Wednesday, December 20, 2006

Geliat Generasi Genesis

Sudah lama rasanya tidak dengar celotehan dan ketawa he he he khas siaran M97 di FM 97.1 MHz yang telah berganti menjadi Radio Dangdut TPI (a.k.a Suara Monalisa). Radio M97 oleh penggemarnya yang tergabung dalam milis sejak 1999 sering disebut sebagai radio Claro karena lebih fokus di musik Classic Rock seperti Genesis, Led Zeppelin, Rush dsb. Sejak agustus tahun lalu radio ini terdepak dari kelompok Masima yang beranggotakan antara lain Prambors, Female dan Delta oleh pemiliknya Malik Sjafei Saleh, yang saat ini merupakan pemilik saham mayoritas kelompok Mahaka Media yang beranggotakan antara lain koran Republika, Harian Indonesia dan JakTV.

Sebelum bubarnya M97, saya pernah ikut kopdar (kopi darat) yang biasanya diadakan di cafe Barbados, Kemang, setiap 2 bulan sekali pada hari Rabu malam minggu ke-3. Masing-masing musik favorit dipentaskan bergantian yang dijadikan tema kopdar. Saat kopdar Led Zeppelin, kelompok musik asal Inggris, saya terheran-heran menyaksikan peralatan musik yang saya belum pernah tahu sebelumnya. Kalo alat musik di pencet, dipetik, ditiup, dipukul saya pernah tahu. Tapi saya baru tahu kalo ada alat musik yang dimainkan tanpa tersentuh anggota tubuh sama sekali dari jarak beberapa meter. Saking herannya saya sempat maju ke panggung, ternyata saya tidak menemukan trik-trik sulap seperti tali, kawat atau kabel penghubung ke pemainnya. Selain itu juga tidak ada transmiter nirkabel yang dibawa oleh pemainnya. Dari googling akhirnya saya baru tahu, alat itu namanya thereminvox atau theremin yang diciptakan oleh orang rusia bernama Leon Theremin. Itu adalah satu-satunya saya kopdar dengan tema Led Zeppelin Nite, selain itu Rush saja.

Kelompok musik Rush dari Canada tidaklah begitu populer di luar penggemar siaran M97. Saya pun baru tahu Rush saat masuk SMA 1 Jogja. Setiap SMA punya kelompok musik favorit masing-masing yang setidaknya dipentaskan saat acara perpisahan akhir tahun. Kelompok musik favorit belum tentu menjadi kegemaran mayoritas murid. Sebenarnya banyak juga teman-teman penggemar Genesis, masalahnya di kalangan pelajar SLTA saat itu Genesis telah terlanjur menjadi ikon bagi SMA 3 secara turun temurun. Alasan yang sering saya dengar waktu itu kenapa SMA 1 lebih memilih Rush, konon karena lirik-lirik Rush mencerminkan musik intelektual dan banyak yang mencerminkan kepedulian lingkungan. Selain itu musik Rush bukan jenis musik cengeng dengan alasan tidak ditemukan kisah-kasih cinta seperti kebanyakan lagu kelompok musik ataupun penyanyi lainnya.

Selulus SMA, secara kebetulan saya diterima di jurusan elektro ITB. Entah apalagi alasannya, sampai saya lulus Rush merupakan musik wajib saat ada acara dengan pentas musik jurusan. Oleh karena itu malam ini saat bertemu dengan para senior sejurusan sempat terlontar obrolan tentang Rush, padahal acara malam ini jelas Genesis Nite.

Acara ini diselenggarakan oleh Ikatan Alumni ITB sebagai pembuka tradisi M97 yaitu kopdar setiap 2 bulan sekali pada hari Rabu malam minggu ke-3 dengan tema yang diambil dari kelompok musik classic-rock tertentu. Genesis dipilih karena kelompok musik dari Inggris ini mulai menggeliat dengan rencana menggelar konser di beberapa negara Eropa mulai Juni 2007 tahun depan. Bahkan di beberapa negara, tiket sudah habis terjual saat ini. Ada semacam harapan, jika sekiranya para pemain Genesis yang jauh lebih tua dari penggemarnya saja mau dan bisa bangkit kembali tentunya generasi penggemarnya juga bisa lebih bergairah dan bersemangat dalam menyongsong tahun depan. Sebagai MC adalah Febrira Ifeb Galib yang mantan penyiar M97. Reviewer progressive rock Gatot Wijayanto nampak menikmati betul menyanyikan beberapa lagu. Sebenarnya semua penonton nampaknya memang sangat menikmati acara malam ini yang penuh sesak tapi akrab, buktinya mereka betah sampai akhir acara.

Menurut daftar hadir, mayoritas yang hadir adalah angkatan 1984 yang umumnya memiliki shio Ular Kayu. Mungkin mereka lebih antusias karena host acara ini adalah Bubi (Tambang 84), yang permainan musiknya pernah mencengangkan penonton di acara reuni angkatan 84 agustus lalu di Bandung. Bisa juga mereka datang karena tidak mau kehilangan peruntungan dalam menyambut tahun Babi Api 2007. Barangkali selama ini, para shio ular ini merasa tidur didalam liangnya untuk ganti kulit, dan saat ini dianggap saat yang tepat untuk mulai menggeliat mencari peruntungan kembali di tahun depan.

Di penghujung acara, saya baru 'ngeh ternyata Budi Raharjo juga hadir saat MC menyebutkan namanya untuk mempersilahkan ikutan mainin gitar listriknya. Wah rasanya kok jadi kebangetan tenan belagunya aku. Meskipun pernah lihat fotonya di blognya bahkan pernah ikutan komentar, tapi saya betul-betul pangling-ling tenan. Saya memang belum pernah ketemu setelah dia lulus. Takut kuwalat sama orang tua, sebelum pulang saya sempatkan meminta maaf. Mungkin dia keheranan buat apa saya minta maaf atau bahkan tak tahu siapa saya. Biasalah, adik kelas biasanya ingat siapa saja kakak kelasnya, tapi sebailknya seniornya jarang banget tahu adik kelasnya, apalagi kalau selisih angkatannya jauuuh..... (hehe...)

