Manusia hidup jangan hanya menuruti hawa nafsu demi memenuhi hasrat duniawi semata. Maka secara manusiawi manusia juga berdoa dan berusaha untuk bekal kehidupan syurgawi kelak. Namun manusia sehebat apapun tak bisa terbebas dari nafsu dan dosa yang akan mendapat ganjaran setimpal secara nerakawi.
Manusia pun berandai andai untuk masa depannya yang andaikatapun pun tak bisa meraih puncak syurgawi sesuai expektasi, ya minimal mendapat ganjaran nerakawi yang paling enak, nyaman dan aman.
Saturday, March 06, 2010
NKRI : Neraka Khas Republik Indonesia
Tuesday, February 16, 2010
GONG XI FAT CAI
Glory comes from daring to begin
Once we have lack we never go back
Nothing is difficult to those who have the passion
Gain strength to accomplish everything we believe we can
Sunday, January 31, 2010
Tipe Sales
Setiap manusia pada dasarnya punya unsur sales, at least nyales untuk dirinya sendiri sehingga bisa laku or dihargai sesuai harkat, martabat, etc. oleh 'pembeli'nya, baik itu kantor tempat bekerja, lingkungan sosialnya atau betul2 pembeli dirinya bak seorang profesional yg dihargai sesuai nilai jual dirinya.
Sunday, October 25, 2009
Ramalan Peramal
Thanks to status2 fb so saia bisa inget kembali kejadian Selasa 20/10'09 lalu yang menurutku amat mengesankan coz saia baru skali ini ngalamin jumpa makhluk berbulu kek ginian ini. Biar ga lekas lupa saia catet sebagai Notes pertama di akun fb akun ini (Jimi Jiwa Mitos, d/h Jimi Jiwa Musik).
Saturday, October 24, 2009
Leave or Love Your Wife
Hari ini air tak ngalir, jadi keinget kisah sumur tetangga di kampung dulu deh.
Waktu itu sejoli pasutri tinggal di sebuah rumah yang ada sumurnya di halaman belakang rumah. Semua tetangga di kampung tahu semua kalo sang istri cerewetnya minta ampun, terutama ke suaminya. Tiap hari selalu ada aja yang salah atau kurang. Tak jarang pula, kesalahan-kesalahan masa lalu suami diungkit-ungkit melulu. Mana kalo lagi cerewet, ngomel-ngomelnya kenceng banget sampe kedengaran tetangga sekitar.
Friday, October 09, 2009
Berhaji atau Menyumbang
Tadi jumatan saya ga ketiduran terbuai merdunya alunan janji janji syurga sang pengkotbah sehingga bisa mendengarkan end-to-end kotbahnya pak khotib Prof. Dr. H. Fauzan Misra El Muhammad, MA di masjid Istiqlal. Kayaknya sih dipancarsiarkan secara langsung oleh RRI koz saya liat ada mobil siaran RRI diparkir ditempat biasanya siaran. Saya tak mencatat kata per kata yang diucapkan beliau, selain hanya berusaha mengingatnya saja kurleb konten kotbahnya. Ah, agar tak lekas lupa maka saya catatkan disini ya.
Friday, August 21, 2009
Jangan Takut Berubah!

Sebagai manusia dhoif dan naif tentu kita tak luput dari coreng moreng kesalahan dan dosa yang telah kita bikin sendiri. Bagi sobat-sobit yang beragama Islam maka hari ini adalah hari terakhir padusan sebelum memasuki pergantian ke bulan Ramadhan. Secara harfiah kata padusan disini bisa diartikan sebagai mandi badan all-in. Secara kiasan bisa dimaknai sebagai membersihkan juga pikiran, hati, dan jiwa prasiapan memasuki jalur perubahan. Selama dalam jalur perubahan ini maka para peserta diwajibkan menjalankan ibadah-ibadah demi perbaikan akhlak dan moral yang ditandai dengan ritual utama yaitu puasa sehari-hari dengan dalam jangka waktu 1 bulan.
