Membaca kolom sosok di Kompas, berjudul "Sang Penyelamat Muka Bangsa" membangkitkan rasa bangga sekaligus rasa malu. Rasa bangga karena tulisan ini berisi tentang sosok seorang remaja belasan tahun dari SMA Kristen Penabur 1 Jakarta bernama Jonathan Pradana Mailoa yang memperoleh prestasi yang dahsyat dalam Olimpiadi Fisika Internasional (OFI), mengalahkan para kompetitornya dari negara-negara dengan GNP yang jauh lebih tinggi termasuk China, Amerika Serikat, Korea dan Taiwan. Rasa malu karena judul tulisan ini mengingatkan ucapan mantan presiden AS, JF Kennedy, "Janganlah pernah bertanya apa yang telah diberikan negara untukmu, tapi tanyakanlah apa yang akan engkau berikan untuk negaramu".
Dalam sejarah keikutsertaan Indonesia dalam ajang OFI, para pelajar Indonesia memang boleh dibilang sudah menjadi langganan juara. Namun baru Jonathan inilah yang pertama kali memperoleh gelar The Absolute Winner yang menjuarai teori dan praktek sekaligus mengalahkan 385 siswa dari 84 negara. Ia pun dinobatkan sebagai The Best ASEAN Student. ckckck...
Jonathan telah menjadi salah satu bukti sejarah bahwa makanan, minuman dan gizi di Indonesia bisa melahirkan seorang bibit unggul yang tak kalah dengan bangsa lain, paling tidak dalam bidang sains. Melihat daftar asal daerah para pelajar juara adu sains tingkat dunia, bibit unggul ini tidak terbatas hanya dilahirkan di Ibukota saja namun juga dari berbagai daerah.
Meskipun demikian, jika dilihat dari asal SMU para pemenang medali OFI masih terbatas dari SMU tertentu saja dibandingkan puluhan ribuan SMU yang ada di Indonesia. Di Ibukota dan kota besar lebih cenderung didominasi oleh SMU negeri, sedangkan di kota kecil dan daerah lebih didominasi oleh SMU swasta. Masing-masing sekolah memiliki citra prestasi masing-masing yang secara langsung maupun tak langsung akan memberikan atmosfir tersendiri bagi para siswa-siswinya. Sebagai contoh, SMA Kristen Penabur 1 Jakarta tersebut dari dulu sudah dikenal luas lebih berprestasi dalam mencetak individu-individu juara, terutama dalam bidang sains tingkat internasional, nasional dan regional. Beda halnya dengan, misalnya SMA 1 Yogyakarta yang dari dulu dikenal luas lebih berprestasi dalam persentase penerimaan siswanya di perguruan tinggi negeri. Sekolah Unggulan baik tingkat kotamadya, provinsi dan nasional menjadi idaman pelajar maupun orang tua yang merasa putra-putrinya memiliki bibit unggul sesuai citra prestasi sekolah tersebut yang diakui masyarakat luas.
Disamping memiliki kualifikasi bibit dan bebet yang unggul, Jonathan juga telah digembleng berbagai soal fisika yang konon bobotnya setara dengan program magister doktor MIT, Massachussets (bukan Mbandung) Institut of Technology. Setiap Sabtu, ketika para ABG umumnya larut dalam acara liburan akhir pekan, di sekolah ia ikut klub fisika membahas soal-soal fisika dengan bobot setingkat universitas. Seperti di Universitas, setiap mata kuliah memiliki bobot penilaian tersendiri sesuai jurusan yang diambilnya, ia dan sekolahnya memiliki prioritas perhatian di bidang sains daripada bidang lainnya.
Penghargaan dan penghormatan seyogyanya juga diberikan kepada orang tua Jonathan, pasangan Edhi Mailoa dan Sherlie Darmawan, yang telah merelakan putranya dibatasi waktu bermainnya bersama teman-temannya, demi menyelamatkan muka bangsa dari keterpurukan prestasi dalam berbagai bidang. Keberhasilan tim olimpiade Indonesia tak bisa lepas dari besutan Yohanes Surya PhD, sarjana fisika UI 1986 kelahiran 6 Nopember 1963, yang telah dengan tepat memilih metodologi pemilihan putra-putri terbaik bangsa untuk dibesut menjadi juara di tingkat internasional. Barangkali sejak dulu kala sudah banyak bibit unggul di Indonesia, namun belum ada yang menemukannya. Menemukan bibit unggul diantara ratusan juta pelajar Indonesia bukanlah perkara sepele namun bukanlah pula hal yang mustahil. Paling tidak Yohanes Surya PhD telah membuktikannya melalui besutan-besutannya di TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) sejak 1993. Pada 20 Maret 2004, pada usia 40 tahun ia sudah memperoleh gelar professor melalui Sidang Terbuka Senat Universitas Pelita Harapan di Lippo Karawaci. Dua bulan setelah itu (16/5-2004), Kompas memuat wawancaranya dengan Salomo Simanungkalit tentang cita-citanya mempersiapkan peneliti Indonesia meraih Nobel tahun 2020. Sosok fisikawan indonesia populer lainnya, Prof. Pantun Silaban PhD, 1 dari 32 fisikawan teori Einstein besutan Peter Gabriel Bergmann, baru memperoleh gelar profesor dalam usia 57 tahun di ITB pada tahun 1995 dan telah memasuki masa pensiun per November 2005 lalu di usia 65 tahun. Sayang sekali, di tulisannya di Kompas, Salomo Simanungkalit tidak menyinggung sama sekali apa rokoknya Pantur Silaban di masa pensiunnya: Apakah masih GG Surya 16 ya?
Cita-cita Prof. Yohanes Surya untuk mempersiapkan fisikawan Indonesia yang tidak hanya sedahsyat Prof. Pantur Silaban, bahkan memperoleh Nobel 2020 sudah seharusnya didukung oleh semua pihak yang masih punya niat menyelamatkan muka bangsa. Ataukah barangkali kurikulum pendidikan di republik ini harus dirubah untuk mempersiapkan pelajarnya menjadi orang-orang seperti Yohanes Surya di bidang-bidang lainnya. Agar kelak lulusannya bisa memiliki kemampuan membesut bibit unggul diantara putra-putri terbaik bangsa untuk mengibarkan prestasi berkelas dunia atas nama bangsa Indonesia.
Andaikata kriteria 4B setara or beda-beda tipis bingit2, maka yang dibutuhkan untuk memenangkan kompetisi adalah Bejo alias keberuntungan coz niat, doa n ikhtiar segigih apapun adakalanya blom cukup menjamin kemenangan bila tak disertai faktor 5B tersebut
Saturday, December 30, 2006
Faktor 5B: Bibit, Bobot, Bebet, Besut + Bejo
Friday, December 29, 2006
Klaimer Klemar Klemer
Tadi pagi Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh SH(65) mengklaim kinerja Kejaksaan Agung sepanjang tahun 2006 bagus. Klaim ini didasarkan antara lain penanganan pidana korupsi naik 370 persen, jumlah uang pengganti yang berhasil dieksekusi 262,8 persen menjadi Rp. 1,602 triliun. Katanya klaim hasil kerjanya ini menjawab wartawan soal klaim Komite Pemberantasan Korupsi (KPK).
Ketua KPK Irjen Pol (Purn) Drs H. Taufiequrachman Ruki SH (60) tidak hanya mengklaim lembaganya maju, dengan dasar kemampuan menyelesaikan penyelidikan 28 kasus dari target tahun lalu yang hanya 25. Jadi selain angka perolehan juga menyebutkan target awal. Bahkan selain menyatakan tekadnya untuk menaikkan kinerja KPK secara kuantitas dan kualitas, Pak Ruki juga berani mempublikasikan angka-angka target (35 kasus) dan keyakinan (40 kasus) yang akan diraih lembaganya tahun depan. Suatu pernyataan yang tidak hanya layak dapat acungan jempol, namun juga wajib didukung segala pihak.