Okelah pren, simak demo Mr. Jimmy Page mainin thereminvox atau theremin ini, alat musik berirama tanpa sentuhan sama sekali...

Tuesday, December 19, 2006

Telekomunikasi Masa Depan

Seorang rekan tiba-tiba bertanya:
"Can you tell me in human language: what happens after 3G?".

Pertanyaan ini membuat saya terpana, bukannya tentang apa yang ditanyakan tapi apa yang dinyatakan. Saya pun jadi bertanya-tanya sendiri apakah selama ini orang-orang memandang jawaban atau penjelasan saya terlalu teknis atau teknologis yang tak mudah dipahami oleh manusia? Pertanyaannya muncul mungkin gara-gara ia pusing setelah mengikuti remote eLearning tentang "next generation networks" kemaren sore, atau mungkin juga gara-gara ia pening membaca berbagai ulasan tentang teknologi komunikasi 3G di Kompas kemaren.

Apapun alasannya, biasanya saya respek sama orang yang tak takut-takut menyatakan kesulitannya dan tak malu-malu menanyakan keingintahuannya. Hanya saja saya sempat bingung juga, saya musti menjawab bagaimana tanpa terminologi-terminologi teknis ataupun jargon-jargon khusus agar mudah dipahami oleh siapa saja. Akhirnya saya jawab saja:
"You will be able to pick up phone calls thru your remote control, Sir".

Siapapun tahu remote control biasanya untuk TV, dan orang pun tahu telepon. Jawaban saya tersebut membuatnya nampak terkejut. Selagi saya mikir-mikir istilah bahasa bagaimana yang paling mudah dipahami, HP-nya berdering. Setelah itu ia buru-buru pergi karena dipanggil sama atasannya. Save by the bel. Lega deh rasanya. Hehe..

Sulit juga rupanya menyamakan bahasa atau istilah kerennya protokol signaling. Produk-produk IM (Instant Messenger) publik seperti Yahoo Messenger Voice, Skype, Google Talk, ICQ Voice meskipun sama-sama menggunakan protokol internet (IP), jangankan saling bicara, saling menelpon saja belum bisa. Untuk bisa menelpon extension PABX di kantor secara internal, saat ini masih harus satu merek antara IM private dan PABXnya. Itu pun setahu saya belum semua merek PABX memiliki produk IM private yang biasanya merupakan bagian dari aplikasi kolaborasi multimedia terpisah. Bisa jadi masih sulit dibayangkan bagaimana orang bisa menerima telepon lewat remote control saat ini. Namun sulit tidak harus berarti mustahil.

Perbedaan bahasa atau signaling lebih banyak dikarenakan rancangan yang berbeda-beda dari pabrik pembuat sementara lembaga standarisasi belum berhasil menghasilkan keputusan rekomendasi atau aturan protokolnya. Perbedaan-perbedaan protokol ini diramalkan bisa diminimalkan di masa mendatang, apalagi jika pabrik tersebut bergabung menjadi satu manajemen perusahaan. Namun ramalan tanpa didasari oleh data atau statistik kadang-kadang sulit dipahami.

Setidaknya ramalan komunikasi masa depan telah mengakibatkan statistik tentang investasi di bisnis komunikasi menunjukkan perubahan data yang amat signifikan dalam setahunan belakangan ini. Perusahaan pelelangan online eBay mengakuisisi Skype seharga USD 2.6 milyar pada September tahun lalu. Bulan berikutnya, gantian Ericsson membeli aset Marconi sebesar USD 2,1 milyar. Cisco (merek terkenal dalam komunikasi data) membeli Scientific-Atlanta (provider layanan IPTV) seharga USD 6,9 milyar tunai februari lalu. Juni lalu Nokia dan Siemens bagian komunikasi carrier (bukan Enterprise dan ritel) memutuskan merger menjadi Nokia Siemens Networks. Sebulan yang lalu Presiden AS George Bush pun akhirnya merelakan Lucent Technologies bergabung dengan Alcatel dengan deal sebesar USD 11 milyar menjadi Alcatel-Lucent (jangan kebalik jadi: LucAtel, hehe..). Perusahaan baru ini segera membeli bisnis radio UMTS Nortel seharga USD 230 juta awal bulan ini. Pembelian ini memantapkan posisi Alcatel dibelakang Ericsson dan Nokia Siemens Networks dalam bisnis jaringan 3G. Sementara Nortel akan lebih memfokuskan bisnisnya di jaringan 4G.

Diluar bidang industri, investasi besar-besaran juga terjadi di kalangan operator. Di Amerika SBC membayar USD 16 milyar ke AT&T untuk mengadopsi namanya, kemudian AT&T membeli BellSouth sebesar USD 67 milyar. Sementara itu, kompetitornya Verizon membeli MCI USD 8,4 milyar. Di Eropa, Telefonica Spanyol membeli O2, operator nirkabel di beberapa negara Eropa sebesar £ 17.7 milyar (USD 31,6 milyar). Operator kabel Inggris, NTL, membeli Virgin Mobile £ 962 juta. April lalu Vodafone, operator komunikasi bergerak terbesar, menjual bisnisnya di Jepang ke operator broadband setempat Softbank seharga 1,8 triliun yen (USD 16,4 milyar) untuk dijadikan aliansi bisnis dengan Yahoo! Jepang.

