Sunday, November 05, 2006

Kembali Berhubungan

Bulan Syawal banyak dimanfaatkan berbagai kalangan untuk merefresh hubungan persaudaraan atau pertemanan yang sering disebut sebagai silaturahmi. Saudara atau teman yang sudah lama tak berhubungan bisa kembali berhubungan melalui acara-acara seperti halal bihalal, syawalan atau sebutan yang tren masa kini yaitu Open House. Meskipun masih menggunakan bahasa asing, namun Open House biasanya dipandang sebagai istilah yang lebih mewakili lintas agama dan golongan sebagai sarana untuk kembali berhubungan.

Pagi ini kami kedatangan tamu rekan saya sekantor beserta keluarganya dan keluarga kerabatnya dari kampung halamannya. Mereka sampai Jakarta kemaren. Kami tidak menyangka akan kedatangan tamu secepat ini. Pada bulan syawal seperti ini biasanya teman-teman datang ke rumah setelah minggu ketiga dari hari masuk kantor paska libur lebaran. Itupun sekedar kebetulan mampir saja.

Pak Harto dan Mbah Marijan Beda halnya dengan masyarakat yang berduyun-duyun syawalan ke rumah Pak Harto dan Mbah Marijan pada hari raya Idul Fitri yang lalu. Kunjungan mereka tentunya bukanlah sekedar kebetulan mampir saja. Mereka memang sudah punya niat dan sengaja me-refresh hubungan ke orang-orang yang mereka pandang perlu untuk dimintakan maaf pada kesempatan pertama di bulan syawal. Sah-sah saja jika ada anggota masyarakat yang ingin minta maaf apabila selama ini dalam kehidupan sehari-harinya merasa belum bisa sepenuhnya meneladani orang yang mereka pandang layak diteladani.

Para pejabat negara, baik tingkat nasional maupun regional, banyak diberitakan menggelar acara di bulan Syawal yang lebih dikenal sebagai sebagai Open House. Melaui Open House para pejabat tersebut membuka kesempatan kepada warganya (ada juga yang mengkhususkan warga kalangan tertentu, misalnya warga miskin) untuk meminta maaf pada kesempatan pertama di bulan Syawal di rumah pribadi atau dinasnya. Saya termasuk orang yang belum memiliki kemampuan memahami makna Open House seperti ini. Menurut pemahaman saya, apabila mau memaknai bulan Syawal adalah waktu yang tepat untuk bermaaf-maafan dan silaturahmi maka seharusnya para pejabatlah yang berkunjung dan meminta maaf ke rakyatnya. Permintaan maaf wajar saja disampaikan apabila selama menjabat jabatan yang diamanatkan kepadanya, pejabat tersebut merasa belum bisa sepenuhnya memenuhi janji-janjinya dan kewajibannya terhadap rakyatnya, termasuk belum bisa mengangkat kemiskinan warganya. Sedangkan konsep rakyat meminta maaf ke pejabat, sampai sekarang saya belum tahu apa yang harus dimintakan maaf apalagi bila pejabat tersebut tak pernah mau bersilaturahmi dan meminta maaf ke rakyatnya.