Paska melalui jalur perubahan di bulan Ramadhan ini diharapkan nantinya para peserta bisa sakses berubah menjadi seindah aslinya alias fitri secara lahir bathin dengan ditandai tradisi saling mohon maaf lahir bathin di hari raya idul fitri kelak.
Sebelum memasuki bulan Ramadahan maka selama bulan ruwah (sya'ban) ini orang membersihkan pikiran, hati dan jiwa melalui tradisi ruwahan ataupun aktivitas-aktivitas lain sebagai pemaknaan dari refleksi dan introspeksi atas kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat selama ini. Bagaikan menambal ban tradisionil (bukan ban nitrogen), maka ban tersebut harus dibersihkan terlebih dahulu dari paku-paku dan segala kemungkinan penyebab kebocoran.
Tradisi ruwahan ini dimaksudkan sebagai media untuk membakar keangkuhan diri dengan legowo untuk rela mengalah, mau merasa salah, dan mau mengakui memiliki banyak kelemahan melalui ritual aktivitas sesuai keyakinannya. Misalnya meminta maaf kepada handai taulan baik yang rohnya masih berada di dunia fana maupun yang sudah berada di dunia ghaib. Raga boleh saja rusak atau musnah, tapi roh diyakini berpindah ke dunia halus, yang saking halusnya maka tak kasat mata. Barangkali inilah alasannya, sewaktu beberapa hari lalu saya membeli bunga untuk nyekar ke makam-makam keluarga di jokja, di depan warung bunga tersebut tertulis papan nama:
"Warung Makan Roh Halus".
Konon... hare gene sgalanya serba butuh duit. Jangankan yang masih hidup, orang mati pun juga butuh duit bo! Bagaimanapun bagi insan beragama perubahan dari hidup ke mati tak perlu ditakuti karena insan beragama memiliki keyakinan akan masuk syurga, suatu lokasi yang jauh lebih mewah dan indah dari lokasi manapun di dunia fana ini. Dengan demikian insan beragama sudah pasti ingin masuk syurga. Bagaimana mungkin akan masuk syurga bila tak melalui mati khan?!
Salah satu ciri manusia hidup adalah menginginkan perubahan-perubahan... meskipun diinginkan ataukah tidak setiap manusia pasti mengalami perubahan. Hanya saja tidak semua manusia mau atau mampu bersabar menanti perubahan-perubahan yang diinginkan tersebut terwujud menjadi kenyataan. Akibat yang parah adalah manusia tersebut bisa menjadi putus asa dan frustasi oleh persepsi-persepsi dan ilusi-ilusi yang dibangunnya sendiri. Semakin lama persepsi-persepsi dan ilusi-ilusi tersebut menggumpal menjadi keyakinan akan kebenaran yang solid dan valid bagi dirinya untuk mewujudkan keinginan perubahan-perubahannya.
Keinginan perubahan bisa bermacam-macam sebagaimana prioritas kebutuhan manusia juga bermacam-macam baik diakuinya ataupun tak diakuinya. Ada yang membutuhkan materi, kesehatan, kenyamanan, pengakuan (narsis), popularitas (populis), kepuasan ego (egois), dll. Terlepas kebutuhan mana yang paling pantas diprioritaskan menurut garis tangannya, bagi saya keputus-asaan dan frustasi gabungan kebutuhan populis dan egois yang paling membahayakan banyak orang lain disamping dirinya sendiri.
Ciri-ciri manusia tipe ini adalah memiliki keyakinan tinggi akan ilusi-ilusi yang dibangunnya sendiri sehingga diyakininya persepsi-persepsi dan ilusi-ilusinya tersebut kebenarannya valid menurut dirinya meskipun belum tentu ada atau kalaupun ada maka minim sekali orang lain yang memberikan validasi atas kebenaran yang diyakininya tersebut. Meminjam istilah kalimat populer, orang tersebut biasanya... nafsu mendominasi dan tak rela orang lain yang dominan, keras kepala, tak pernah mau mengalah apalagi merasa kalah, tak pernah mau merasa salah apalagi disalahkan, close minded terhadap saran apalagi kritik, rigid terhadap perbedaan-perbedaan pendapat orang-orang atau pihak-pihak lain, rigid terhadap perubahan pendapat ataupun keyakinan, serta tak mau tahu atas kenyamanan atau bahkan kesalamatan orang-orang atau pihak-pihak lain akibat keyakinannya demi mengejar kepuasan nafsu egonya sendiri.