Sebagai gambaran perbandingan, menurut BPS surplus perdagangan indonesia tahun ini diperkirakan meningkat menjadi USD 32 milyar dari USD 21.9 milyar tahun lalu. Sedangkan menurut Bloomberg, diperkirakan surplus perdagangan tertinggi 2006 diraih China sebesar US$ 168 miliar.

Investasi industri telekomunikasi dunia besar-besaran tersebut dengan sendirinya mengarah ke keseragaman bahasa untuk memudahkan integrasi keanekaragaman peralatan. Bisa jadi nanti-nantinya telepon, HP, radio, TV, komputer memiliki merek yang sama dan saling kompatibel, sehingga lebih memudahkan interkoneksinya.

Dulu saluran dan peralatan penerima layanan komunikasi (telepon tetap, fax dan selular), informasi (internet) dan hiburan (radio dan TV) masih harus berbeda-beda. Saat ini sudah mulai ada Speedy yang menggunakan saluran yang sama untuk telepon tetap dan internet. TelkomVision dan KabelVision menggunakan saluran yang sama untuk layanan internet dan hiburan (TV). Di sisi media, layanan internet sudah bukan lagi sekedar media informasi seperti awal-awalnya namun bisa untuk media komunikasi maupun hiburan berupa streaming radio dan TV juga. Di sisi peralatan penerima, sudah banyak HP yang dilengkapi dengan penerima radio. Dengan operator yang sama, nomor telepon dan HP bisa diprogram menjadi satu penomoran, seperti nomor Flexi dan StarOne yang mengikuti penomoran lokal (tanpa prefix 0 atau 9).

Saat ini pun satu operator sudah menyediakan multi-layanan (tidak sekedar multi-media), baik layanan komunikasi, informasi maupun hiburan. Apabila semua sentral layanan ini satu merek atau saling kompatibel sampai ke sisi pelanggan, bukannya tidak mungkin semua layanan tersebut berujung di satu terminal. Terminal ini bisa saja sebesar TV LCD 34" yang selain bisa untuk nonton TV sekeluarga, juga dilengkapi penerima radio MW/AM/FM (jika bosen nonton TV), bisa pula terdapat fasilitas-fasilitas internet seperti ngimil dan browsing (misalnya berita, jadwal, belanja, ramalan bintang, dll). Tidak tertutup kemungkinan TV tersebut dilengkapi dengan kamera untuk video calls ataupun video conference secara realtime, apalagi cuma sekedar untuk phone calls atau conference, ataupun untuk MMS atau SMS.

Jadi, jika nantinya ada teman menelpon saat nonton TV, tak perlu beranjak dari tempat duduk. Tinggal pencet tombol hijau di remote control di meja samping anda, kemudian bicaralah secara biasa karena sebenarnya di remote control tersebut sudah dilengkapi dengan handsfree, full duplex, build-in amplifier, acoustic echo and noise canceller with Automatic Microphone/Matrix Mixer. Lhoh, lhoh, lho...


Tambahan:
Seorang teman lama menilpun sekitar jam 7 pagi ini untuk menambahkan, Ericsson memutuskan membeli Redback seharga 2,1 milyar USD. Orang pun maklum, pembelian ini tentunya untuk menghadapi kompetisi di bisnis peralatan komunikasi data dengan Cisco di pasar ritel dan enterprise, serta Juniper dan Nortel di pasar Carrier.
Sumber: Bloomberg: Ericsson to Buy Router Maker Redback for $2.1 Billion
(Updated: 19-12-2006)

Monday, December 18, 2006

Enaknya Jadi Orang Bego

Berhubung hujan rintik-rintik saat jam makan siang ini, berombongan kami makan di warung tak jauh dari kantor. Saya bertanya ke seorang rekan dari bagian engineering apakah seorang rekan bagian saya sudah menanyakan problemnya dalam menginstal aplikasi di IP PBX untuk keperluan demo. Rekan bagian saya tersebut baru mutasi kurang dari 2 bulan yang lalu, setelah pengalaman beberapa tahun di bagian engineering sampai menjadi supervisor. Menurutnya, rekan bagian saya tersebut sudah berdiskusi dengan beberapa anak buah seniornya tapi ia mengaku tak mengetahui apa yang didiskusikannya.

Seorang rekan bagian engineering lainnya menyahut bahwa ia mengetahui saat rekan bagian saya bertanya ke rekan-rekan engineer lain. Kemudian rekan ini menceritakan bahwa rekan-rekan engineer pada terheran-heran, kenapa anak itu menanyakan problemnya ke mereka bukannya bertanya ke saya. Ceritanya, anak itu menjawab bahwa saya:
"Bisanya teori doang".

Karuan saja, cerita ini disambut ketawa terbahak-bahak rekan-rekan serombongan makan siang. Saya sempat terkesima mendengarnya, walaupun akhirnya terpaksa ikutan tertawa. Sebenarnya pernyataannya tidak salah, kalau saya bisa melakukan sendiri tentunya saya tak perlu repot-repot memintanya untuk mengerjakan tugas tersebut. Belum habis ketawa rekan-rekan, seorang rekan yang lebih senior membego-begokan saya. Menurutnya, saya bego betul dalam memberi perintah, dengan perumpamaan saya menyuruh mengirim email tapi tanpa pernah tahu bahwa yang disuruh tak tahu caranya menghidupkan komputer.

Tambahlah seru ketawa rekan-rekan, entah mentertawakan ketololan saya atau sekedar kegelian mendengar perumpamaan yang tak pernah terbayangkan itu. Seperti biasanya, mengetahui kalau ada rekannya yang ternyata bego, mereka berebutan memberikan petuah dan nasihat sukarela tentang cara-cara memberi perintah yang baik, benar dan bagus. Ada pula yang menyatakan bahwa mungkin anak itu stress setelah mutasi ke bagian saya selama ini gara-gara tak pernah paham apa yang saya maksudkan.