Kemaren lusa (27/12), Menteri Perhubungan Ir. M Hatta Radjasa (53) dalam acara refleksi di kantornya mengklaim bahwa Dephub (Departemen Perhubungan)
"Bukan sarang korupsi".
Klaim ini dalam rangka menanggapi hasil angka temuan hasil audit tahun sebanyak 3.586 yang lebih banyak dari temuan pada 2005 dimana audit (hanya) mendapatkan 2.252 temuan. Naiknya jumlah temuan justru mencerminkan kamauan Dephub untk lebih terbuka kepada masyarakat. Sayangnya beliau tidak bersedia menyebutkan angka target temuan audit tahun 2007 depan ini.
Saat Milad Ke-76 Jam'iyatul Wasliyah (14/12) di GOR Ranggajati, Cirebon, Menteri Agama H. Muhammad Maftuh Basyuni SH (67) menyatakan Depertemen Agama Pusat yang dulu pernah di klaim Gus Dur seperti pasar dan dikenal sebagai departemen yang paling korup, mengklaim saat ini DEPAG:
"Bebas KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme)".
Hanya saja beliau lupa jumlah persisnya berapa oknum yang telah ditindak selama tahun ini. Sedangkan mengenai DEPAG di daerah-daerah, beliau mengaku tidak tahu menahu karena tanggapannya:
"Kita bukan ahli kebatinan".
Ternyata terdapat berbagai macam gaya klaim-klaiman ini, yang intinya untuk memberikan kepuasan terhadap audience-nya tentang kondisi saat ini dan syukur-syukur bisa memberikan harapan untuk lebih baik lagi di masa mendatang. Selain mewakili institusi, klaim bisa juga mewakili kelompoknya atau bahkan pribadi.
Misalnya, "Saya dahulu sewaktu pertama menjabat tidak tahu menahu, atas dukungan kalian ...", berarti dia mengklaim setidaknya ia telah berusaha keras, terlepas apapun hasilnya saat ini. Atau contoh lain, "Berkat kerjasama diantara kita, kita telah berhasil..." secara tidak langsung merupakan klaim atas keberhasilannya dalam memimpin kelompok pendengarnya, terlepas apa atau seberapa besar perannya dalam keberhasilan tersebut.
Klaim seperti Ketua KPK yang sekaligus bisa menimbulkan harapan, apalagi disertai angka-angka, termasuk klaim yang langka. Tidak juga di pemerintahan atau BUMN, di perusahaan swasta pun jarang-jarang terdengar klaim, baik dengan lugas atau samar-samar, seorang atasan atas prestasi anak buahnya yang disertai dengan target dan keyakinan angka persentase kenaikan gaji yang akan diusahakannya di tahun mendatang. Masih lumayan atasan tersebut bersedia mengklaim keberhasilan timnya yang membanggakan hati para anak-buahnya.
Kalaupun tidak ada angka target ataupun keyakinan yang akan diraih tahun mendatang, klaim sering dinanti-nanti oleh pihak-pihak yang merasa berkepentingan. Tapi kalau klaim pun tak muncul-muncul juga maka bisa-bisa bikin gregetan banyak pihak. Ada banyak gaya juga dalam menyampaikan gregetan ini dalam penantian klaim yang lugas dan jelas disertai angka-angka sebagai bukti, misalnya, "Perbaikan belum mencukupi", "Ditunggu kenyataannya", dsb. Bahkan ada pula yang bernada seolah-olah mengancam, "Jika tahun depan belum juga mampu melakukan terobosan, maka .... ....".
Bagi sebagian orang mengklaim merupakan sesuatu yang sulit dilakukan, salah-salah bisa menimbulkan kesulitan, namun tidak melakukan klaim sama sekali bukan berarti terbebas dari segala kesulitan.
Thursday, December 28, 2006
Tanya Kenapa ataukah TanyaKen apa: Happy End
Ferry Surya Perkasa (33) alias Erik Salim alias Liem Pho Ce alias YM Serlingpa Dharmakirti Yongdzin Tulku Rinpoche, buronan atas kasus kematian penyanyi lagu "Aku Tak Biasa" bernama Alda Risma Elvariani (24) di kamar Hotel Grand Menteng, Matraman Raya, Jakarta Timur, akhirnya tertangkap di Singapore dan malam ini telah berada di Jakarta. Menurut Polisi, sehari setelah malam kematian Alda (12/12), ia kabur ke Singapura dari rumahnya di Jalan Kuta Indah K 18, Kelapa Gading, Jakarta Utara bersama kedua anaknya. Polisi menemukan shabu-shabu seberat lebih kurang 10 kilogram senilai Rp 20 miliar dan menyita sebuah Nissan X Trail B 8550 0 yang digunakan Ferry malam naas itu. Mobil Jaguar dan Mercy seri S 600 tak ikut disita.
Pasangan Ferry dan Alda sering terlihat menghabiskan waktu di Diskotek Crown di kawasan Glodok, Jakarta Barat hingga menjelang pagi. Mereka selalu memesan tempat khusus di balkon yang tidak sembarang orang boleh memesannya.
Penelusuran polisi akhirnya tertuju pada rumah di Jalan Gading Kirana No.33 Jakarta Utara, rumah milik Wisnu Perkasa (36), kakak kandung Ferry. Setelah terpaksa memberikan tembakan peringatan karena tugasnya dihalang-halangi oleh keluarga dan seisi rumah, akhirnya polisi menemukan dompet atas nama Wisnu Prakarsa dan tagihan pembayaran Hotel Grand Menteng tanggal 10 hingga 12 Desember. Menurut Wisnu, Ferry sudah 2 tahun ditinggal isterinya yang saat ini berada di Taiwan bersama kedua anaknya.
Disisi lain, malam itu (13/12) ibu kandung Alda, Halimah, juga diciduk Polisi sehubungan lapora penggelapan surat kendaraan bermotor atas laporan . Hari ini Halimah dilaporkan oleh Hasan Haki, warga Kampung Kadep, Desa Telajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor atas tuduhan penipuan Rp. 90 juta.
Sosok Ferry menjadi incaran utama polisi karena terlihat di CCTV hotel bersama 4 orang lainnya. Copy rekaman CCTV tersebut dikirim ke AS untuk diteliti secara ilmiah. Dari rekaman tersebut Polisi memburu wanita di sisi Alda. Diduga bernama Yanti, yang sebelumnya disebut-sebut sekretaris Ferry tapi belakangan disebut profesinya sebagai pembantu rumah tangga Wisnu Perkasa. Ternyata Yanti sudah lama tidak ikut keluarga Wisnu maupun Ferry sejak tahun 2000. Sekarang dia bareng suaminya, Aldo, dagang di Pulogadung.
Polisi kemudian mencurigai suster Maria Imaculata Medyana atau akrab dipanggil Meidy yang diduga bekerja di klub kecantikan Klinik Pro Vitalitas, Anti Aging Center, yang terletak di Kelapa Gading Boulevard Raya. Sekitar 3-4 KM dari rumah Ferry. Para karyawan salon itu bungkam saat ditanya tentang Meidy. Akhirnya penjelasan resmi datang dari perwakilan salon tersebut yang menyatakan Meidy sudah tidak bekerja di salon itu lagi sejak agustus lalu. Selain itu ia juga menyatakan tidak ada pasien bernama Alda dari data 5 tahun terakhir.
Akhirnya, suster Meidy dijemput enam petugas Polda Metro Jaya di Jalan Pramuka Sari I RT 12/RW 08 No 25, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu pekan lalu (16/12). Rumah bercat putih itu berlantai dua dan memiliki 15 kamar. Harga sewa kamar yang ditempati suster Meidy Rp 575 ribu per bulan. Sehari kemudian polisi akhirnya membebaskan Meidy, karena dia punya alibi kuat.