Bagaimanapun juga, semua pihak seharusnya mengakui bahwa pejabat negara adalah pemimpin masyarakat yang telah diseleksi oleh mayoritas rakyat baik secara pribadi ataupun melalui organisasi politik yang dipandang bisa mewakili aspirasinya. Pemimpin masyarakat dipercaya memiliki kemampuan lebih daripada para pimpinan perusahaan - yang notabene adalah bagian dari masyarakat. Pemilik perusahaan mungkin saja mensyaratkan para pimpinan perusahaannya memiliki kemampuan kepemimpinan (leadership) yang banyak diajarkan dan dibahas di berbagai macam artikel, buku, pelatihan, dsb. Namun pimpinan perusahaan tidak dipilih oleh karyawan, sehingga tidak ada keharusan untuk menjadi teladan karyawan. Justru sebaliknya, yang sering dijadikan karyawan teladan adalah karyawan non-pimpinan dengan ditandai pemasangan fotonya. Sedangkan pemimpin masyarakat, disamping dituntut memiliki kemampuan kepemimpinan yang lebih dari para pimpinan perusahaan di wilayahnya juga lebih dipercaya oleh mayoritas warganya memiliki kemudahan untuk dipahami dan diteladani. Salah satu cermin pengakuan terhadap pemimpin adalah meneladani sikap dan perilakunya. Jika benar demikian, maka setiap anggota masyarakat sudah seharusnya meneladani pemimpin masyarakat dimana ia berada. Sebaliknya, jika tidak ada warganya yang mau meneladaninya sama sekali maka pantas dipertanyakan pada kemana pendukungnya sewaktu pemilihan pemimpin masyarakat tersebut.

Kalaupun sampai akhir Syawal saya tidak juga mengadakan Open House bagi teman-teman, bukan berarti saya berpandangan pemimpin masyarakat nasional, regional, lokal atau para pejabat dibawahnya yang menggelar Open House tidak pantas diteladani. Hanya saja saya khawatir ada diantara teman-teman yang belum mampu saling memahami pro-kontra Open House yang memang lagi jadi topik hangat diberbagai media massa akhir-akhir ini. Ada kekhawatiran Open House yang diharapkan bisa sebagai sarana re-connect, malah terjadi disconnected gara-gara pro-kontra yang tak mau mengalah demi membela mati-matian opini-opini pribadi atau golongannya masing-masing. Masih banyak jalan lain untuk kembali berhubungan.

Saturday, November 04, 2006

Kembali Bohong

Entah mungkin hari ini tanggal 4 atau faktor-faktor lain, rasanya kok tidak begitu nyaman baca koran.

Satu bulan penuh umat Islam menjalankan ritual puasa dengan menahan napsu makan, minum dan hal-hal lain yang diharamkan selama berpuasa. Disamping memenuhi kewajiban atas perintah Allah SWT, banyak kalangan meyakini puasa merupakan metodologi pembelajaran dan pelatihan yang ampuh untuk meningkatkan kemampuan diri untuk menahan napsu-napsu dari melakukan tindakan-tindakan tercela pada kehidupan nyata sehari-hari.

Seperti halnya kemampuan berpikir, kemampuan mengetik, kemampuan belanja dll maka kemampuan menahan napsu dari tindakan tercela juga berbeda-beda pada setiap diri manusia. Demikian juga efek pembelajaran dan pelatihan puasa selama bulan Ramadhan juga berbeda-beda. Seperti halnya ujian sekolah, semakin tinggi tingkat kemampuannya maka akan semakin berat pula tantangannya. Adakalanya orang melakukan tindakan tercela karena didorong oleh pembenaran-pembenaran yang dibuatnya sendiri. Alasan pembenaran yang paling mudah adalah keterpaksaan atau keharusan memaklumi kondisi lingkungannya. Jika bisa maunya naik kelas tanpa ujian. Barangkali hal ini memungkinkan andaikata semua murid dan guru kompakan mendukungnya. Kemampuan menahan napsu untuk tidak berbohong pun berbeda-beda tergantung orang dan lingkungannya.

Membaca koran Kompas kemaren (Jumat 3 November 2006) halaman 3 kanan paling atas, dibawah tulisan merah dengan hurup dicetak tebal Penegakan Hukum mengundang untuk dicermati. Saya sendiri kurang tertarik dengan kasus, prosedur atau pun tokoh-tokoh yang diberitakan karena selama ini memang tidak mengikutinya secara khusus dan rinci terhadap subject pemberitaan tersebut. Yang menarik adalah bagaimana mendeteksi bohong-tidaknya para pejabat Hukum dan HAM Indonesia selepas Idul Fitri yang suasananya saja masih sangat terasa dimana-mana.