Tak tahu harus bilang apa, saya hanya bisa bertanya asal-asalan ke mereka:
"Mana yang lebih stress, punya bos bego atau punya anak buah bego?".

Tak terdengar jawaban beberapa saat, sampai akhirnya ada rekan yang berargumen:
"Yang jelas, siapapun yang bego tidak stress. Orang bego khan tak pernah tahu apa saja yang tidak atau belum beres, gimana bisa stress?! Sebaliknya orang yang tidak bego akan stress karena selalu mikirin macam-macam ketidakberesan yang diketahuinya".

Tak ada tanggapan. Mungkin mereka setuju atau mungkin pada malas mikir, atau mungkin juga mereka pikir lebih enak jadi orang bego yang tak perlu mikirin hal beginian.

Sunday, December 17, 2006

Semoga Lekas Sembuh

Berdoa agar senantiasa dianugerahi sehat jasmani, rohani dan akal bagi diri sendiri merupakan kewajiban bagi umat beragama. Membesuk dan mendoakan kesembuhan bagi handai taulan yang sakit juga sudah merupakan hal yang biasa tanpa pandang agama. Dosen ilmu telepon saya di Telematika ITB, Pak Sigit Haryadi, menulis resep Doa Buat Yang Sakit.

Barangkali banyak yang berpendapat dan berkeyakinan doa adalah ghaib dan tak perlu dipertanyakan lagi keefektifannya ataupun probabilitas keberhasilannya. Namun ternyata pendapat dan keyakinan umat manusia berbeda-beda.

Metodologi renungan, tafakur, kontemplasi dsb diyakini memiliki peluang akan mendatangkan inspirasi jawaban secara gratis dan tanpa perlu bersusah payah melakukan usaha-usaha penelitian segala. Namun keyakinan itu tidaklah begitu mudah diterima oleh sebagian umat manusia lainnya yang memilih bersabar menunggu jawaban secara sains atas studi ilmiah.

Setelah dinanti-nanti begitu lama jawaban atas pertanyaan pengaruh doa terhadap kesembuhan pasien, akhirnya jawaban tersebut disimpulkan oleh tim peneliti yang diketuai Dr. Herbert Benson, seorang dokter spesialis jantung yang menjabat direktur Mind/Body Medical Institute - dekat Boston, MA, USA. Laporan penelitiannya dipublikasikan di American Heart Journal volume 151(4) April 2006 lalu.

Penelitian tersebut telah menelan biaya USD 2.4 juta, sebagian besar didanai oleh John Templeton Foundation yang mendukung studi-studi sains tentang spiritualitas. Pemerintah Federal Amerika telah mengucurkan dana lebih dari USD 2.3 juta untuk penelitian tentang doa sejak tahun 2000. Setidaknya ada 10 penelitian resmi tentang pengaruh doa selama 6 tahun belakangan ini, hasilnya berbeda-beda.

Survey dilakukan terhadap 1802 pasien yang menjalani operasi bypass jantung di enam rumah sakit. Setelah 30 hari sejak operasi dilakukan, hasil survey dianalisa. Para peneliti menyimpulkan tidak ada perbedaan antara pasien yang telah didoakan kesembuhannya maupun yang tidak didoakan sama sekali.

Bagaimanapun juga, pencegahan penyakit lebih baik daripada penyembuhan terlepas dengan doa, obat atau terapi lainnya. Untuk pencegahan penyakit ini barangkali Johannes Leendert van der Giessen punya resep mujarab. Di kediamannya di Rotterdam, hari ini ia merayakan ulang tahun ke 107 (lahir 17/12-1899) dan sebagai manusia tertua di Belanda. Ia ditemani oleh puteranya yang berusia 65 tahun, mengaku masih merasa sehat dan tak pernah sakit. Bahkan setiap malam masih bisa naik tangga ke loteng untuk tidur. Namun ia mengakui sudah tidak bisa membaca lagi karena penglihatannya sudah tidak bagus, sebagai alternatifnya dia menonton televisi. Selebihnya merokok dengan pipa cangklong.

Saturday, December 16, 2006

Layanan Informasi Kesehatan Terpadu

Pagi ini mengantar orang tua ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan CT scan. Terdapat protokol-protokol dalam proses pemeriksaan medis ini, seperti meminum segelas cairan sesuai takaran yang diajarkan oleh perawat.

Sebelumnya beliau menjalani pemeriksaan colonoscopy. Bagi orang awam kesehatan seperti saya, cara pemeriksaan ini merupakan proses dengan alkes (alat kesehatan) yang canggih. Usus dan segala isinya dapat diamati dengan menggunakan semacam robot seperti ular. Robot itu bisa jalan, berhenti, belok dan bahkan meliuk-liuk dalam usus dengan dikendalikan oleh seorang dokter seperti main game PS-2, dan didamping perawatnya yang mengulur-ulur benangnya seperti main layangan. Bahkan, mirip dengan ular betulan, robot tersebut bisa menyemburkan cairan berwarna kebiru-biruan. Selain itu robot tersebut juga dilengkapi kamera (entah berapa Mega pixel) yang bisa melihat secara real-time apa saja disekelilingnya. Seperti main game VRML (Virtual Reality) tapi dokternya tidak perlu pakai kacamata elektronik khusus, cukup melihatnya di layar monitor sebesar TV yang kemudian direkam sebagai video logger. Hasil rekaman ini bisa di-print seperti foto berwarna yang jelas banget gambarnya.