Apabila lingkup nafsu kepuasan egonya itu untuk dirinya sendiri, maka akibat buruk dari frustasi bagi orang itu paling-paling MPP (Mati Pelan-Pelan) ala pecandu narkoba OD ataupun hidup di bui ala koruptor dan penjahat jenis lainnya. Orang lain yang terkena dampaknya adalah keluarga dan kerabat dekat saja. Namun bila nafsu populisnya juga tinggi atau dengan kata lain bila efek nafsu kepuasan egonya itu ingin juga dirasakan oleh banyak orang atau pihak lain, maka akibat buruk dari frustasinya bisa-bisa berdampak bagi masyarakat luas.
Seperti halnya kasus aksi pengeboman di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton lalu oleh Nurdin M. Top dkk, adalah contoh kasus dari ungkapan keputus-asaan dan frustasi dari segelintir orang dalam mengejar kebutuhan egois dan sekaligus kebutuhan populis dalam konteks diatas. Mereka adalah orang-orang yang putus asa dan frustasi untuk berikhtiar menuju perubahan keinginan-keinginannya sendiri tanpa mau memperdulikan protokol ataupun tatanan yang telah susah payah dibangun dan disepakati bersama. Mereka juga tak peduli apakah aksi-aksinya tersebut menumbalkan kenyamanan ataupun kesalamatan orang-orang lain akibat kebutuhan kepuasan ego dan kebutuhan populisnya dalam mengumbar nafsu untuk menebarkan efek dari cara-cara berexpresi dirinya.
Memang, siapapun mengakui tak ada protokol, tatanan atau hukum yang sempurna mengakomodir kebutuhan segenap umat, namun tidak lantas berarti bahwa protokol, tatanan dan hukum tersebut tidak bisa mengalami perubahan-perubahan yang semakin lama akan semakin bisa memuaskan banyak pihak dan semakin meminimalkan minoritas yang belum terpuaskan.
Untuk merubah sistem yang paling jitu adalah dari dalam sistem itu sendiri. Misalnya, apabila sesorang memang betul-betul berniat melakukan perubahan dalam bidang hukum maka ia seharusnya belajar dan bekerja keras agar ia dipercaya oleh mayoritas sebagai orang yang layak berpartisipasi sebagai "ring 1" dalam melakukan perubahan dalam bidang hukum. Begitu juga bila menginginkan perubahan-perubahan dalam bidang-bidang lainnya, seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, dll. Bukannya malah membangun persepsi dan ilusi berdasarkan interpretasi sendiri yang bahkan bisa memporakrandakan kepentingan banyak orang karena merasa putus asa atau frustasi bahwa perubahan yang diinginkan tak bakalan terwujud bila melalui jalur prosedur yang berlaku atau bila mengikuti common sense. Dengan demikian jalur yang dipilihnya adalah jalur yang nggak make sense bagi kebanyakan orang.
Banyak diantara kita yang sering mendengar dari para orang yang mengaku dirinya sebagai inspirator ataupun motivator melalui berbagai media, baik dari buku, radio, tv sampai status-status facebook agar jangan takut berubah... jangan tak berubah... jangan takut berubah...