Diberitakan Kepala Rutan Pondok Bambu Slamet Prihantara menyatakan kepada para wartawan bahwa pemindahan Harini Wijoso sudah mendapat izin dari MA. Namun setelah dicek ke MA, jangankan memberi izin, ternyata pihak MA tidak menerima pemberitahuan sama sekali. Saat dikonfirmasikan, secara implisit Slamet Prihantara mengakui kebohongannya dengan meralat sendiri pernyataannya. Hhiii....

Bisa jadi Slamet Prihantara sebagai seorang pejabat penegak hukum tidak bermaksud berbohong, mungkin hanya karena kelupaan saja akibat kesibukan tugasnya sehari-hari. Padahal Slamet Prihantara ingat betul bahwa kejadiannya sudah tanggal 16 Oktober 2006 atau 2 mingguan yang lalu. Andaikata kekilafan apakah selama itu tidak ada yang mengingatkan atau memberitahu bahwa beliau salah mikir? Dipikirnya sudah mendapat izin dari MA padahal memberitahukannya pun belum pernah.

Hari ini, koran yang sama di halaman dan kolom yang sama masih memberitakan seputar topik yang sama yaitu bohong-tidaknya para pejabat Hukum dan HAM Indonesia. Bedanya, adalah tokohnya. Hari ini yang diberitakan adalah pernyataan Kepala Divisi Pemasyarakatan Departemen Hukum dan HAM DKI Jakarta Gusti Tamardjaja, yang didampingi juga oleh Slamet Prihantara.

Menurut Gusti, Harini diberangkatkan dari Bandara Adisucipto Yogyakarta pukul 13:00 dengan naik pesawat Batavia Air. Sampai di Bandara Soekarno Hatta pukul 14:07. Namun menurut bagian tiket Batavia Air tidak ada penerbangan Batavia Air dari Yogyakarta-Jakarta pukul 13:00. Satu-satunya penerbangan Batavia Air dari Yogyakarta-Jakarta adalah pukul 10:25. Ketika hal ini ditanyakan ke Gusti, jawabnya, "Percaya saja sama saya".
Bagi orang yang tak kenal beliau, tentunya sulit mempercayai bahwa para pejabat hukum dan HAM tersebut bohong ataukah tidak jika hanya mengandalkan logika berdasar dari apa yang telah diberitakan Kompas. Sayangnya, Kompas tidak memberitakan apa alasan para pejabat hukum dan HAM tersebut agar masyarakat bisa "Percaya saja" bahwa para pejabat hukum dan HAM tidak pernah berbohong.

Barangkali ada yang berkeyakinan selepas puasa adalah waktunya halal bil halal. Jadi selain makan dan minum dihalalkan lagi saat siang hari, maka bohong pun juga halal seperti biasanya sebelum puasa.

Friday, November 03, 2006

Kembali Baru

Wuih!... ternyata asik juga ya ngeBlog. Apalagi kalo besoknya libur.

Suasana kantor masih terasa relatip sepi meskipun hari libur plus cuti masal sudah berakhir beberapa hari yang lalu. Memang sudah banyak perkembangan di Indonesia. Dulu orang taunya cuti hanya sebatas hak karyawan untuk tidak masuk kantor, kini ada juga cuti yang merupakan kewajiban karyawan untuk tidak masuk kantor yang dikenal dengan istilah cuti masal tersebut. Rasanya masih mendingan tak ada kerjaan daripada tak ada teman (apalagi ditambah tak ada internet karena gangguan koneksi), karena gaji saya memang tidak dihitung dari kuantitas atau banyak-sedikitnya pekerjaan. Mau kerja lebih berapa jam pun dari jam kantor juga tidak dihitung. Bahkan terkesan tidak mampu

menyelesaikan tugas dalam jam kantor yang telah ditetapkan. Kadang-kadang daripada sebel karena tidak ada yang dijahilin, saya jahilin saja temen-temen yang masih di kampung halamannya masing-masing via SMS-an.