Lebih 5 tahun yang lalu, pada tahun 1999 konon Alda pernah dilabrak oleh Margaretta Wang, istri Ferry. Pada waktu "melabrak" Alda di sebuah klub kecantikan di kawasan Kelapa Gading, Margaretta ditemani mantan koordinator rumah tangga keluarga Ferry, Yanti. Sedangkan Alda bersama ibunya, Halimah. Karena Margaretta tidak bisa berbahasa Indonesia, maka Yanti yang menjadi penerjemah. Dalam kesempatan itu Yanti memperkenalkan bahwa wanita yang bersamanya adalah istri Ferry yang datang untuk meminta agar Alda tak lagi mendekati Ferry yang sudah mempunyai dua orang anak. Belum sempat Alda menjawab, Halimah buru-buru menyela. Ia langsung berteriak ke arah Margaretta Wang mengatakan bahwa kalo Ferry mendekati anaknya bukanlah salah anaknya yang memang cantik dan menarik tapi istrinya yang tak bisa jaga suami. Melihat majikannya diperlakukan seperti itu oleh Halimah, Yanti terlihat naik pitam dan beradu mulut dengan Halimah. Margaretta diam saja karena tidak mengerti apa yang diomongkan mereka.
Saat cerita itu dikonfirmasikan, Yanti membenarkan cerita itu. Dia mau diajak meskipun sudah tidak ikut keluarga Ferry karena ia kasihan sama Ibu Margaretta dan orangnya amat baik hati. Setahun sebelumnya, saat tahun terakhir ia bekerja di keluarga Ferry sekitar tahun 1998, Margaretta sering mengeluh kalau Pak Ferry sedang menjalin hubungan dengan Alda. Meskipun membantah cerita tersebut, Halimah mengakui pernah didatangi oleh istri Ferry dan juga mengakui bahwa jalinan cinta almarhumah anaknya dengan Ferry sudah berlangsung lama.
Seperti pendapat musyawarah untuk mufakat, bagaimanapun dan sampai kapanpun proses musyawarahnya maka hasilnya haruslah mufakat. Banyak yang berpendapat setiap cerita wajib berakhir dengan "happy end". Kita yang terbiasa menonton sinetron, kethoprak, kartun atau membaca novel, dongeng, komik lantas bertanya-tanya seperti apa happy ending-nya? Barangkali kisah non-fiksi ini akan diakhiri dengan adegan Ferry bertobat dan kemudian hidup bahagia bersama istri dan anak-anaknya. Namun kita belum tahu masih berapa lama dan berapa banyak lagi kisah-kisah yang akan disuguhkan media massa sebelum sampai adegan happy end tersebut.
Wednesday, December 27, 2006
Hayang Ngapung Ngawang Ngawang
Pertama kali saya mengetahui nama Google.com pada akhir-akhir tahun 1998 dari imil seorang anggota di milis Search Engine Watch yang waktu itu dimoderatori oleh Danny Sulivan yang telah mengundurkan diri akhir bulan lalu. Imil singkat tersebut memuji mesin pencari baru bernama Google.com, layanan sebuah perusahaan baru yang didirikan Larry Page dan Sergey Brin pada 7-11/1998, alumni paska sarjana Stanford University, berdasarkan proyek tugas akhirnya berjudul BackRub yang konon mulai dikerjakan sejak awal 1996. Saya belum pernah mendengar nama BackRub ini di daftar W3 Search Engine, sebuah proyek dari Universitas Jenewa di Swiss yang dikenal sebagai barometer mesin pencari saat itu. Proyek ini memang lebih fokus dalam mempelajari CUSI (Configurable Unified Search Interface, d/h CUI). Nama BackRub juga tidak pernah terdaftar di SiFMuG, suatu search tool yang berisi lebih dari 100 mesin pencari online berbagai jenis kategori.
Apa yang pertama kali saya rasakan saat mencoba Google (ßeta) adalah kemampuannya menemukan halaman paling updata yang mengandung masukan kata kunci pada halaman pertama. Belakangan saya baru tahu ternyata Google mengandalkan apa yang mereka sebut sebagai teknologi PageRank dalam kriteria algoritma pencariannya. Sebenarnya hal ini sudah luar biasa pada saat itu karena mesin pencari pada umumnya hanya merangking berdasarkan informasi tanggal update halaman web, namun metodologi ini tak dapat diterapkan di halaman-halaman web berbasis CGI yang mulai banyak saat itu.
Saya juga takjub akan kemampuan Google dalam mencari kata kunci sampai akhir kalimat. Padahal mesin pencari paling dominan saat itu AltaVista, sebagai media promosi kecanggihan teknologi produk perusahaan komputer raksasa Digital, hanya mengarsip halaman web dengan ukuran kapasitas yang jauh lebih terbatas di servernya. Server merek Digital memang amat populer waktu itu. Meskipun iklannya di Kompas satu halaman penuh hanya menyebut nama AltaVista, orang pun sudah tahu bahwa iklan itu promosi merek Digital. Salah satu proyek digitalisasi nasional di bidang perteleponan adalah pusat informasi 108 Telkom menggunakan server Digital.
Membaca jumlah halaman web yang disimpan di server Google untuk kata kunci yang umum saja sungguh menakjubkan, saya bayangkan ruangan server Google seluas lapangan banteng. Belum lagi kecepatan pencariannya yang kurang dari hitungan 1 detik, rasanya mustahil jika lokasi fisik servernya tidak tersebar di berbagai kawasan. Saya pun melongo dibuatnya, seberapa besar investasi awal Google ini?
Tak berapa lama Larry Page dan Sergey Brin yang berumur 30-an tahun itu segera menjadi tokoh fenomenal bagi generasi muda yang berhasrat kaya mendadak di dunia seperti Jeff Bezos, yang dalam umur 35 tahun sudah terpilih sebagai "Man of The Year 1999" ala majalah Time karena keterkenalannya sebagai penjual buku online Amazon.com. Konsistensinya dalam mengembangkan teknologi dan metodologi pencarian serta investasi lama-lama membuat banyak perusahaan search engines dan search tools pada berguguran. SiFMuG yang sempat menggoyang keimanan saya untuk beralih ke dunia perkomputeran (IT) dari telekomunikasi (ICT), dalam waktu singkat merosot drastis pendapatan iklannya sehingga akhirnya saya putuskan untuk reses dari internet. Hanya dalam waktu beberapa tahun saja Google tidak hanya mendominasi bisnis search engine saja, namun merambah ke bisnis bidang lain di internet. Pengunjung situs bisnis sharing video, YouTube, yang dibeli Google seharga USD 1,65 milyar bulan lalu tiba-tiba langsung melonjak drastis.
Dominasi Google nyaris tak ada yang mempersoalkannya. Istilah googling merupakan istilah yang umum saat ini bagi para netter yang tak lain adalah para googler. Bukan karena kebijakan proteksi, namum belum ada yang mampu menandinginya termasuk perusahaan raksasa Microsoft yang salah satu pendirinya Bill Gates dikenal sebagai orang terkaya no 1 di dunia sejak tahun 2000. Bahkan suasana komplex perkantoran pusatnya yang disebut googleplex yang konon membebaskan semua karyawannya untuk makan, minum, renang, ping pong ataupun main skateboard di kantor dan sering mengadakan pesta hura-hura seperti layaknya ABG malah mengundang minat banyak karyawan Microsoft dan perusahaan raksasa IT lainnya untuk bergabung di perusahaan yang terkenal dengan filosofi sentral: "Don't be Evil" atau "You can make money without doing evil". Sebuah filosifi yang terang-terangan menentang bisnis iklan-iklan banner yang waktu itu memang lagi marak-maraknya, tidak hanya terbatas di situs-situs porno dan crack saja namun juga di berbagai situs informasi.