Namun menurut hemat saya, semangat jangan takut berubah tidak lantas mengumbar nafsu untuk berubah tanpa batas. Masih memerlukan kearifan atas dampak-dampaknya bagi kepentingan orang lain, baik dampak-dampak itu kita ingini maupun tidak kita inginkan. Seperti halnya ada banyak pihak yang tidak atau belum bisa menerima publikasi pornografi dan porno aksi karena mereka memandangnya publikasi tersebut vulgar meskipun para pelaku pornografi dan porno aksi tersebut berkeyakinan tak pernah berniat merugikan mereka yang tak menyukai kevulgaran. Begitu halnya dengan porno emosi dimana seseorang atau sekelompok orang mengumbar nafsu egonya untuk mempublikasikan expresi kemauannya sendiri secara vulgar tanpa pernah mempertimbangkan perasaan atau kenyamanan bahkan keselamatan orang-orang lain. Akibatnya ada orang-orang lain yang merasakan diteror oleh kevulgaran publikasi expresi kemauannya tersebut untuk menuju perubahan yang diinginkan oleh para pelaku porno emosi tersebut.
Banyak orang boleh saja mengutuk terorisme, namun kita tak lantas harus menjadi lebih hina dari para teroris tersebut dengan mengumbar nafsu sumpah serapah, mengumpat atau bahkan meniru pola-pola pikir atau bahkan pola aksi dan pola expresi emosi ala teroris dalam menebarkan teror, meskipun dalam lingkup yang lebih kecil sekalipun. Setiap manusia menginginkan perubahan seperti yang diharapkan maka diperlukan kearifan dalam mempublikasikan expresi atas kemauan perubahan yang kita inginkan.
Telaah ini saya tulis terutama untuk menasehati diri sendiri agar saya tak terlalu konslet untuk mulai berubah dari mabuk fesbuk ke dunia blog lagi setelah cukup lama saya tinggalkan tanpa perantara. Selanjutnya, jangan takut berubah kecuali berubah menjadi takut.
Selain takut berubah menjadi takut maka di dunia fana ini tak ada takut lain yang layak ditakuti, misalnya: takut ngeblog lagi, takut puasa, takut nafsu, takut berbeda, takut perbedaan, takut pembedaan, takut dibedakan, takut terbedakan, takut ... ... ...
Ah, sudahlah... mungkin saya masih kebawa nuansa film Ci(n)ta aja. Satu-satunya film dewasa non bule dan film indo non kanak-kanak yang main di Blitz kemaren. Ada juga sih film dewasa indo lainnya yaitu Merantau, namun masih mengandung bule-bule gitu-gitu de. Ini pertama kalinya saya nonton film dengan spek kayak gini di bioskop sejak.... (*lupa*). Mumpung belum puasa nonton film dewasa dulu lah karena takutnya..... *halah* kok masih ada takut-takut lain lagi ya?!
Puasa bukanlah sarana latihan untuk menghindar dari nafsu karena nafsu adalah bagian dari rahmat Illahi yang wajib disyukuri. Puasa bukan pula sarana untuk mengekang ataupun menahan-nahan hawa nafsu karena kalo ditahan dan ditahan teruuusss ... ... lama-lama bisa meledak malah bisa mengundang marabahaya. Puasa adalah media pembelajaran agar kita bisa lebih arif dalam mengendalikan nafsu daripada hanya sekedar mengumbar nafsu tanpa kontrol sama sekali.
Mari kita belajar berubah menjadi lebih baik diawali dari diri sendiri sebelum mengharapkan orang lain merubah dirinya ataupun mengharapkan orang lain merubah diri kita.
Bagi sobat-sobit yang beragama islam, selamat menjalankan perubahan dari pola makan harian legacy ke pola makan religi ala ramadhan 1430-H. Semoga juga berubah pola kearifan kita untuk mengendalikan nafsu-nafsu yang sebelumnya merugikan diri sendiri ataupun orang lain menjadi hasrat dan semangat untuk menebar amal kebajikan yang jauh lebih bijak dan bermanfaat dari sebelum berubah. Mohon maaf lahir batin yaa....
Sunday, July 26, 2009
Abang Tukang Mi Ayam pun Sibuk Mesbuk
Hari minggu pagi gini, kayaknya enak deh kalo sesekali jajan mi ayam keliling. Seorang penjual yang lumayan terkenal suka dipanggil mister Jackson ma mbak-mbak pembantu sekitar sini. Sedang bapak-bapak tukang yang sedang bangun rumah kos-kosan di depan rumah suka manggil 'Si Jek'. Konon, nama aslinya Joko dari Wonogiri. Ah mbohlah, ga penting-penting amat.