Sepertinya pemeriksaan colonoscopy ini mirip dengan apa yang pernah dijalani isteri saya beberapa tahun yang lalu (kalau tak salah sekitar 7 tahunan yang lalu) di sebuah rumah sakit swasta di bilangan Kemayoran. Waktu itu namanya bukan colonoscopy tapi endoscopy. Yang kelihatan paling beda adalah dari mana masuknya si robot tersebut. Jika colonoscopy dari dubur, sedangkan endoscopy dari mulut. Mungkin colon berarti dubur, sedangkan endos berarti mulut. He he... (ngawur poll)

Menurut dokternya, belum semua rumah sakit di Indonesia memiliki alkes seperti ini. Kemudian ketika saya tanyakan dimana saya bisa memperoleh informasi atau data-data rumah sakit mana saja yang sudah memiliki alkes seperti ini, beliau pun tak bisa mejawab pasti. Saya pikir tanpa transparansi atau keterbukaan informasi dan data kesehatan seperti ini, bisa saja para dokter merekomendasikan rumah sakit mana paling sesuai selera atau kepentingannya pribadinya tanpa memberikan alternatip pemeriksaan lain ke pasiennya.

Saat ini rasanya masih susah betul bagi masyarakat untuk memperoleh informasi di bidang kesehatan. Paling tidak, tak semudah di bidang telekomunikasi, jika kita ingin menanyakan informasi nomor telepon dan alamat seseorang atau perusahaan tinggal telpon saja ke 108 di hampir seluruh kota di Indonesia, selanjutnya operator yang akan berusaha mencarikan informasi dan datanya untuk penelpon.

Meskipun Menteri Kesehatan sudah ada sejak republik ini merdeka, sampai di jabat Bu Dr. Siti Fadilah Supari saat ini pun belum pernah ada layanan informasi kesehatan yang dapat diakses secara mudah dan transparan oleh masyarakat dimana saja seperti layanan informasi di bidang telekomunikasi itu. Sebegitu rendahnyakah prioritas layanan informasi kesehatan terpadu bagi masyarkat luas?? Tidak harus dimulai dari informasi kesehatan yang canggih-canggih amat, namun bisa dimulai dari informasi kesehatan sederhana yang sekiranya sering dibutuhkan oleh masyarakat seperti nomor telepon, alamat dan jam buka dari rumah sakit, apotik, praktek dokter, UGD, RSUD, dsb. Sistem informasi kesehatan ini pun juga bisa dikembangkan ke informasi kesehatan lainnya seperti fasilitas alkes tertentu ada di rumah sakit mana saja, harga rawat inap, dan saya kira masih banyak lagi informasi kesehatan yang berhak diketahui oleh masyarakat secara mudah dan transparan.

Selanjutnya layanan informasi kesehatan ini bisa dikembangkan sebagai layanan informasi kesehatan terpadu, dimana content informasi kesehatan bagi masyarakat terpadu dengan informasi dan data khusus bagi kalangan medis maupun dinas kesehatan lainnya. Jika perlu, dengan menggunakan nomor bebas pulsa maka para dokter di puskesmas terpencil pun tak perlu ragu-ragu menelepon ke pusat layanan informasi kesehatan nasional mengenai masalah yang dihadapinya ke operator layanan informasi kesehatan nasional.

Barangkali hal demikian sudah tercakup dalam sistem informasi kesehatan nasional dan daerah (SIKNAS dan SIKDA). Kalaupun betul demikian, berarti diperlukan langkah-langkah sosialisasi saja agar masyarakat luas bisa mengetahui nomor telepon untuk layanan informasi kesehatan tersebut. Namun dari googling sepulang dari rumah sakit, kelihatannya banyak pihak berpandangan bahwa masalah utama adalah pengumpulan dan update data khususnya data dari daerah. Bahkan ada yang berpandangan pengumpulan dan update data ini tergantung ada-tidaknya koneksi internet atau intranet (LAN/WAN). Lhoh?!

Jangankan puskesmas kecil di kota terpencil, sebelum wafatnya Pak Prof. Samaun Samadikun bulan lalu minta koneksi internet di RS MMC Kuningan Jakarta saja tidak bisa dipenuhi dengan alasan tidak ada fasilitas internet di RS tersebut kecuali koneksi khusus direktur utama.

Inilah masalah yang belum mampu saya pahami hanya dengan googling saja. Mungkin saya perlu kuliah di jurusan Sistem Informasi Kesehatan di UGM atau di perguruan tinggi lain agar mampu memahaminya. Masalahnya, saya sendiri tak yakin apakah saya masih memiliki kemampuan kuliah ataukah tidak.

Saat ini, di benak saya hanya terbayang, jika protokol pengumpulan dan update data sudah benar maka kondisi infrastruktur bukanlah suatu kendala yang berarti. Misalnya nih, kalaupun di daerah tersebut belum ada internet, ya diminta saja operator didaerah itu menelpon atau kalau perlu ditelpon secara periodik dengan sistem aplikasi komunikasi yang sering disebut sebagai telemarketing atau campaign outbound. Jika belum ada sambungan telepon Telkom, khan ada layanan GSM yang investasi BTS-nya umumnya lebih fleksibel daripada menarik saluran kabel. Jika dinilai investasi BTS tidak memungkinkan, bisa cukup dengan membeli pesawat layanan telepon satelit Byru. Kalau pun hal ini tidak memungkinkan, masih memungkinkan update via jasa layanan pos surat. Andaikata pos surat tersebut tidak datang tepat pada waktu yang telah dijadwalkan, tentunya ada log-log yang bisa dijadikan dasar untuk analisa dimana letak permasalahannya.

Setidaknya, andakaita belum bisa sampai taraf terpadu pun, sudah selayaknyalah layanan informasi kesehatan bagi masyarakat luas sudah merupakan bagian program dan strategi Departemen Kesehatan dalam mencapai target Indonesia Sehat 2010 yang telah dicanangkan sejak tahun 1999.