Biasanya pergi Jumatan ke masjid Istiqlal rame-rame, hari ini pergi Jumatan pertama paska lebaran sendirian rasanya kok 'wagu' (agak janggal). Saya lihat mobil dinas dubes Iran dan beberapa sedan mercedes yang semuanya pelat merah dengan prefix B dan sufix ES sudah ada diparkiran VIP. Biasanya kalau ada tamu setingkat dubes, suka ada Menteri Agama. Tapi saya tidak nemu pelat B 33 waktu itu.

Ada yang baru pertama saya lihat di Istiqlal yaitu CCTV baru. Sistem ini mungkin dimaksudkan untuk broadcast wajah dan mimik khotib agar bisa dilihat live ke lebih banyak jamaat yang jauh dari mimbar daripada hanya mendengarkan (sambil ngantuk-ngantuk) suaranya saja via speaker. Masih belum banyak jumlah TV yang telah dipasang dibandingkan luasnya masjid dan banyaknya jemaah. Yang aneh, 2 TV LCD berukuran besar kok malah dipasang didepan di sebelah kanan dan kiri mimbar tempat khotib berkotbah, lebih besar daripada TV yang dipasang ditengah. Lha buat apaan ya? Sungguh aneh tapi nyata.

Seingat saya pembaruan-pembaruan di Istiqlal biasanya pas bersamaan dengan kunjungan pejabat negara lain, seperti jam digital gantung, jam analog berdiri, beberapa kipas angin berdiri, beberapa AC berdiri untuk barisan depan, dll. Mungkin pembaruan ini hanya kebetulan semata atau mungkin juga barang-barang tersebut merupakan cinderamata dari para tamu negara tersebut.

Pembaruan yang paling revolusioner seingat saya adalah saat kunjungan Presiden Iran Presiden Ahmadinejad jumatan di IstiqlalMahmoud Ahmadinejad pada Jumat Wage 12 Mei 2006. Sudah bertahun-tahun saban hari Jumat, halaman masjid Istiqlal selalu dipenuhi oleh PKL. Meskipun berbagai macam ikhtiar telah diupayakan namun banyaknya petugas, larangan dan spanduk tidaklah pernah digubris baik oleh para pedagang maupun pembelinya. Bahkan pernah spanduk besar larangan berjualan di area masjid dirobek-robek saat salat Jumatan, padahal spanduk tersebut dipasang cukup tinggi sehingga membutuhkan tekad, usaha dan waktu yang lebih untuk mencapainya apalagi merobek-robeknya seperti itu. Setelah kunjungan Pak Presiden Ahmadinejad itulah sampai kini halaman masjid Istiqlal bebas PKL. Barangkali cinderamata Pak Presiden Ahmadinejad waktu itu adalah kumpulan tips, trik dan doa-doa special buat para pengurus masjid Istiqlal agar terbebas dari PKL.

Selain CCTV baru, sewaktu pulang Jumatan saya lihat pelat mobil baru yaitu RI 33 parkir persis didepan pintu VIP. Oh ya, saya baru ingat kalau ada reformasi pelat mobil dinas baru-baru ini. Yah namanya juga lebaran, tidak hanya anak-anak kecil saja yang pengin baju baru. Pemilik perusahaan juga pengin karyawannya kembali kerja dengan semangat baru. Ada pula majikan yang pengin pembantunya kembali bersama rekan baru.

