila pihak yang dituduh sebagai antek Neo-Neo tersebut berkuasa.

Kekhawatiran-kekhawatiran tersebut tentunya untuk menunjukkan kepada masyarakat bagaimana kepedulian mereka terhadap kesejahteraan rakyat. Masing-masing pihak sebenarnya sudah memiliki konsep yang diyakininya bisa mensejahterakan rakyat. Hanya saja ada yang merasa paranoid dengan konsep-konsep yang diyakini oleh pihak lain. Akibatnya bukan saling bergotong royong untuk sharing konsep namun malah saling menjatuhkan pihak lain, apapun konsep dan keyakinannya.

Di sebagian besar negara-negara Asia, termasuk Indonesia, figur pimpinan dan aparat pelaksananya jauh lebih dominan daripada konsep atau sistem yang diusung oleh pemerintahannya. Terlepas konsep atau sistem yang dianut apakah pro agamis, atheis, kapitalis, komunis, liberalis, sosialis, dll ada yang maju dan ada pula masa-masa terpuruknya.

Klaim pro ekonomi kerakyatan belum tentu menjalankan ekonomi kerakyatan secara murni dan konsekuen. Namanya juga sebatas Pro. Kalopun menjalankan sistem ekonomi kerakyatan (sosialis) belum tentu pejabatnya merakyat.

Buat apa pejabat dengan gaya hidup merakyat kalo tidak pernah bermanfaat bagi rakyat?! Boleh jadi pejabat yang merasa telah merakyat tapi hanya pro partai atau golongannya daripada Pro Rakyat. Bahkan bisa jadi para pejabat yang dipandang bergaya hidup borjuis hedonis malah lebih terasa manfaatnya bagi rakyat kebanyakan. Gaya hidup adalah hak pilihan setiap individu, sedangkan manfaat nyata bagi rakyat bisa dirasakan oleh rakyat itu sendri. Penampilan bisa saja membohongi, namun soal rasa... mana bisa bohong?!

Mayoritas rakyat yang bisa merasakan apakah segenap jajaran aparat pelaksana pemerintahan (dari presiden di istana sampai pejabat tingkat kecamatan ataupun kelurahan) lebih pro rakyat ketimbang pro konsep, sistem atau standard yang dianut oleh pemerintahan tersebut?!

Disinilah pentingnya profil moral dan mental kepribadian presiden dan wakil presiden sebagai figur pimpinan tertinggi di pemerintahan. Apabila figur pimpinan tidak pro rakyat, maka di Indonesia berlaku kurleb:
"Eh, ngapain repot-repot pro rakyat?? Bos-bos qt aj pada nggak pro rakyat kok. Enggak banget d...."

Andaikatapun pimpinan dan elit pejabat memiliki figur berprofil pro rakyat pun belum tentu otomatis menular sampai ke aparat pelaksana di paling bawah yang langsung berhubungan dengan masyarakat.

Dengan demikian profil figur pro rakyat saja belum mencukupi bagi seorang presiden RI, namun juga harus memiliki kemampuan membuat segenap aparaturnya memiliki moral dan mental pro rakyat juga.

Soal apakah moral dan mental pro rakyat telah sampai ke aparat pelaksana paling bawah yang langsung bisa dirasakan oleh masyarakat luas tentunya masing-masing individu bisa merasakannya sesuai dengan situasi, kondisi, lokasi, dll.

Contoh bagi masyarakat di Jakarta, apabila sedang berkendaraan tiba-tiba disemprit Pak Polisi di jalanan apakah kita akan merasa bersyukur telah diselamatkan dari mara bahaya kecelakaan akibat pelanggaran peraturan lalu-lintas ...... ataukah kita akan merasa ketakutan karena akan berdosa turut menghalalkan dana haram bagi kebutuhan keluarga polisi tersebut? Apakah presiden RI yang terpilih nanti bisa membuktikan polisi ataupun jajaran aparat sampai paling bawah memiliki jiwa melayani yang lebih pro rakyat dibandingkan pro nafsu egonya sendiri?