Friday, December 15, 2006

Pengakuan Prestasi

Oleh-oleh dari Qatar 2006Asian Games XV di Doha Qatar usai sudah. Banyak orang mengakui bahwa pesta olah raga ini merupakan Asian Games termegah dan termewah selama ini, kalaupun tidak mau mengakui sebagai penyelenggara tersukses. Tak heran ada desas-desus Qatar ingin menyelenggarakan pesta Olimpiade nantinya. Namun meskipun diakui prestasinya dalam membangun fasilitas perlombaan dan penyelenggaraannya, mau-tak-mau harus diakui Qatar belum mampu memenuhi minimum jumlah penonton untuk perlombaan sekelas Olimpiade.

Sebaliknya, dunia mengakui Guangzhou, sebagai penyelenggara Asian Games XVI tahun 2010, tak perlu bersusah payah dalam mencari penonton. Apalagi saat ini China daratan nangkring di rangking 1 dengan 165 emas, baru disusul Korea Selatan 85 emas, Jepang 50 emas, Kazakhstan 23 emas dan Thailand 13 emas. Belum lagi China bagian Hong Kong ikutan secara terpisah di urutan ke 15 diatas prestasi kontingen Indonesia.

Rakyat Indonesia harus bersyukur dan bangga karena Indonesia memperoleh urutan ke 22 dengan 2 medali emas setara dengan Mongolia yang terkenal dengan kaisarnya Jenghis Khan yang telah diakui dunia pernah memiliki daerah kekuasaan terluas sepanjang sejarah umat manusia. Jengis Khan ini adalah kakek Kubelai Khan yang merupakan cikal bakal Tiongkok setelah memindahkan ibukota Mongol ke kota Beijing yang menjadi ibukota Cina saat ini.

Apapun hasilnya, semua pihak harusnya mengakui bahwa kontingen Indonesia telah berjuang keras dalam mengais pengakuan prestasi pembinaan SDM dalam bidang olah-raga melalui adu prestasi jasmani ini. Bahkan dalam rangka mendukung kontingennya, Presiden RI pun menyempatkan ke Doha yang disambut oleh Ketua Umum Koni Agum Gumelar beserta jajaran Koni yang berada disana. Waktu itu sempat dibahas target yang bisa dicapai dengan biaya Rp. 100 milyar itu adalah 4 medali emas. Berarti kalo sekarang para atlit nasional mampu meraih 2 emas, berarti sudah tercapai target 50%. Coba saja, andaikata para atlit memperoleh medali emas beberapa kali lipat dari target, bisa-bisa masyarakat malah tak mempercayai lagi prediksi-prediksi dan janji-janji pemerintah untuk masa mendatang.

Dukungan Presiden dan Ketua Umum Koni terhadap kontingen Indonesia tentunya juga diikuti oleh doa restu masyarakat Indonesia. Bahkan tak kurang Menteri Pemuda dan Olah Raga, Adhyaksa Dault, mengajak ibunya untuk turut mendukung kontingen Indonesia langsung di Doha. Hadis Nabi, surga dibawah telapak kaki Ibu, bisa ditafsirkan bahwa doa Ibu adalah doa yang paling mujarab bagi anaknya. Namun di MMC (Main Media Centre) di Doha kemarin, Menpora mengakui pencapaian sebesar 50% merupakan kegagalan pihak-pihak diluar atlit dan masyarakat, yaitu pihak pemerintah, Koni dan pengurus besar cabang olah raga. Barangkali beliau mengakui bahwa hasil perjuangan para atlit dan doa restu masyarakat bukanlah suatu prestasi sehingga tidak perlu pengakuan prestasi

Thursday, December 14, 2006

Kekompakan Kelompok

Tanpa pernah diajarkan ataupun dikampenyekan "For My Country, right or wrong" sudah menjadi naluri sebagian besar umat manusia. Pemihakan terhadap kelompok yang lebih kecil dari agama, suku, daerah, golongan, trah keturunan ataupun keluarga merupakan naluri manusia dari dulu hingga kini. Tak heran filantropi masih kedengaran aneh bagi banyak orang. Filantropi adalah kegiatan menyumbang sesama manusia yang tak mampu tanpa diskriminasi kelompok apakah itu kelompok agama, suku, daerah, golongan ataupun trah keturunan. Tokoh filantropis yang terkenal adalah George Soros yang kemaren mengadakan seminar "Indonesian Economic and Political Perspective 2007" di Jakarta.

Terlepas setuju atau tidaknya filantropi, kekompakan atau team work memang menjadi harapan siapa saja termasuk atasan atau pimpinan. Ada anggapan bahwa semakin orang kelihatan antusias untuk membangun kekompakan kelompok maka orang tersebut akan semakin dibela oleh kelompoknya atau atasannya. Cara menunjukkan kekompakan bisa bermacam-macam dan berbeda-beda antar satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Mungkin karena pandangan kekompakan kelompok seperti itulah, kemaren lusa pada perayaan HUT ke-42 Partai Golongan Karya di GOR Segiri Samarinda, seorang tukang sound system digebuki beberapa kader Golkar kemudian digelandang ke pos keamanan dengan diiringi teriakan-teriakan sejumlah kader Golkar lainnya. Padahal tukang sound system tersebut sedang bekerja di bagian operator untuk memperbaiki mikrofon yang macet saat Ketua Umum DPD Partai Golkar Muhammad Yusuf Kalla mau berpidato. Yusuf Kalla mengganggap kejadian tersebut sebagai hal biasa saja,
"Biasalah, kalau jumlahnya banyak, selalu saja ada yang harus ditertibkan."
kemudian beliau melanjutkan pidatonya.