Kembali ke Asal

Jalanan yang biasa saya lalui masih terlihat lengang daripada biasanya. Di rumah, pembantu pun belum kembali dari mudik. Mencari makan pun tidak semudah biasanya meskipun kita membawa uang lebih dari biasanya. Sempat merasa bersalah gara-gara kurang matang dalam merencanakanan mudik sehingga beginilah akibatnya jikalau terlalu dini kembali dari mudik. Namun setelah dipikir-pikir, apapun kondisi obyektif saat ini pastilah ada manfaatnya. Ada atau tidak adanya manfaat tidaklah begitu penting dipermasalahkan, namun masalahnya adalah bagaimana cara memanfaatkannya (usability), untuk apa manfaat tersebut (usage), atau manfaat tersebut bisa dirasakan oleh siapa (user). So what gitu lhoh?

Barangkali sudah naluri manusia pada umumnya memiliki keinginan kembali ke asal muasalnya. setiap hari setelah bekerja, karyawan kembali ke tempat tinggalnya. Bagi yang bekerja diluar kota, satu, dua atau beberapa minggu sekali punya ritual tersendiri untuk kembali ke keluarganya. Bagi yang tidak memiliki tempat tinggal sendiri di kota dimana ia bekerja seperti misalnya pembantu rumah tangga, setiap idul fitri punya tradisi mudik lebaran ke kampung halamannya. Keinginan untuk kembali ke asal muasal tidak harus memiliki persyaratan status telah bekerja. Reuni alumni sekolahan ataupun alumni kos-kosan juga mencerminkan keingingan untuk kembali ke suasana asal muasal. Demikian halnya makan di warung atau restoran dengan menu utama yang berasal dari daerah kita pernah berasal juga bisa dipandang sebagai ikhtiar alternatip memenuhi keinginan kembali ke daerah asal.

Disamping untuk memenuhi keinginan sendiri, kembali ke asal juga merupakan kesenangan tersendiri bagi orang yang berada di tempat asal. Karena sudah dapat konfirmasi bahwa semua anak-anaknya bakalan mudik tahun ini, Ibunda saya ternyata sudah pesan layanan foto di sebuah studio pada hari lebaran. Saya heran, hari raya begini apa ada toko buka. Lebih heran lagi setelah tahu di studio foto tersebut ternyata banyak juga yang sudah pesan layanan seperti Ibunda saya. Saat itu kebanyakan pemesan adalah dari kalangan eyang-eyang. Malam sebelum adik-adik pergi ke kota mertuanya masing-masing, kebersamaan ini kami rayakan dengan makan malam di sebuah restoran di tengah pedesaan di Jl. Kaliurang km 14 Sleman. Selain Sleman, saya juga berkesempatan 'jlajah deso milang kori' (jalan-jalan keliling desa) ke semua kabupaten di DIY. Di kabupaten Kulon Progo, dari Wates, Sentolo, Godean sampai desa Kemusuk yang merupakan kampung halamannya Pak Harto (mantan Presiden RI), Ibu saya tak habis-habisnya cerita dan menunjukkan secara rinci tempat-tempat yang kami lalui. Mungkin serasa mendengar dongeng saja, anak-anak pada ketiduran sepanjang perjalanan. Di kabupaten Bantul, kami sempat mampir ke pantai Pandan Simo. Nama pantai ini diambil dari banyaknya pohon pandan di sepanjang pantai. Sedangkan Simo adalah nama salah satu spesies harimau. Di lokasi pantai ini diyakini sebagai tempat turunnya wangsit kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada Sabtu Paing, 22 Desember 1877. Oleh karena itulah, sampai kini para keturunan trah Sri Sultan Hamengkubuwono VII banyak menggunakan simbol dan corak yang menggambarkan daun pandan dan harimau dalam berbagai kesempatan. Pusat kota Bantul tidak bisa kami lalui karena jalur utama ditutup untuk acara HARDIKNAS (Hari Mudik Nasional) warga.