Saat ini sungguh menyeramkan membayangkan seandainya Google tiba-tiba menutup layanan gratisnya untuk publik internet atau membatasi layanan gratisnya untuk kawasan tertentu saja. Dampaknya akan lebih terasa daripada MTNSMS.com yang pernah mendominasi layanan SMS sebelum menutup layanan gratisnya bagi jutaan anggotanya pada awal Maret 2002. Meskipun sampai saat ini belum ada situs lain yang bisa menandingi ketenaran MTNSMS.com, namun banyak orang pun memaklumi atas penutupan layanan SMS itu yang lebih sering digunakan untuk fun dan personal daripada bisnis. Sedangkan dominasi layanan Google dalam bisnis mesin pencari bukan lagi ketergantungan semua pengguna internet baik perorangan di rumah, warnet maupun kantor.
Oleh karena itulah, pemerintah Perancis, Jerman dan kalangan industri di Eropa bekerja sama mensponsori proyek pengembangan mesin pencari "backup" Google yang lebih dikhususkan untuk pencarian informasi Eropa bernama Quaro yang diresmikan april tahun lalu dengan dana mendekati USD 110 juta. Menurut Business Plan-nya sih, proyek ini direcanakan rampung awal tahun ini, namun sampai akhir tahun ini belum terdengar kabar rampungnya. Bahkan mulai awal minggu ini pihak Jerman mengundurkan diri dari proyek Quaro untuk mengembangkan proyek mesin pencari lain yang dinamakan Theseus.
Proyek Quero sebesar itu pun masih belum mampu menampakkan gejala-gegala sebagai alternatip dominasi mesin pencari Google, apalagi SiFMuG bikinan Hastu Wicaksono yang merupakan hasil iseng di kala senggang?! wkwkwk........
Sepertinya, untuk menjadi kompetitor Google saat ini, para pebisnis mesin pencari tidak cukup hanya mengandalkan modal pas-pasan saja. Jika tidak, seperti potongan syair lagu pop sunda "Hayang ngapung ngawang-ngawang teu boga jangjang" (Maunya sih bisa terbang melayang-layang namun tak punya sayap). Kalo gak salah (lupa) dinyanyikan Yanti Aryanto dalam lagunya berjudul Karunya' yang bahasa ABG-nya kini "Kacian dee lu..."
Tuesday, December 26, 2006
Bermain Tanpa Menjadi Pemain
Saya mendengar Pak Wiranto bikin partai dari omongan orang-orang setelah beberapa hari media massa ramai memberitakan. Saya pun jadi bertanya-tanya, apakah aksi show of force ke DPR untuk provokasi prestasi pemerintah saat ini oleh Pak Tri Sutrisno, Hariman Siregar, Adnan Buyung Nasution, dkk dalam rangka persiapan dukungan untuk partai ini dimasa mendatang? Bukankah Pak Wiranto sudah punya partai yang didirikannya akhir Mei tahun lalu dengan nama Partai Perhimpunan Kebangsaan?
Terlalu malas menebak-nebak, saya cari arsip berita di internet. Partai tersebut ternyata bernama Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) yang dideklarasikan pada hari Rabu 20/12/2006 siang di Hotel Kartika Chandra, Jakarta. Pada pendiri partai yang dipimpin oleh Pak Wiranto terdapat mantan Pangdam Wirabuana dan mantan Kasum TNI Letjen (Purn) Suaedy Marasabessy, mantan KSAL Laksaman (Purn) Bernard Ken Sondakh, mantan KSAD Jenderal (purn) Subagyo H.S, mantan Wakil Panglima ABRI Jenderal (Purn) Fachrul Razi, mantan Kapolri Jenderal (Pol) Chairul Ismail. Konon masih banyak lagi mantan jenderal yang tak mungkin disebutkan satu per satu disamping warga sipil sebagai deklarator berdirinya Partai Hanura ini.
Entah apa yang ingin dikesankan oleh para wartawan dengan penyebutan nama-nama tokoh jenderal sepuh tersebut. Diberitakan juga acara tersebut juga dihadiri oleh para tokoh nasional sepuh lainnya seperti Gus Dur, Tri Sutrisno dan Akbar Tanjung laksana sedang berlangsung silaturahmi eyang-eyang saja.
Berita yang mengesankan bahwa partai ini adalah partainya eyang-eyang mengherankan bagi masyarakat awam politik, apalagi bagi yang belum pernah terdaftar sebagai kader partai manapun di dunia seperti saya. Sulit dipahamai andaikata mereka yang tidak hanya ahli namun juga praktisi strategi dan siasat masih bersedia dicalonkan menjadi pemain politik di Pemilu 2009. Terlepas jadi calon pemain politik di MPR, DPR/DPRD, Menteri, BUMN, Gubernur, dll, apalagi menjadi presiden RI. Kalaupun para dewa-dewi di kayangan sedang kegerahan dan lagi pengin turun ke bumi, sudah sewajarnya jika seusia mereka ingin menjadi Prabu Kresna bagi para Pandawa atau Pandito Guru Durna bagi kerajaan Astina untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat banyak. Jika di olah raga catur menjadi sekondan atau di basket menjadi coach yang menganalisa dan mengatur siasat dan strategi demi kemenangan pemainnya.
Sepertinya ada yang belum atau tidak diberitakan media massa, siapakah kandidat andalannya untuk dicalonkan sebagai presiden RI? Bisa jadi para kasepuhan tersebut mendirikian partai baru ini karena saat ini telah menemukan satrio piningit, entah berasal dari langit atau dari kawula alit, yang sedang dipersiapkannya untuk dikeluarkan pada saatnya kelak. Saya pun jadi menebak-nebak seperti apakah satrio piningit yang telah dijagokan mereka? Apakah tipe seperti Raden Gatotkaca yang berotot kawat, bertulang baja, punya prosesesor minimum sekelas Core 2 Duo di otak kiri dan memori kapasitas tera byte di otak kanan, dan saat ini sedang digojlog di kawah Candradimuka? Ataukah tipe pemimpin perjuangan seperti Mahatma Gandhi yang konsisten berjuang tanpa kekerasan sampai akhir hayatnya meskipun beberapa kali dipenjara dan disiksa? Ataukah kombinasi sifat unggul keduanya? Yang jelas siapapun unggulannya, tentulah memiliki potensi populeritas di mata mayoritas rakyat disamping telah teruji ketangguhannya dan keteguhannya meskipun menghadapi berbagai cobaan, apalagi cuma menghadapi interpelasi, demonstrasi, kritik, dsb. Sulit sekali menebak-nebak siapakah gerangan andalan partai ini tanpa pernah terlibat didalamnya.
Namun rasanya bukanlah pilot senior Garuda bernama Pollycarpus Budyhari Priyanto (Polly) yang ramai diberitakan telah resmi keluar LP Cipinang kemaren jam 9 pagi setelah mendapat remisi khusus 3 bulan. Namun kenyataannya sampai malam ini keberadaan Pollycarpus masih misterius. Meskipun dikenai tuduhan pembunuhan berencana aktivis HAM Munir, namun kenyataannya MA menghukumnya 2 tahun penjara dikurangi masa tahanan untuk penggunaan surat tugas palsu, terlepas siapa yang membuat surat tugas palsu tersebut. Sejak awal kasus pengadilannyanya kelihatan misterius bagi kebanyakan orang sehingga memancing berbagai spekulasi dan asumsi berbagai pihak. Bahkan kasusnya ini telah sampai ke konggres dan senat AS serta pengadilan Belanda yang menunjukkan bahwa kasus ini luar biasa. Kemisteriusan ini bisa dijadikan alasan agar orang banyak berspekulasi bisa jadi Pollycarpus seorang yang nampaknya orang biasa tapi sebenarnya luar biasa, kelihatannya bodoh tapi amat pintar, bego tapi amat cerdas, gila tapi amat waras. Meskipun mengaku sejak kecil hidupnya penuh kesusahan dan telah terbukti berpengalaman masuk penjara seperti Xanana Gusmao, rasanya masih terlalu dini berspekulasi seorang Pollycarpus diorbitkan sebagai tokoh politik nasional yang akan dipopulerkan oleh partai Hanura.