Rapat Paripurna Interpelasi DPRD Depok kemarin, akhirnya dimulai terlambat satu jam dari jadwal gara-gara menunggu 12 anggota fraksi PKS yang ternyata semuanya mangkir. Sudah dua kali ini semua anggota DPRD Depok dari fraksi PKS kompakan mangkir dari rapat DPRD . Rapat ini tentang kasus Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail, yang dilaporkan ke MA oleh kelima fraksi lainnya karena dugaan korupsi Rp. 211 juta. Belum lagi, mantan Menteri Kehutanan ini juga masih tersangkut sebagai saksi dugaan korupsi proyek lahan gambut dengan terdakwa utama Suwarna Abdul Fatah, Gubernur non-aktif Kalimantan Timur, yang mana proyek ini diduga telah merugikan negara Rp 348 miliar. Terlepas salah atau tidaknya Nur Mahmudi, terkesan para kader PKS di DPRD Depok ini kompak membelanya mati-matian kelompoknya, apapun alasan dan pandangan kelompok mayoritas di DPRD tersebut. Rapat DPRD itu akhirnya memutuskan memanggil kembali Nurmahmudi besok Senin minggu depan ini. Jika yang bersangkutan tetap mangkir, DPRD Depok mengancam akan menggunakan hak angket. Artinya setelah ikhtiar-ikhtiar musyawarah terhambat oleh kekompakan maka akan terjadi adu kekompakan.

Barangkali saat ini banyak yang berpandangan tidak kompak merupakan sikap yang tak terpuji atau amat memalukan.

Wednesday, December 13, 2006

Beras-Beras Kaca

Gelas-gelas kaca
Tunjukkan padaku
Siapa diriku ini
...
(whew!... ternyatah baru bbrp bulan paska kisah ini diposting dimare, di yutup dah ada yg ngaplot klip versi karokeannya neh)



Ini adalah penggalan lagunya Nia Daniati (versi keroncongnya ada di CD Sundari Sukoco). Saya ingat lagu ini saat tadi siang menunggu seseorang cukup lama di ruangan serba kaca di pinggiran pantai Ancol. Disitu direncanakan akan dibangun kompleks perumahan dengan fasilitas komplit. Lagu itu mengingatkan siapa diri saya ini, yang ternyata tidak ada apa-apanya. Mau berapa tahun pun saya menabung dengan gaya hidup sengirit-ngiritnya, rasanya tak bakalan mampu membeli satu rumah pun disitu.

Akhirnya yang kami tunggu datang juga saat waktu makan siang. Dari kartu namanya saya tak tahu pasti apa jabatannya, tapi sepertinya orang IT atau engineering. Kami pun bertemu sebentar saja. Selain kami sudah lapar, beliau juga sudah paham tentang perteleponan sehingga saya tak perlu menjelaskan panjang lebar lagi. Sewaktu pulang beliau menawarkan makan di restoran kaca di samping ruangan tempat kami bertemu yang dipisah oleh pintu kaca.

Katanya restoran ini terkenal enak, bahkan kalau malam minggu banyak orang pada sabar menanti antri karena kehabisan tempat duduk. Siang tadi saja restoran besar ini kelihatan penuh. Salah satu keistimewaannya, selain kokinya yang terkenal juga nasinya menggunakan beras organik. Katanya beras ini ditanam secara alami tanpa pestisida dan pupuk-pupuk kimiawi inorganik lainnya. Oleh karena itulah beras ini diyakini jauh lebih bagus untuk menjaga kesehatan. Semakin kecil unsur kimianya maka beras itu dipandang semakin organik. Masa panennya pun semakin lama maka semakin bagus, idealnya bisa 5 sampai 15 tahun. Saya masih suka salah sebut sebagai beras Ori, seperti penjual asesori HP saja: mau Ori atau Tw? (maksudnya barang original atau Taiwan).

Katanya sekarang sudah mulai banyak restoran yang membatasi nasinya hanya menggunakan beras organik. Karena banyaknya permintaan inilah, sehingga banyak petani padi di republik ini yang rame-rame tanam beras organik belakangan ini. Selain untuk konsumsi restoran dalam negeri, kebanyakan beras organik ini diekspor. Pantas saja harga beras biasa (non organik) belakangan ini naik drastis tak terkendali. Stok beras dalam negeri lama-lama menipis, padahal orang Indonesia pengkonsumsi beras. Tak kurang dari Gubernur DKI Sutiyoso, Menteri Perdagangan Mari Eka Pangestu, Menko Perekenomian Boediono tiba-tiba kepanikan gara-gara beras. Nah lo... nah lo....

Hmm... bisa jadi saat ini belum ada Sistem Informasi Beras Nasional sehingga stok beras tidak bisa diprediksi secara presisi oleh para pakar dan analis perberasan. Operasi pasar pun digelar dmana-mana. Entah apa efeknya, kalau pun mampu manahan naiknya harga beras, sampai berapa lamakah?

Orang yang kami temui tadi pun mendesak kami untuk mencicipi restoran kebanggaannya tersebut. Dari kaca pembatas, kelihatan restoran sudah mulai agak kosong. Saya tak melihat ada bekas-bekas asap, mungkin karena ruangan yang ber-AC itu tertutup rapat oleh kaca. Oleh karena itulah dengan segala daya saya berusaha menolak penawarannya secara halus.

Di perjalanan pulang, satu dari dua orang teman sempat menyatakan keheranannya mengapa saya tidak memenuhi penawarannya. Saya jawab saja:
"Hari ini saya lagi tak pengin makan nasi di restoran alias warung yang berkaca".
Teman saya satunya yang sama-sama sekantor, nampaknya bisa memaklumi apa yang saya maksudkan. Kami pun menuju warung soto mie yang terletak di jalan Lautze dalam di kawasan jalan Kartini. Menurut hemat kami, warung ini tidak bisa dikategorikan sebagai restoran karena memang tidak tertutup oleh kaca.