Pernah waktu itu dia pas standby depan rumah cengengesan mlulu bahkan suka cekikikan ndiri.
+ "Setunggal malih nggih Mas Jek."
- "Siap, laksanakan"
+ "Ngapain sih mas kok cekikian ndiri gitu?"
- "Biasaa..... Mas, sedang baca komen-komen friends atas status fesbuk saya nih"
Whuoooootsss?????
+ "Weleh..... Sampean ki mesbuk jugak to?!"
- "Yaialaaa..... Hare gene geto lho mas, kok gak fesbukan?!"
Lumayan buat keep customer loyal. Kan menurut pak Hermawan Kertajaya dalam berbisnis kita harus berani melakukan diferensiasi to mas?!
Gubrak!!
Siapa lagi tuh? Hermawan yang suka naek Kereta Jaya jurusan mana? Tuing tuing....
+ "Mangnya statusnya paan sih mas?" (iseng)
- "Nih saya bacain yaa... Promo hari ini, beli 2 gratis nambah kuah, beli 3 gratis nimbang... Takutnya anda obesitas. Mr. Jackson tak hanya melayani dengan hati... Namun juga ampela, usus n jeroan ayam lainnya."
Wow, so attractive maannn.... Ck ck ck......
Anehnya kok hp yang dia pake kok hp butut, malah karetan lagi. Mungkin cashingnya udah copot. Jauhlah ma hp 3G yg orang-orang biasa paket buat mesbuk ala BB, iPhone, Nexian, dsb.
+ "Eh Mas, emangnya hpnya itu udah GPRS?".
Mudah-mudahan dia ngerti apa itu GPRS. Susah ngebahasainnya.
- "Saya ga pake GPRS ato 3G kok, tinggal ngapdet status lewat SMS trus baca komen-komen friends dari SMS juga."
Hmmm.... Saya pernah dengar ada layanan akses fesbuk via SMS. Kalo ga salah ada paket mingguan dan bulanan gitu deh.
+ "Ngomong-ngomong, pake kartunya apa? Gimana caranya sih?"
- "Akh gampang, tinggal daftar saja ke Tri"
+ "Oh Mas Jek pake kartu Tri yang Anti Mati Gaya ituh? Gratis internetan sampai 1 MB per hari kan mas?"
- "Bukaaaaannn...... Tri itu pacar saya, nama lengkapnya Tri Mayangsari sama-sama dari Wonogiri. Sekarang kerjanya jaga warnet 24 jam di dekat pasar depan. Jadi kalo mau ngapdet status, tinggal SMS saja ke Tri, ntar dia yang konvert ke internet. Begitu juga kalo ada komen baru, Tri yang SMS ke saya. Begitulah. Paling sebagai balasannya saya kasih gratis semangkok mi ayam seminggu sekali. Mas Mau?"
Monday, June 08, 2009
Stop Perang Neo, Wujudkan Neo Indonesia
Rupanya lakon film trilogi Matrix bernama Neo yang jagoan ngeles peluru (bullet dodging) kembali naik daun populeritasnya. Banyak orang merasa jago ngeles secara Neo getto loh.
Pertama Neo Liberalisme atau akhir-akhir ini sering disingkat sebagai Neolib tiba-tiba merupakan istilah yang amat populer di masyarakat. Isyu ini mulai mencuat ke berbagai media massa paska penunjukan secara resmi Budiono sebagai Cawapres SBY. Ada yang bilang isyu ini sengaja dibesar-besarkan oleh pihak-pihak yang berseteru karena kepepet tak punya modal lain selain modal nekat kebelet menjatuhkan citra figur seorang Budiono yang notabene satu-satunya wajah baru di Pilpres 2009 ini. Namun ada juga yang bilang betapa bahayanya Neolib ini bagi kesejahteraan rakyat dan menuduh Budiono sebagai antek Neolib.