Selain di kabupaten Bantul, HARDIKNAS juga dirayakan warga kabupaten Gunung Kidul di Pantai Baron yang dimeriahkan oleh panggung pertunjukan yang menampilkan artis-artis lokal dan nasional aseli Gunung Kidul. Saking banyaknya pengunjung, kami pun sempat kesulitan mencari parkiran laksana di Jakarta saja. Melalui pengeras suara terdengar berulang-kali panitia memohon maaf kepada para pengunjung apabila masih ada kekurangan dalam pelayanannya tahun ini serta berharap semoga bisa melayani lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang. Masya Allah... padahal di tenda-tenda panitia kelihatannya panitia sudah turun secara full team siap dengan tim medis, tim SAR, dll komplit dari berbagai instansi di Gunung Kidul. Para anggota POLRI pun terlihat ramah-tamah dalam mentertibkan kendaraan dan keramaian pengunjung. Itulah ekspresi kesenangan bagi orang-orang yang berada di tempat asal buat menyambut para handaitaulannya yang sedang kembali ke asalnya. Anyway, no better words than terimakasih Gunung Kidul....
Pantai Baron di Gunung Kidul saat Lebaran 2006Setelah mampir di pantai Kukup dan Krakal kami berencana makan bakso di kota Wonosari yang merupakan ibukota Gunung Kidul. Tentu saja kami tidak perlu khawatir salah pilih warung, bahkan kami yakin dimanapun makan bakso di Wonosari pastilah enak. Untunglah ada lumayan banyak warung bakso yang buka sehingga di setiap warungnya tidak harus antri karena mungkin pembelinya sudah otomatis terdistribusi. Saya sempat terkesan sendiri sewaktu di sebuah warung bakso ada seorang Ibu bersama anak ceweknya (mungkin warga DKI Jaya) menyempatkan mampir ke warung sekedar bersalaman dengan penjual baksonya yang masih relatip muda dan mengucapkan "Sugeng Riyadi, Rebat Cekap" (Selamat Berlebaran, maaf keburu-buru). Kemudian disusul anaknya ikutan salaman dan (mungkin karena tak bisa bahasa Jawa) cuman nyengir doang kemudian langsung pergi lagi. Meskipun suasananya kelihatannya betul-betul datar dan biasa saja, tapi tetap terasa laen emang kalo yang mampir itu datang dari nun jauh disana. Di jalan kami melihat spanduk reuni SMA Wonosari. Isteri saya nyeletuk, "Kayaknya asyik tuh ikutan reuninya". Saya heran, "Ngapain?". Jawabnya, "Ya... buat cari info siapa juragan bakso paling top di Ibukota".

Apapaun latar belakang dan motivasinya, bagi banyak orang kembali ke asal merupakan hal yang membahagiakan. Namun tentu saja hal yang membahagiakan tersebut tidak bisa non-stop 24-h/7-d sepanjang tahun (istilah perteleponan: 99.999%). Habis terang terjadilah gelap, habis libur haruslah kembali ke kewajiban rutinitas sesuai tuntutan profesinya. Maksudnya, para pekerja kembali bekerja, para pelajar/mahasiswa kembali bersekolah/kuliah, para petugas kembali bertugas, para aktivis kembali beraktivitas.

Setelah mudik atau berlibur ke dunia nyata, tak ada salahnya kembali beraktivitas di dunia maya. Apalagi saat ini netter Indonesia sudah mulai kembali dipercaya oleh pelaku masyarakat internasional. Saya termasuk orang yang mempercayai bahwa dunia maya bisa mengandung potensi manfaat yang tak kalah dari dunia nyata sekeliling kita. Saya rasa tidaklah terlalu berlebihan jika saya punya angan-angan di dunia maya akan menjumpai kawan dan lawan yang memiliki kemampuan berkomunikasi lebih lugas dan jelas, berwawasan lebih luas dan berkualitas, serta berpikiran lebih cerdas dan lebih waras daripada saya. So syukur-syukur saya bisa ketularan dikit gitu lhoh?