Lantas, siapakah generasi muda yang akan diorbitkan saat Pemilu 2009 nanti oleh para eyang-eyang di partai Hanura? Saat ini generasi muda biasanya disangkutkan dengan ICT (Information & Communication Technology) yang tak terlepas dari internet. Kalaupun ia tak begitu menguasai ICT, tentunya banyak teman-temannya yang menguasai internet. Saya pun coba WHOIS domain hanura.com, hasilnya sbb:
Registrant:
PT Natari Ragananda
Jl. raya kebayoran lama no. 194A/4
Tebet Timur dlm VII / 2
Jakarta, DKI Jakarta 12220
ID
Domain name: HANURA.COM
Administrative Contact:
Desmon, Deni Whois Privacy and Spam Prevention by DomainTools.com
Jl. raya kebayoran lama no. 194A/4
Tebet Timur dlm VII / 2
Jakarta, DKI Jakarta 12220
ID
7207135 Fax: 7207749
Technical Contact:
Teknis, Tim Whois Privacy and Spam Prevention by DomainTools.com
Wisma 77 Lt. 15
Jl. Jend. S. Parman Kav 77
Jakarta, DKI Jakarta 11440
ID
62.216632363 Fax: 62.216602587
Registration Service Provider:
NamaDomain.com, Whois Privacy and Spam Prevention by DomainTools.com
+62-21-6632363
+62-21-6602587 (fax)
http://www.namadomain.com
This company may be contacted for domain login/passwords,
DNS/Nameserver changes, and general domain support questions.
Registrar of Record: TUCOWS, INC.
Record last updated on 19-Dec-2006.
Record expires on 19-Dec-2007.
Record created on 19-Dec-2006.
Domain servers in listed order:
NS2.INDEKOS.COM 65.61.132.243
NS1.INDEKOS.COM 65.61.132.240
Domain status: clientTransferProhibited
clientUpdateProhibited
NOTE: THE WHOIS DATABASE IS A CONTACT DATABASE ONLY. LACK OF A DOMAIN
RECORD DOES NOT SIGNIFY DOMAIN AVAILABILITY.
Berarti domain tersebut telah diregistrasi 3 hari sebelum deklarasi partai Hanura. Bisa jadi pemilik domain sudah mengetahui rencana acara deklarasi partai Hanura. Hanya saja saya tak tahu PT Natari Ragananda yang profil management di situsnya tak menyebutkan nama orang yang menjabatnya ataukah masih berupa lowongan. Saya pun tak mengerti mengapa pemilik domain ini mendaftarkan alamat administrasi dengan 2 alamat yang berbeda sekaligus. Mungkin alamat Tebet Timur dlm VII / 2 adalah workshop, warnet, ataukah pusat game komputer anak-anak? Sulit untuk memeperoleh gambaran jelas tentang generasi mudanya partai Hanura melalui metodologi WHOIS ini. Itu pun belum tentu hanura.com ada kaitannya dengan partai Hanura atau Hati Nurani Rakyatnya Pak Wiranto dkk.
Membaca judul headline Tommy Dirangkul Partainya Wiranto di koran Rakyat Merdeka pagi ini kembali mengundang perhatian. Setelah dibaca seksama sepertinya judul ini diambil dari jawaban pertanyaan wartawan ke Ketua DPP Partai Hanura, Elsa Syarif,
“Insya Allah, kita harapkan Mas Tommy bisa bergabung dengan kami”.
Tak begitu jelas siapa yang dimaksudkan apakah Tommy Suharto (Hutomo Mandala Putra) atau Tomy Winata yang mana kasus hukum keduanya pernah diurusinya sebagai pengacara.
Bagaimanapun juga, yang namanya partai dimana-mana sudah pasti mengharapkan, mau Tomi, Tommy, Titiek, Tutut, Tamara, Tuti dan siapaun juga untuk bergabung. Jelaslah meskipun sama-sama pernah merasakan penjara, namun Tommy jauh lebih populer daripada Pollycarpus dalam banyak hal. Hanya saja saat ini terlalu dini untuk menebak-nebak siapakah jago andalan yang akan dicalonkan nantinya oleh partai Hanura?
Siapapun yang jadi Krisna atau Durna atau siapapun para resi yang bermain bagi partai Hanura, serta terlepas apakah permainannya akan bergaya Pandawa yang mengembara di antara rakyat jelata sehingga tokoh-tokohnya amat populer ataukah akan bergaya Kurawa yang merupakan pemerintah resmi tapi citranya lebih buruk dari Pandawa, paling tidak partai ini telah membuka berbagai harapan dan peluang baru bagi rakyat yang memiliki ambisi terpilih sebagai pemain satria politik masa mendatang atas restu dewa-dewi di kayangan.
Monday, December 25, 2006
Korban-Korban Kambing
Dari dulu kala sampai kapanpun perbedaan pendapat tak akan pernah hilang. Hanya saja perbedaan pendapat ini bisa menjadi meluas ke masyarakat banyak sehingga bisa-bisa mengganggu kententraman dalam bermasyarakat. Dalam tahun ini, setidaknya sejak saya kenal blog bulan lalu, keputusan pemerintah menerima tamu George Bush dan keputusan Aa Gym mengumumkan pernikahannya telah menyulut perang dalih dan dalil tidak hanya di kalangan elit kekuasaan dan intelektual namun juga sampai ke rakyat jelata teman-teman saya. Kalaupun ada yang berpendapat peluncuran buku Pak Habibie, "Detik-Detik yang Menentukan" juga memicu perbedaan pendapat di sebagian kalangan, namun dampaknya tidak sampai menjadi perdebatan diantara teman-teman saya.
Amat disayangkan jika masih ada pihak-pihak elite atau intelektual yang menjadikan perbedaan pendapat sebagai sarana mencari keuntungan pribadi atau kelompoknya sendiri. Kekurangterbukaan informasi bisa menimbulkan salah sangka. Syukurlah di headline koran Tempo telah diberitakan bahwa, menurut akhirnya seorang anggota komisi Komisi Informasi dan Komunikasi DPR, Sutradara Ginting, menginformasikan komisinya akan memanggil Menkominfo Sofyan Djalil berkaitan dengan pembuatan MoU dengan Microsoft pada pertengahan bulan Januari tahun depan. Suatu keputusan yang dinanti banyak pihak untuk menghindari prasangka seolah-olah Menkominfo brokernya Microsoft yang mungkin saja dijadikan bahan untuk mengadu domba dengan berbagai alasan. Mungkin karena rakyat Indonesia sudah saking terbiasanya dijadikan korban adu domba (divide et impera) oleh VOC selama 3,5 abad, setiap pemimpin umat, partai dan organisasi sospol lainnya seharusnya terus-menerus memperingatkan para anggotanya agar jangan sampai menjadi korban adu domba dengan memanfaatkan perbedaan pendapat dan pandangan menjadi prasangka buruk demi mengejar nafsu-nafsu eksklusivme kelompoknya sendiri.
Tidaklah mengherankan Kardinal Julius Rijadi Darmaatmadja SJ mengajak umat Katolik untuk selalu waspada terhadap adu domba kerukunan antar umat beragama dalam menyikapi berbagai kesulitan dan bencana saat homili perayaan Natal di gereja Katedral (dapannya masjid Istiqlal) pagi ini. Bahkan beliau mengajak umatnya untuk mendoakan serta memberikan bantuan secepatnya untuk sebagian rakyat Indonesia yang ditimpa musibah bencana.