Bagi banyak orang contoh ini hanyalah satu contoh kasus yang teramat kecil bila dibandingkan dengan berbagai permasalahan negeri ini. Kembali kepada individu masing-masing, layanan masyarakat mana yang paling bisa dirasakan dari para aparat pelaksana dari sistem pemerintahan. Apabila moral dan mental aparat pelaksana selama ini dinilai minus maka tentunya mengharapkan perubahan ke Indonesia yang sama sekali baru dibandingkan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Bukannya malah para tokoh-tokohnya pada kisruh tawuran sendiri saling menjatuhkan dan meneladani main ledek-ledekan secara perang Neo-Neo di berbagai media massa yang semakin membingungkan masyarakat awam saja.

Ada wacana yang menyebutkan bahwa kekisruhan perang Neo-Neo tersebut menjelang Pilpres ini ujung-ujungnya gara-gara ambisi 3 jenderal yang disebut sebagai Jenderal SUWOTO (SUsilo, praboWO, wiranTO) dalam adu strategi memenangkan game Pilpres 2009 ini. Omaigaaat... mosok sih negara jadi ajang permainan dengan rakyat sebagai taruhannya?! Dooh.... ?!@&#*

Sudah sejak jaman pra jahiliyah yang namanya pertikaian gara-gara ambisi elit politik terbukti hanya menyengsarakan rakyat kebanyakan disamping dendam kesumat antar trah ningrat turun temurun.

Andaikata ketiga Jendral SUWOTO tersebut mau bersatu padu dan sharing strategi untuk satu Neo yaitu Neo Indonesia, tentunya akan amat membantu bangsa dan rakyat indonesia mewujudkan the real Neo Indonesia.

Dengan demikian tidak perlu lagi saling fanatik masing-masing strategi dengan menjatuhkan pihak lain namun justru mengsinergikan strategi, misalnya dengan slogan:
LANJUTKAN MAKIN PRO RAKYAT, LEBIH CEPAT LEBIH BAIK

Sebagai manusia biasa aja yang sudah teramat 'nnegh dengan pertikaian-pertikaian para CaPres (Calo-calo Pilpres) menjelang Pilpres ini, kita hanya bisa berdoa, semoga Tuhan mencukupkan 1 putaran saja pilpres 2009 secara sukses dan damai. Kita harus mau mengakui bahwa ketiga pasangan adalah jagoan-jagoan terbaik negeri saat ini, karena itulah mereka yang maju. So siapapun yang nantinya menang wajib kita dukung sepenuhnya untuk membutikan bahwa bersama-sama kita bisa mewujudkan Neo Indonesia.

Thursday, May 21, 2009

Biang Sial Transportasi NAHASional

Hercules C-130 via Mabes TNI
Turut berduka cita yang mendalam atas malapetaka Hercules C-130 nahas di Magetan kemarin. Semoga malapetaka transportasi yang menewaskan korban jiwa seperti ini, apalagi yang lebih parah lagi, jangan sampai terjadi lagi.
Dari tadi malam nonton TV belum begitu terasa apa-apa selain keprihatinan yang mendalam atas petaka jatuhnya pesawat nahas Hercules C-130/A-1325 milik Skadron Udara 31 (Transportasi dan Logistik) Halim Perdanakusuma TNI AU.

Namun tadi pagi sewaktu membaca status facebook seorang temen seangkatan SMP atas korban teman SMP-nya yang bernama Bugi, tiba-tiba sekujur tubuh berasa mak griiing...... sehingga saia pun ngomen seapaadanya atas status temen tersebut.

Saia mau akui ataupun tidak, faktanya kapasitas memori saia memang amat terbatas. Praktis saia sudah lupa nama-nama temen SMP. Namun perasan mak gring yang amat kuat itu memaksa otak mengingat-ingat kembali nama-nama temen SMP yang bernama Bugi.... Bugi... hmm...... yang mana ya?

Hanya satu dua nama teman yang masih tersisa di ingatan. Salah diantara satu teman itu adalah seorang sahabat saya selama SMP bernama Benediktus Bugi Dewantono. Tak ada lagi nama Bugi lain seangkatan di SMP. Cek cek sana-sini....