Seiring dengan populeritas istilah Neolib, muncul istilah baru lain yaitu Neo Feodal. Bila istilah liberal mengacu kepada kesamaan dan kebebasan hak siapapun untuk berpolitik, berdagang, dll, maka istilah feodal lebih mengacu kepada faktor bibit unggul. Keturunan pedagang pantasnya mah berdagang sajalaaah... Sedangkan pucuk pimpinan negeri pantasnya dijabat oleh keturunan tokoh-tokoh nomer satu negeri yang sedikit banyak telah berjasa bagi nusa bangsa. Sejarah dan legenda Indonesia pada umumnya istana-sentris sehingga nyaris tak pernah menceritakan kisah seorang rakyat jelata yang mampu membuat negara mendulang kejayaan di masanya. Namun banyak juga kisah keturunan raja-raja yang tak mampu mempertahankan status quo dinastinya atau malah membuat negara hancur berantakan. Artinya ada yang pro dan ada juga yang kontra soal pentingnya faktor keturunan bibit unggul bagi pasangan Capres/Cawapres ini.
Selain istilah Neolib dan Neo Feodal, ada lagi Neo ORBA. Istilah ini jauh lebih mudah difahami oleh masyarakat awam ditujukan kepada pasangan Capres/Cawapres dari partai mana yang selama era yang disebut sebagai era Orde Baru selalu mendominasi suara PEMILU. Saat ini istilah ORBA sudah berkonotasi buruk terutama bagi sebagian masyarakat di Jakarta dan kota-kota besar lain paska demo mahasiswa besar-besaran melawan rezim status quo dengan cara menuntut Soeharto mundur dari jabatan Presiden RI.
Intinya, baik istilah Neolib, Neo Feodal, dan Neo ORBA dimaksudkan sebagai ungkapan untuk menggambarkan kepada masyarakat akan ancaman keburukan dan keterpurukan bakal menimpa rakyat apabila pihak yang dituduh sebagai antek Neo-Neo tersebut berkuasa.
Kekhawatiran-kekhawatiran tersebut tentunya untuk menunjukkan kepada masyarakat bagaimana kepedulian mereka terhadap kesejahteraan rakyat. Masing-masing pihak sebenarnya sudah memiliki konsep yang diyakininya bisa mensejahterakan rakyat. Hanya saja ada yang merasa paranoid dengan konsep-konsep yang diyakini oleh pihak lain. Akibatnya bukan saling bergotong royong untuk sharing konsep namun malah saling menjatuhkan pihak lain, apapun konsep dan keyakinannya.
Di sebagian besar negara-negara Asia, termasuk Indonesia, figur pimpinan dan aparat pelaksananya jauh lebih dominan daripada konsep atau sistem yang diusung oleh pemerintahannya. Terlepas konsep atau sistem yang dianut apakah pro agamis, atheis, kapitalis, komunis, liberalis, sosialis, dll ada yang maju dan ada pula masa-masa terpuruknya.
Klaim pro ekonomi kerakyatan belum tentu menjalankan ekonomi kerakyatan secara murni dan konsekuen. Namanya juga sebatas Pro. Kalopun menjalankan sistem ekonomi kerakyatan (sosialis) belum tentu pejabatnya merakyat.
Buat apa pejabat dengan gaya hidup merakyat kalo tidak pernah bermanfaat bagi rakyat?! Boleh jadi pejabat yang merasa telah merakyat tapi hanya pro partai atau golongannya daripada Pro Rakyat. Bahkan bisa jadi para pejabat yang dipandang bergaya hidup borjuis hedonis malah lebih terasa manfaatnya bagi rakyat kebanyakan. Gaya hidup adalah hak pilihan setiap individu, sedangkan manfaat nyata bagi rakyat bisa dirasakan oleh rakyat itu sendri. Penampilan bisa saja membohongi, namun soal rasa... mana bisa bohong?!
Mayoritas rakyat yang bisa merasakan apakah segenap jajaran aparat pelaksana pemerintahan (dari presiden di istana sampai pejabat tingkat kecamatan ataupun kelurahan) lebih pro rakyat ketimbang pro konsep, sistem atau standard yang dianut oleh pemerintahan tersebut?!