Tadi malam memang bulan sedang tepat pada rasi domba atau kambing (Capricorn) dimana saat ini planet Neptune sedang berada disana. Planet Neptune dikenal sebagai planet terjauh dalam tata surya. Praktek adu domba memang sering sulit dilacak karena bisa saja pelakunya berada jauh dari lokasi terjadi huru-hara.
Bencana banjir di Aceh tak perlu diperbincangkan apalagi diperdebatkan apakah memang sudah merupakan hukum alam ataukah hukuman Tuhan, tak ada sangkutpautnya dengan GAM menang Pilkada. Yang jelas korban jiwa telah berjatuhan, demikian juga akibat bencana longsor Madina (Mandailing Natal). Tak perlu lagi menunggu lebih banyak korban jiwa lagi ataupun menunggu bantuan harus dimulai dari luar negeri dulu atau dari pemerintah dulu. Siapapun berhak dan bisa berkorban untuk siapa saja.
Dalam hal berkorban, mungkin orang perlu belajar dari Yu Timah, seorang buta hurup, mantan pembantu rumah tangga yang kini berprofesi sebagai penjual nasi bungkus untuk menghidupi emaknya yang renta dan seorang keponakannya. Meskipun sangat miskin ia rajin menabung di bank di kampungnya dengan menitipkannya ke karyawan bank tersebut karena malu untuk pergi sendiri ke bank. Lama kelamaan saldonya cukup buat beli seekor kambing. Menjelang hari raya Idul Adha seperti sekarang, ia pergi ke karyawan bank tersebut. Namun bukannya untuk menabung seperti biasanya, tapi karena ia ingin membeli kambing kurban. Meskipun sudah dibilangin bahwa ia tidak wajib berkorban bahkan ia wajib menerima korban seperti tahun-tahun silam, namun Yu Timah tetap bertekad bulat membeli kambing kurban ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Masya Allah, tak ada seorang pun yang bisa melarang seseorang berkurban.
Idul Adha adalah peringatan kewajiban mengorbankan sebagian hartanya, untuk pergi haji bagi yang mampu atau bagi yang belum mampu disimbolkan dengan kambing atau sapi. Orang yang telah bersusah-payah pergi haji tentunya berharap memperoleh al birru ataupun amalan yang mabrur. Yu Timah sebagai orang awam bukan hanya saja rela mengorbankan sebagian hartanya, namun sebagian besar hartanya mungkin bukan karena sekedar keikhlasannya apalagi pamer namun baginya berkurban adalah suatu kewajiban. Cerita Yu Timah ini dikutip dari tulisan Ahmad Tohari dengan judul: "Belum Haji Sudah Mabrur" di Republika seminggu lalu (18/12).
Sebuah tulisan yang lugas dan berani tentang makna berkurban di tengah-tengah arus pandangan umum bahwa Idul Adha merupakan momen peluang bisnis yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh perbankan, biro perjalanan, kelompok pengajian, sampai jualan kambing. Mirip-mirip cerita sufi klasik yang lumayan populer tentang Haji Mabrur Tanpa Ke Mekah, yang menceritakan rombongan haji yang mirip dengan ONH++, dimana jemaahnya kebanyakan sudah berangkat haji beberapa kali. Namun sepasang suami isteri secara diam-diam membatalkan perjalanannya ke Mekah. Di tengah-tengah kebingungannya karena kehilangan jemaahnya, ketua rombongan bermimpi melihat pasangan suami-isteri yang membatalkan perjalanannya sedang berjalan-jalan dengan riang gembiranya di taman yang indah sekali, laksana sebuah surga, sambil mengenakan kalung bertuliskan Haji Mabrur. Sementara (masih dimimpinya) jemaah rombongannya terlihat bermuram durja seperti orang sakit karena kelaparan dan kehausan dibawah sengatan panas matahari di belantara padang pasir. Setelah kembali ke daerah asalnya, ketua rombongan itu barulah mengetahui bahwa pasangan suami isteri tersebut tak jadi pergi ke Mekah karena semua harta untuk keperluan perjalanan haji telah disumbangkan untuk menolong penduduk desa miskin yang penghuninya ditimpa kekurangan air, makanan dan obat-obatan untuk mengatasi wabah penyakit.
Meskipun kedua cerita tersebut sama-sama mengingatkan akan kearifan dalam memaknai pengorbanan sebagai sebuah perwujudan ibadah daripada pandangan formalitas dan legalitas ritual, cerita klasik sufi ini lebih terasa permisif. Selain konklusi berdasarkan mimpi yang bisa saja subyektif sehingga relatif lebih aman dari perdebatan fiqih, juga masih mempertimbangkan pendapat banyak orang tentang formalitas dan legalitas ritual pemotongan hewan korban di Mekah.
Ada puluhan kambing dan 3 sapi di depan rumah yang dijual sebagai hewan korban. Sewaktu diminta memilih tadi pagi, saya memilih untuk tidak memilih atau menyerahkan pilihan ke panitia saja, yang penting sehat dan jantan. Terserah apakah mau dikasih kambing congek yang bisanya tengak-tengok dan sesekali mengembek ataukah kambing hitam (black sheep or black goat? wkwkwk...), yang mungkin harganya jauh lebih mahal karena banyak dicari orang untuk dijadikan tumbal segala macam permasalahan.
Apapun jenisnya domba atau kambing adalah hewan yang taunya makan, minum dan kawin. Seperti kambing-kambing di depan rumah: lha jelas-jelas mau disembelih untuk korban, jangankan istighfar atau tobat kek tapi malah masih aja kejar-kejaran pengin kawin.
Manusia juga dianugerahi akal untuk mengejar kebutuhan dan keinginannya. Namun jika hanya mengandalkan akal saja, bisa saja seseorang kelihatannya telah berkorban namun sebenarnya ia menganggapnya sebagai suatu investasi demi mengejar lebih lagi banyak napsu pribadi atau kelompoknya, jika perlu dengan mengorbankan orang lain. Jika sudah demikian, bisa-bisa orang yang berkorban punya sifat lebih kambing daripada kambing yang dikorbankannya. Tentunya siapapun tak mau jadi kambing, apalagi kambing korban dari orang berhati kambing yang selalu mencari akal untuk mengadu domba atau mencari kambing hitam.
Sunday, December 24, 2006
Bisnis Emosi
(canceled from internet publication by author)
Saturday, December 23, 2006
Suka Ria Dalam Duka Cita
Entah berapa kali tilpun rumah dan HP isteri saya berdering sejak tengah malam tadi. Pertama kali tilpun diterima, kami sempat kaget mendengar berita duka cita bahwa salah satu eyang kami telah meninggal dunia di rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan. Kami biasanya memanggil almarhumah dengan Eyang Suryo Putri atau Eyang Suryo saja, karena Eyang Suryo Kakung telah lama sekali meninggal. Saya pun segera mengumpulkan segenap energi kesadaran untuk bisa bangun tidur agar bisa segera pergi melayat. Belum juga saya bangun penuh sudah ada telpun lagi yang menyarankan agar kami melayatnya besok pagi saja langsung ke bandara, yang memang dekat dengan rumah. Info ini membuat energi yang telah terkumpul langsung sirna begitu saja. Namun saya masih sempat ingat (sadar) isteri saya memberi tahu beberapa tilpun selanjutnya, yang intinya jenasah diberangkatkan jam 11 siang dan saya mendapat tugas menjemput para kerabat yang tinggalnya lumayan dekat dengan rumah.
Sebenarnya kami sudah mengetahui perihal beliau menjalani rawat-inap di rumah sakit tersebut dari SMS ke HP isteri saya. Namun sayangnya, sampai meninggalnya tadi malam kami tidak sempat membesuknya. Rasa-rasanya masih ada beberapa tilpon lagi setelah Subuh, namun mungkin isteri saya sudah terlalu lelap tidurnya. Saya sendiri sempat sekali mencoba bangun untuk menjawabnya, namun terlambat telah hubungan telah ditutup. Saya pikir, tilpun ini mungkin dari kerabat lain yang hendak memberitakan meninggalnya eyang kami.