Tuesday, December 12, 2006

Pokoknya Tak Pernah Salah

Slogan orang Amerika "We may not always be right, but we are never wrong", sudah menjadi naluri sebagian besar umat manusia tanpa perlu program pertukaran dan penularan budaya. Hanya saja naluri tak pernah merasa bersalah bisa berlebihan sehingga bisa mengakibatkan tumbuhnya keyakinan dan pandangan bahwa orang lain pokoknya pasti dan selalu lebih salah - apapun alasannya.

Keyakinan tersebut lama-kelamaan bisa menimbulkan keyakinan pribadi bahwa pandangan pribadinya selalu lebih benar, lebih baik dan lebih bagus daripada orang-orang lain. Pendidikan dan pembelajaran mengasah akal dan wawasan untuk semakin mampu mengendalikan naluri alamiahnya. Kemampuan memadukan akal, wawasan dan naluri menjadikan seseorang semakin dipandang sebagai orang yang arif.

Meningkatnya angka peringkat ala Transparency International sebagai negara terkorup dari 85 pada tahun 2000 meningkat menjadi 130 dari 145 negara pada 2006 ini, bahkan tahun lalu mencapai peringkat 137 bisa menambah pesimistis dan apatis terhadap kearifan orang lain. Maraknya kampanye anti korupsi belakangan ini mungkin menyadarkan sebagian orang untuk meningkatkan kearifannya dalam mencari nafkah, namun bisa juga malah menimbulkan inspirasi dan intepretasi baru bagi yang merasa belum sempat korupsi, sedangkan bagi yang merasa telah lama tidak korupsi seolah mengingatkan pameo:
"Amenangi jaman edan, sing ora melu edan ora arep keduman"
(Dalam menghadapi jaman dimana banyak orang pada gila, yang tak ikut-ikutan gila maka tak akan kebagian).
Suatu konklusi prematur dan ngawur bila dikatakan pameo ini berdasarkan syair di buku Serat Kalatidha karangan R Ng. Ronggo Warsito yang terbit sekitar 1820-an.

Bagi yang belum pernah tahu Transparency International ataupun kampanye anti korupsi juga masih terbuka peluang terpupuk keyakinan bahwa orang lain tak pernah merasa lebih benar darinya. Berbagai sinetron dan acara-acara TV lain dari sejak dulu mempertontonkan orang arif, rendah hati dan santun lebih sering digambarkan sebagai orang miskin, susah dan sial melulu. Sedangkan orang yang punya sifat tak pernah mau merasa salah dan kalah, egois dan judes lebih sering digambarkan sebagai orang kaya, sukses atau terpandang. Rentetan terus-menerus berbagai acara TV yang bebas ditonton oleh segala lapisan (umur, pendidikan, tingkat penghidupan) masyarakat sedikit banyak tentunya berdampak terhadap pola pikir dan pola pandang pemirsanya terhadap kepantasan-kepantasan umum di republik ini.

Sore ini di depan pertigaan RS Budi Kemuliaan - Tanah Abang Timur, kendaraan saya yang sedang berhenti menunggu kesempatan masuk ke jalur utama tiba-tiba diserempet dari depan-samping oleh mobil box tertutup, jelek dan butut. Saya pun turun untuk mencari tahu akibat kecelakaan ini. Baru beberapa detik saya mencoba mencari-cari tahu, tiba-tiba terdengar umpatan-umpatan penuh emosi. Rupanya penumpang (bukan sopir) mobil box itu turun dan sedang memaki-maki saya di samping pintu mobilnya yang dibiarkan terbuka.

Lhoh?! Rupanya ia tak peduli siapa pun yang mendapat musibah, yang penting marah-marah duluan untuk menunjukkan bahwa ia sama sekali tak pernah salah sedikitpun. Saya pikir, tak akan banyak mendatangkan manfaat untuk berkenalan apalagi berurusan dengan orang macam beginian. Apalagi rintik hujan sudah mulai turun, menanggapi makiannya bisa-bisa malah semakin lama buang waktu percuma. Oleh karena itu saya pun memilih tak menanggapinya dan menunggu berhentinya makiannya. Mungkin karena ia pikir saya diam saja karena ketakutan akan kegarangan dan kesangarannya, ia pun (masih sambil maki-maki) naik kembali ke mobilnya sambil menutup pintunya keras-keras seolah-olah kesal sekali karena waktunya telah terbuang sia-sia. Belum sempat saya berucap, mobil itu sudah jalan lagi.

Barangkali inilah salah satu ciri budaya bangsa ini, masih banyak yang memiliki pola pikir bahwa pokoknya dirinya tak pernah salah - baik dengan atau tanpa alasan. Tak sedikit orang tua yang sengaja atau tak sengaja mendidik anaknya sejak dari kecil untuk memiliki pola pikir seperti ini. Misalnya, seorang anak kecil menangis setelah menabrak meja saat berlarian. Si orang tua sebenarnya mengetahui bahwa anaknya-lah yang salah karena saat berlarian tak memperhatikan meja tersebut yang dari sejak anaknya itu belum lahir memang sudah terletak disitu. Meskipun begitu yang dilakukan oleh orang tuanya bukannya mendidik anak itu agar tak lagi mengalami kecelakaan serupa, namun justru memukul meja yang tak bersalah itu sambil memaki-makinya,
"Ugh!.. Dasar meja nakal!".

Bisa dibayangkan, akan seperti apa anak itu jika besar kelak? Tak pelak lagi, tak akan beda dengan penumpang mobil box tersebut.