Thursday, November 02, 2006

Kembali Dipercaya

Mudik lebaran bukanlah tradisi rutin tahunan saya. Saya lebih sering berlebaran ke orang-tua isteri yang kebetulan satu kota dimana saya tinggal. Namun hal ini tidak berarti saya dilarang oleh isteri menjumpai orang tua sendiri di kampung halaman setiap tahunnya. Paling tidak, setiap tahun kami menjalankan tradisi ruwahan yaitu suatu ritual yang dijalankan dalam periode 1 bulan sebelum ramadhan (bulan Ruwah) dengan cara pergi ziarah ke makam-makam orang-tua, para leluhur dan handai-taulan yang telah mendahului. Berkat tradisi ruwahan inilah saya berkesempatan kopi darat dengan orang tua sendiri di kampung halaman setiap tahunnya. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2006-M ini merupakan tahun yang istimewa. Disamping berkesempatan mudik lebaran bersama segenap keluarga kandung saya, kami juga berkesempatan menjalankan ruwahan di 3 kota YMS (Yogyakarta, Magelang, Semarang). Biasanya ruwahan kami sebatas YM-an saja. Kami membeli karcis mudik lebaran pp sudah sekitar 2 bulan yang lalu, sekalian beli karcis pp pada awal-awal bulan Ruwah 1939-J (= 1427-H) yang merupakan tahun Alip ini. Setelah ziarah ke makam-makam di YM, berkat kemurahan hati keluarga adik yang mau meminjamkan (= gratis) Nisan Serena barunya dan berkat kebaikan keluarga kerabat dari Magelang yang mau menyediakan layanan gaet sukarela (gratis juga, padahal jika dikategorikan layanannya bukan basic atau plus-plus lagi tapi rasa-rasanya sudah lebih dari premium rate) maka kami pun berombongan ziarah ke kota Semarang. Di Semarang rombongan menuju ke makam Girilaya Cantung, Jl. Tegalsari, kecamatan Candisari Semarang. Kompleks pemakaman itu berkontur bukit dan di puncaknya terdapat makam Kyai Bantar Angin aka Mbah Bantarangin. Meskipun ada kesamaan nama saya tidak tahu apakah ini kebetulan semata ataukah ada hubungannya dengan tombak pusaka milik Paku Alam VIII yang saat ini maintenance-nya diserahkan ke Pemda Kulonprogo DIY. Menurut kitab Babad Jawa, nama Bantar Angin telah menginspirasi Ki Ageng Mirah pada era Raden Patah (abad XV, paska era Majapahit) mengarang nama sebuah kerajaan dongeng di Kediri yang rajanya bernama Kelono Sewandono. Dongeng ini memasukkan unsur-unsur islami di kesenian barongan yang merupakan cikal bakal Reog Ponorogo. Adapun warga Blitar dan sekitarnya punya legenda tersendiri. Mereka percaya kerajaan yang lengkapnya bernama Bantar Angin Lodoyo sungguh-sungguh ada di wilayah Blitar dengan rajanya bernama Kelono Jatikusumo dan penggantinya bernama Kelono Joyoko. Setidaknya nama Bantar Angin tidak hanya dikenal di Semarang tapi juga Jogja, Kediri, Ponorogo dan Blitar. Bisa jadi nama ini adalah nama pasaran tempoe doeloe, mungkin kalau masa kini mirip nama-nama lintas SARA seperti Agus, Arif, Budi, Rita, Siska, Yanti, dsb. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga (2002, dengan redaktur pelaksana Sri Sukesi Adiwimarta, dkk), kata bantar berarti pencegah atau penangkal penyakit dsb. Say rasa bahasa populernya kini bantar angin adalah tolak angin, seperti nama produk-produk jamu untuk penyakit masuk angin. Saya jadi bertanya-tanya dalam pikiran, apa mungkin Kyai Bantar Angin menyandang gelar ini gara-gara terkenal kesaktiannya dalam menyembuhkan penyakit-penyakit masuk angin pada masanya ya? Meskipun kami musti antri untuk memasuki bangunan utama makam dimana terdapat cungkup (makam kelas VIP) Kyai Bantar Angin, namun antrian tersebut tidaklah sebanyak ruwahan di makam tokoh pejuang terkenal terhadap penjajahan Belanda ke cungkup Sultan Agung Hanyokrokusumo di bukit Pajimatan, desa Imogiri - DIY. Tahun ini kami memang tidak berencana ruwahan ke astana Imogiri (semoga Tuhan mengampuni kami). Kabarnya banyak bangungan makam runtuh akibat bencana Gempa Bumi pada Sabtu Wage 27 Mei 2006-M yang lalu. Saya juga menyempatkan diri ziarah ke makam Prof. Mr. Koesoemadi Poedjosewojo yang letaknya kira-kira satu tahapan dibawah bangunan makam Kiai Bantar Angin. Menurut sejarah, beliau adalah seorang co-founder Tata Hukum Indonesia yang pernah menjabat dekan Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada era Bung Karno. Nisan Prof. Koesoemadi Poedjosewojo SH Mungkin karena terbawa suasana siapa yang sedang di sekar saat itu, sempat terbetik doa dalam hati agar citra hukum Indonesia kembali dipercaya oleh masyarakat internasional. Kurang lebih sebulan setelah saya nyekar, PayPal sebuah perusahaan jasa pembayaran via internet yang paling populer saat ini mulai mau membuka kepercayaan pembayaran dari Indonesia. Meskipun belum dipercaya penuh yaitu belum dibukanya kembali pembayaran ke Indonesia dan belum tentu langkah PayPal ini diikuti oleh perusahaan jasa pembayaran internasional lainnya, namun berita ini lumayan menggembirakan. Konon kepercayaan PayPal berkat ikhtiar swadaya dari kalangan pengguna internet baik perorangan ataupun secara berkelompok. Sampai saat ini saya belum pernah dengar pernyataan resmi maupun tak resmi dari kalangan pemerintah yang mengklaim bahwa kepercayaan PayPal tersebut adalah hasil lobi-lobi mereka. Saya merasa beruntung karena penantian saya selama ini tak sia-sia. Kartu kredit saya masih saya perpanjang tiap tahunnya meskipun praktis tidak pernah dipakai sejak kurang-lebih 5 tahunan yang lalu gara-gara diskriminasi terhadap para pengguna internet Indonesia. Diskriminasi ini lebih banyak disebabkan oleh krisis kepercayaan internasional terhadap kemauan (atau kemampuan?) pemerintah RI dalam menangani masalah-masalah tata hukum di Indonesia termasuk dalam penanganan masalah-masalah carding dan frauds. Setidaknya pada suasana Idul Fitri ini kalangan pengguna internet Indonesia bisa mengobati dendam kesumatnya selama ini terhadap kalangan carder dan fraudster serta modah-modahan juga bisa memaafkan kekurangmampuan pemerintah selama ini dalam menangani masalah-masalah hukum. Memang sih, ada kalanya memaafkan terasa jauh lebih susah daripada mencari rekanan, namun saya rasa tak ada salahnya kita berprasangka positip bahwa pemerintah RI saat ini punya kemauan dan kemampuan mengangkat kembali citra Indonesia dalam menangani masalah-masalah hukum di negerinya. Sebagai orang yang awam hukum saya hanya bisa berprasangka positip dan berharap paling tidak bisa sama saat sebelum terjadi krisis kepercayaan Internasional terhadap penegakan hukum di Indonesia. Syukur-syukur bisa lebih dipercaya.

Wednesday, November 01, 2006

Kembali dari Mudik

Wadu!... Jakarte lagi, Jakarte lagi. Mending ikutan trend ngeBlog aja. Eh, tapi enaknya post apaan ya?
Hastu Reloaded by HW
Bobo dulu ah, soalnya masih males mikir n lagian dah ngantuk nih. BRB