Saya sengaja bangun jauh lebih bagi dari kebiasaan bangun di hari Sabtu. Bangun tidur ku terus mandi dan berdandan ala pelayat pada umumnya, pakaian hitam-hitam dan berpeci. Sebelum berangkat saya tilpon dulu kerabat untuk memberitahukan bahwa saya telah siap menjemputnya. Baru satu orang yang saya tilpun HP-nya, saya terkaget-kaget karena ternyata jenasah sudah diberangkatkan. Apakah, saking ngantuknya, saya salah dengar info dari isteri saya tadi malam? Ataukah saya tak begitu mendengar lagi update terakhir yang disampaikan isteri saya? Menurut cerita beliau, memang telah terjadi banyak perubahan-perubahan keputusan setelah keluarnya keputusan pertama.
Tiba-tiba hubungan telepon terputus. Saya coba beberapa kali menghubungi beliau kembali baik lewat HP maupun tilpun rumah tapi tak pernah bisa terhubung lagi. Sepertinya jaringan GSM sedang mampet (congestion), sedangkan rumah beliau tidak ada telepon rumah. Akhirnya saya coba mencari nomor HP anak-anaknya yang mungkin saja sedang berada di rumahnya pada hari Sabtu seperti ini. Belum sempat saya menilpun HP anaknya, ada SMS masuk dari beliau yang isinya:
"Komputermu waras to?".
Saya pun buru-buru menuju komputer untuk mengisi pulsanya via klik BCA.
Saya hanya bisa merasa lemas, lemah dan lunglai serasa tiba-tiba kebanjiran kekecewaan bercampur kesedihan. Barangkali banyak yang berpendapat menangisi orang yang meninggal bukanlah perbuatan yang terpuji. Setidaknya vokalis Pasha Ungu, seperti disiarkan beberapa kali di beberapa stasiun TV, mengatakan jatuhnya korban jiwa bukanlah halangan untuk melanjutkan tur pentas konser musik band Ungu karena kesedihan dan tangisan malah akan memberatkan arwah para 10 korban yang telah tewas di stadion Widya Mandala Krida, Pekalongan pada Selasa Kliwon malam 19-12 lalu. Menurut perhitungan banyak aliran perkalenderan Jawa, waktu malam hari sudah termasuk hari masehi esoknya, namun yang jelas Selasa Kliwon dikenal luas sebagai hari anggara kasih.
Kalaupun pada kenyataannya akhirnya saya tak kuasa menahan tangis, rasa-rasanya tak ada sangkut pautnya dengan wawancara Pasha di TV tersebut. Secara jujur, saya akui bahwa dalam hal ini saya lebih setuju paham Imam Syafi'i dengan konsep: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". Namun pada kenyataannya, iman, pikiran, perasaan dan ingatan tidaklah selalu bisa mufakat. Jelas terbayang di ingatan dari sejak saya kecil, diantara para pinisepuh dan jajaran kasepuhan eyang Suryo adalah sosok nenek yang paling ramah, tidak cerewet dan paling bisa menggunakan bahasa pergaulan dan cara pandang sehari-hari generasi kita dalam berkomunikasi.
Dengan suasana duka cita inilah, tidak seperti hari Sabtu biasanya, saya memilih tidak pergi keluar rumah. Nonton beberapa film yang belum sempat saya tonton, dan selebihnya nonton TV. Sewaktu ganti-ganti saluran, jam 4 sore tadi secara tak sengaja saya menemukan acara berjudul "Playboy Kabel" yang mengundang penasaran ingin tahu: apa kaitannya Playboy dengan Kabel? Apakah playboy di acara ini versi Mansion, Spanyol, Indonesia atau dari mana? Lantas, kabelnya apakah kabel listrik, kabel tilpun, kabel data atau kabel apaan?
Rasa penasaran dan keingintahuan saya sirna seketika sejak awal acara. Rupa-rupanya acara ini adalah semacam reality show dengan latar belakang pola pergaulan ala generasi muda Jakarta, atau mungkin kota-kota besar lainnya, yang jelas bukan ala generasi muda pedesaan. Bagi yang agak kurang (apalagi jarang atau tidak pernah) bergaul dengan generasi muda, acara ini terasa kocak abis bis bisz. Barangkali rasa kekocakan ini dikarenakan baru menyadari kekurangpergaulan kita selama ini sampai-sampai kita tidak mengetahui kenyataan pergaulan di sekitar kita tinggal yang ternyata beda banget dengan pergaulan saat muda kita, apalagi di pedesaan atau kota kecil yang ndesit abis bis bisz!...
Dari sejak saat awal acara saya sudah kegelian. Rasanya sungguh aneh tapi nyata, ada seorang cewek cantik kok mau-maunya melaporkan ke kru acara tersebut atas kecurigaannya ama cowoknya yang sering meminjam mobilnya, sebuah sedan Toyota Vios hitam, terutama pada hari Sabtu. Wow, keren! Rupanya di Indonesia sekarang sudah ada deketif swasta spesialis permasalahan generasi muda, udah gitu masuk TV lagi. Bisa-bisa POLRI kalah dalam hal menangani permasalahan beginian. Seperti layaknya intel profesional saja, sebelum dipinjamkan mobil cewek tersebut dipasangi berbagai peralatan penyadapaan termasuk perekam video dan pemancar suara pembicaraan (mungkin HP dengan mode auto-answer) yang tersembunyi.
Menurut laporan si cewek, hari itu cowoknya meminjam mobilnya tersebut dengan alasan untuk menjemput client di bandara. Para detektif swasta tersebut menunggu bersama cewek pelapor di dalam mobil van yang parkir tak jauh dari kantor si cowok yang bekerja setengah hari setiap hari Sabtu. Kekocakan dimulai saat cowok tersebut masuk mobil. Rekaman video jelas menunjukkan kejadian real-live meskipun tidak real-time, setidaknya lebih menghindarkan dari resiko dampak salah sangka atau salah persepsi dibandingkan acara-acara gosip ataupun sinetron yang konon kini banyak digemari. Ternyata prasangka si cewek pelapor beralasan, sepulang kantor si cowok bukannya ke bandara tapi malah janjian menjemput cewek "selingkuhan" (entah mana yang cewek selingkuhan atau aslinya sebenarnya) di kawasan pertokoan Melawai. Dari mobil pengintai, terlihat si cowok menggandeng si cewek dengan mesranya menyeberang jalan. Menurut pengakuan cewek pelapor, ia tak mengenal cewek yang berdandan tak kalah seksinya dengannya itu. Mungkinkah ia saudara jauh si cowok yang kebetulan belum pernah ia temuinya? Wah kalo cerita ginian sih adanya di skenario dagelan kuno, gak bakalan laku untuk konsumsi generasi muda.
Acara tambah kocak lagi setelah mereka berdua di dalam mobil. Rupanya si cowok paham betul hikmah lagu "Bang, SMS siapa ini Bang?". Saat ia menerima SMS dan si cewek cemburu maka buru-buru SMS-nya dihapus sebelum terbaca ceweknya. Atas saran detektif swasta, si cewek pelapor menelpon HP cowoknya untuk segera mengembalikan mobilnya dan menanyakan berapa lama lagi bisa mengembalikan mobil Vios tersebut. Dijawab oleh si cowoknya, sekitar 2 jam lagi. Ha ha... bisa aja tuh cowok. Namun tilpun ini mengundang kecemburuan cewek selingkuhannya yang mengakibatkan berantem di dalam mobil. Rupanya si cewek mengetahui nama cewek pelapor yang dipikirnya mantan pacar cowoknya. Wah seru deh berantemnya, sampe akhirnya si cowok yang gantian marah-marah. Eee.. tau cowoknya emosi, si cewek buru-buru minta maaf kemudian mereka pun bermesraan. Anehnya, saya malah terpingkal-pingkal kegelian sendiri bukannya kasihan sama si cewek pelapor. Kebayang gak sih... gimana rasanya nonton live show kayak gitu?