Dan ternyata... .... bener. Letkol Bugi yang ada dalam daftar korban tewas tak lain tak bukan adalah pemilik nama ini. Meskipun saia belum memperoleh info apapun mengenai CV Letkol Bugi, but I feel very very sure about it! Lunglailah sekujur badan terkenang persahabatan kami dalam belajar dan bermain bersama saat SMP. Semoga keluarga Letkol Bugi, istri dan kedua putra-putrinya di Malang tabah menerima kenyataan ini.

.... .... ...
.... .... ...

Banyak pernyataan pejabat terkait di berbagai media menyebutkan kenyataan ini bukan sebagai suatu kecelakaan namun petaka atau kesialan. Dengan demikian pesawat itu tidak disebut sebagai pesawat celaka namun lebih disebut sebagai pesawat yang gi sial atau pesawat nahas.

Kecelakaan lebih mengundang konotasi akan kejadian akibat dosa-dosa manusia terkait baik purchase error, human error, management error ... ... atau error apalah namanya, yang jelas kecelakaan tidak semata-mata disebabkan Tuhan yang gi error. Misalnya disebabkan tak ada prioritas terhadap keselamatan jiwa manusia, tak pernah berhasil menganggarkan baik anggaran untuk upgrade, update, maintenance rutin ataupun pengadaan baru sebagaimana rekomendasi umum, dlsb. Untuk membuat sebuah konklusi sebab musabab suatu kecelakaan pada umumnya amat rumit dan banyak hal yang harus dikaji dari berbagai segi.

Beda halnya dengan kesialan. Tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menghindar dari takdir Tuhan. Kecelakaan datang sendiri tanpa pernah diundang, dan bisa jadi tak pernah datang meskipun sudah dipersiapkan segala atribut penyambutan kedatangannya. Pembahasan kesialan pada umunya jauh lebih simpel daripada kecelakaan. Gak butuh macam-macam logika ataupun teori antisipasinya, bahkan kebanyakan follow-ups kesialan cukup mengandalkan intuisi saja. Selanjutnya... pasrah.

Bila kecelakaan adalah suatu kejadian tak terduga yang wajib dianalisa dan diriset sebab musababnya secara menyeluruh sebagai dasar plening follow-ups agar tak pernah terulang lagi kejadian serupa atau yang lebih parah lagi, maka dalam kontek kesialan, semua itu "tak sungguh-sungguh dibutuhkan". Kalo mo mati sih... mati aja, dimana aja n kapan aja. Hidup mati ditangan Tuhan.

Pencegahan kesialan tak diperlukan dalil-dalil logis dan ilmiah ataupun teknologi canggih. Kalopun diperlukan follow-up maka cukup buang biang sialnya. That's all n then... dismiss.


Pada saat ini perhatian masyarakat sedang terpusat pada sosok Jenderal Djoko Santoso sebagai Panglima TNI. Apakah seorang panglima memiliki kemampuan mencukupi kebutuhan semua angkatan dalam TNI masa kini? Bila seorang PangLima belum juga mampu barangkali.... dibutuhkan seorang PangEnam X Y.......

Namun jatuhnya pesawat nahas di desa Geplak, kecamatan Karas, kabupaten Magetan, Jatim, yang menewaskan 101 jiwa manusia ini belum tentu menjatuhkan seorang pangLima atas tanggungjawabnya memenuhi kebutuhan semua angkatan dalam TNI. Sejak beliau menjabat per 28/12-2007 (baru) pertama kali inilah diberitakan di berbagai media masa sipil terjadinya kesialan dalam transportasi militer yang menewaskan lebih dari 100 jiwa manusia.

Ada sobat bloger yang mengingatkan petuah Bung Karno via komennya di blog ini, JAS MERAH yang maksudnya kurleb: Jangan Sekali-kali melupakan, memlintir ataupun memanipulasi sejaRAH. Wajah bangsa bisa dilihat dari sejarahnya. Melupakan sejarah berarti melupakan wajah bangsa sendiri.

Gak usah mengingat-ingat ke masa lalu mengalir sampai jauh, selama pemerintahan SBY saat ini saja daftar kesialan-kesialan dalam tranportasi sipil yang secara skala memakan tumbal lebih dari 100 jiwa manusia sbb.:

  • 5/9-2006: Pesawat nahas Mandala Airlines RI 091 hancur meledak di Medan telah menewaskan 148 jiwa manusia
  • 8/7-2006: Kapal Motor (KM) barang nahas Digoel tenggelam di perairan Arafura telah menewaskan lebih dari 200 jiwa manusia
  • 29/12-2006: KM feri nahas Senopati Nusantara tenggelam di perairan kepulauan Karimunjawa telah menewaskan minimal 628 jiwa manusia
  • 1/1-2007: Pesawat nahas Adam Air KI-574 lenyap entah dimana telah menewaskan 102 jiwa manusia

Seiring lenyapnya pesawat nahas Adam Air ini juga telah membuat blog nahas ini mati suri selama lebih dari 2 tahun. Mati surinya blog nahas ini pun bukan sebagai kecelakaan yang tak disengaja melainkan suatu kesialan belaka wuehehehe.......

Meskipun telah dianggap sebagai kesialan-kesialan yang secara frekuentatif dan kuantitatif total jumlah jiwa manusia yang tewas amat fantastis dalam periode kurang dari 1 tahun tersebut diatas, namun belum tentu segera mendapat follow-ups sedini mungkin, at least membuang biangnya kesialan.

Data sejarah transportasi sipil diatas belum termasuk terbakarnya pesawat nahas Garuda Indonesia GA 200 di Yogyakarta yang telah menewaskan 22 jiwa manusia pada 7/3-2007. Meskipun secara kuantitas jumlah yang tewas kurang dari 100 jiwa manusia, namun secara kualitatif diantara penumpang pesawat nahas ini terdapat beberapa tokoh nasional dan rombongan jurnalis yang akan meliput kunjungan mentri luar negeri ostrali Alexander Downer ke Yogyakarta. Salah satu tokoh nasional nahas yang tewas adalah tokoh pandu/pramuka nasional yang juga mantan rektor UGM (1986-1990) Prof. Dr. Kusnadi Hardjosumantri.

Tepat 2 bulan kemudian yaitu pada 7/5-2007, Ir. M. Hatta Radjasa dimutasikan dari menteri perhubungan ke mensesneg. Boleh jadi berbagai kesialan terjadi di kesekretarisan negara namun yang lebih penting.... mudah-mudahan sih tak pernah terjadi lagi kesialan-kesialan di bidang transportasi sipil yang bisa menewaskan ratusan jiwa warga sipil per kejadian.

Sebelum jatuh tempo 100 harinya, yaitu pada puncak peringatan Hardiknas 26/5-2007 di komplex candi Prambanan, Presiden SBY menyerahkan penghargaan Satya Lencana Sewaka Wiraya Roha atas jasanya sebagai pencetus dan pejuang penerapan KKN (Kuliah Kerja Nyata) bagi para mahasiswa Indonesia. Penghargaan tersebut beserta tabungan yang nilainya tak dipublikasikan diterima oleh istri almarhum Ny. Nina Sutarina Koesnadi.

Setiap bangsa memiliki caranya masing-masing untuk menuntaskan permasalahannya.

Terlepas make sense apa kagak, fakta sejarah menunjukkan setelah itu sampai saat ini, bila dibandingkan masa sebelumnya maka bisa dikatakan tak ada lagi berita heboh nasional tentang kesialan-kesialan yang menewaskan banyak korban jiwa dalam bidang transportasi sipil.

Kesialan transportasi nasional pesawat militer nahas di Magetan yang bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional kemarin tentunya diluar skop bidang tranportasi sipil sehingga tak termaktub dalam jobdes menteri perhubungan. Namun banyak orang percaya sial atau nahas tak hanya menimpa transportasi sipil saja. Dunia penerawangan pun mulai berspekulasi selama biang sial saat ini belum juga di ruqiah, apakah akan menyusul nahas-nahas di TNI selanjutnya?

Kejadian sial atau nahas tak bisa diproyeksikan ataupun diprediksi secara ilmiah selain diterawang saja. Nggak make sense for common sense. Indonesia getto loh.