Tanpa disangka-sangka mobil Vios itu berhenti di pinggir jalan. Nampak di seberang jalannya keramaian orang lalu-lalang. Si cewek pelapor segera turun dari mobil van untuk melabrak tuh cowok sambil tak kuasa menahan sumpah serapah berisi binatang-binatang najis dan haram. Si cowok pun keluar mobil, namun sebelum sempat mengeluarkan dalih dan alasan pamungkasnya, keduluan mendapat tamparan berkali-kali dari si cewek pelapor. Pemandangan tak sedap ini mengundang amarah dan emosi si cewek selingkuhan yang segera keluar dari mobil dan dengan penuh emosinya sambil menunjuk muka cewek pelapor, bertanya dengan garangnya:
"Siapa lu?".
Terjadilah perang mulut sesaat antara kedua cewek tadi yang kemudian segera berlanjut dengan tanding fisik yang nampaknya kekuatannya berimbang. Adu kekuatan fisik tersebut berakhir setelah si cowok berusaha melerainya. Mungkin karena gondok sakit pipinya gara-gara ditampar beberapa kali atau mungkin karena sakit hatinya telah ditampar di depan banyak orang, si cowok membalasnya dengan memaki-maki cewek pelapor, dan kemudian bergandengan dengan mesranya dengan cewek selingkuhannya pergi ke seberang jalan untuk naik taksi.
Segera saya nyalakan laptop untuk googling nomor tilpun, blog atau informasi apa ajalah tentang cewek si pelapor. Bukannya apa-apa lho, saya hanya ingin minta ijin aja kok, apakah namanya boleh saya ketik disini sebagai salah satu label apa nggak? He he...
Saya pun jadi tahu, ternyata acara ini telah mengundang beragam opini tentang Playboy Kabel.
Jika tangisan dan ratapan tak berhasil mengobati kesedihan, bisa jadi suka ria adalah pelipur lara di kala duka. Sungguh, saya tak tahu kenapa Kelik Pelipur Lara tak pernah lagi diajak main di Republik Mimpi kini seperti kala di Republik BBM dulu? Apakah kita perlu menyewa para detektif swasta itu untuk menyelidiki siapakah sebenarnya selingkuhan Butet Kertarejasa saat ini? Ecghszz...... nggak konek dengan kisah diatas ya?! Namanya juga blog konslet hehehe...
Friday, December 22, 2006
Sinonim Maksud
Bagi para tamu undangan acara Puncak Peringatan Hari Ibu ke-78 di Sasono Langen Budoyo, TMII, tanpa perlu memperkenalkan diri pun tentunya sudah mengenal siapa yang berdeklamasi dengan fasihnya perihal pendapat dan keyakinannya selama ini tentang perdagangan perempuan, yang tak lain adalah Desak Made Hugheshia a.k.a Dewi Hughes.
Bagi yang tak kebagian undangan acara tersebut, ada beragam kegiatan alternatip yang tidak sebatas dalam bentuk seremonial. Pada pagi ini saat para karyawan berangkat kantor, ratusan perempuan berjilbab diiringi oleh puluhan Polwan mengadakan acara jalan kaki bareng dari bundaran GI (d/h HI) dengan membawa spanduk dan poster bertuliskan dukungan terhadap poligami, terlepas poligini atau poliandri. Spanduk dan poster mereka jelas-jelas menunjukkan identitas yang jelas yaitu Hizbut-Tahrir Indonesia.
Tak lama kemudian sekitar 50-an demonstran lain berkumpul di bundaran GI (d/h HI) tersebut. Meskipun jumlahnya sedikit namun mereka kelihatan amat bersemangat dengan orasi-orasi yang disambut dengan yel-yel dan lagu plesetan "Satu-satu aku sayang Ibu". Sebagian pendemo menggunakan kaos seragam bertuliskan "Saya Menolak Poligami", ada juga yang memakai topi caping sehingga wajahnya tersamarkan. Menurut tulisan di posternya mereka dari Jaringan Kerja Prolegnas Pro Perempuan, tapi terlihat beberapa pria juga diantaranya. Bahkan ada pria bersorban dengan kostum ala Bos AA Gym (B 446 YM) tapi memakai kaca mata gelap, barangkali untuk menyamarkan wajah aslinya, namun yang jelas ia adalah Aa Gym samaran, bukanlah aslinya.
Rupa-rupanya perbedaan pendapat tidak hanya sebatas pada apa yang hendak disampaikan dan bagaimana penyampaiannya saja, namun juga perlu tidaknya penyamaran siapa pembawa pesan. Bagaimanapun juga masing-masing pihak memiliki dasar pendapat dan keyakinan masing-masing. Bagi yang berpendapat dan berkeyakinan akan kewajiban pemakaian samaran dalam menyampaikan pendapat biasanya lebih mudah memaklumi pihak penganut aliran yang selalu mencantumkan identitas aslinya.
Sebaliknya, orang-orang yang telah terbiasa melihat dulu profil pemilik pendapat atau keyakinan biasanya lebih sulit mempercayai pendapat atau keyakinan orang atau pihak dengan nama samaran atau beridentitas samar-samar. Dalam bisnis pun, profil perusahaan atau merek produk sering merupakan faktor yang turut menentukan untuk meraih kepercayaan calon pembeli terlepas harga dan kualitas produk yang ditawarkan.
Pro dan kontra perlunya penyamaran dalam penyampaian pendapat tidaklah perlu sampai menjadi pertentangan andaikata masing-masing pihak menaruh kepercayaan bahwa masing-masing pihak sama-sama bermaksud baik dalam menyumbangkan pendapat, yaitu demi kebaikan dan kemajuan semua pihak. Sebaliknya jika sebagian pihak tidak mempercayai maksud baik pihak lain maka akan sulit diperoleh kebaikan dan kemajuan semua pihak, termasuk pihaknya sendiri.
Bagi masyarakat teknologi informasi, sudah terbiasa bahwa user anonymous mendapat tingkat kepercayaan paling rendah dibandingkan user yang sudah dikenal melalui registrasi oleh user administrator yang mengatur tingkat-tingkat kepercayaan dalam mengakses sistemnya. Jika dunia nyata diidentikkan dengan dunia teknologi informasi, bisa-bisa semua pihak (termasuk anonymous) berebutan menjadi administrator yang paling berhak memberi penilaian pihak-pihak mana saja yang paling bisa, lebih / kurang bisa dan tidak bisa dipercaya pendapatnya.
Jika sebuah kata memiliki sinonim (bukan antonim), bisa jadi kalimat juga memiliki sinonim, demikan halnya dengan berita atau cerita. Perbedaan pendapat pun tidak mustahil merupakan sinonim yang memiliki maksud sama, hanya saja mungkin beda latar belakang yang mendasarinya. Acara kenegaraan resmi maupun aksi-aksi jalanan hari ini sama-sama dimaksudkan sebagai kegiatan untuk memperingati hari Ibu dengan latar belakang peserta yang berbeda-beda. Di hari Ibu ini masing-masing pihak seyogyanya percaya bahwa semua pihak sama-sama memiliki maksud baik demi kebaikan dan kemajuan perempuan Indonesia, terlepas tata cara penyampaian yang lebih disukainya, baik dengan cara-cara melalui forum resmi, beridentitas jelas maupun samar-samar, ataupun yang menggunakan samaran.
Bagaimanapun juga, ihktiar menemukan sinonim maksud biasanya lebih mententramkan banyak pihak daripada mencari-cari antonimnya.