Disinilah pentingnya profil moral dan mental kepribadian presiden dan wakil presiden sebagai figur pimpinan tertinggi di pemerintahan. Apabila figur pimpinan tidak pro rakyat, maka di Indonesia berlaku kurleb:
"Eh, ngapain repot-repot pro rakyat?? Bos-bos qt aj pada nggak pro rakyat kok. Enggak banget d...."
Andaikatapun pimpinan dan elit pejabat memiliki figur berprofil pro rakyat pun belum tentu otomatis menular sampai ke aparat pelaksana di paling bawah yang langsung berhubungan dengan masyarakat.
Dengan demikian profil figur pro rakyat saja belum mencukupi bagi seorang presiden RI, namun juga harus memiliki kemampuan membuat segenap aparaturnya memiliki moral dan mental pro rakyat juga.
Soal apakah moral dan mental pro rakyat telah sampai ke aparat pelaksana paling bawah yang langsung bisa dirasakan oleh masyarakat luas tentunya masing-masing individu bisa merasakannya sesuai dengan situasi, kondisi, lokasi, dll.
Contoh bagi masyarakat di Jakarta, apabila sedang berkendaraan tiba-tiba disemprit Pak Polisi di jalanan apakah kita akan merasa bersyukur telah diselamatkan dari mara bahaya kecelakaan akibat pelanggaran peraturan lalu-lintas ...... ataukah kita akan merasa ketakutan karena akan berdosa turut menghalalkan dana haram bagi kebutuhan keluarga polisi tersebut? Apakah presiden RI yang terpilih nanti bisa membuktikan polisi ataupun jajaran aparat sampai paling bawah memiliki jiwa melayani yang lebih pro rakyat dibandingkan pro nafsu egonya sendiri?
Bagi banyak orang contoh ini hanyalah satu contoh kasus yang teramat kecil bila dibandingkan dengan berbagai permasalahan negeri ini. Kembali kepada individu masing-masing, layanan masyarakat mana yang paling bisa dirasakan dari para aparat pelaksana dari sistem pemerintahan. Apabila moral dan mental aparat pelaksana selama ini dinilai minus maka tentunya mengharapkan perubahan ke Indonesia yang sama sekali baru dibandingkan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Bukannya malah para tokoh-tokohnya pada kisruh tawuran sendiri saling menjatuhkan dan meneladani main ledek-ledekan secara perang Neo-Neo di berbagai media massa yang semakin membingungkan masyarakat awam saja.
Ada wacana yang menyebutkan bahwa kekisruhan perang Neo-Neo tersebut menjelang Pilpres ini ujung-ujungnya gara-gara ambisi 3 jenderal yang disebut sebagai Jenderal SUWOTO (SUsilo, praboWO, wiranTO) dalam adu strategi memenangkan game Pilpres 2009 ini. Omaigaaat... mosok sih negara jadi ajang permainan dengan rakyat sebagai taruhannya?! Dooh.... ?!@&#*
Sudah sejak jaman pra jahiliyah yang namanya pertikaian gara-gara ambisi elit politik terbukti hanya menyengsarakan rakyat kebanyakan disamping dendam kesumat antar trah ningrat turun temurun.
Andaikata ketiga Jendral SUWOTO tersebut mau bersatu padu dan sharing strategi untuk satu Neo yaitu Neo Indonesia, tentunya akan amat membantu bangsa dan rakyat indonesia mewujudkan the real Neo Indonesia.
Dengan demikian tidak perlu lagi saling fanatik masing-masing strategi dengan menjatuhkan pihak lain namun justru mengsinergikan strategi, misalnya dengan slogan:
LANJUTKAN MAKIN PRO RAKYAT, LEBIH CEPAT LEBIH BAIK
Sebagai manusia biasa aja yang sudah teramat 'nnegh dengan pertikaian-pertikaian para CaPres (Calo-calo Pilpres) menjelang Pilpres ini, kita hanya bisa berdoa, semoga Tuhan mencukupkan 1 putaran saja pilpres 2009 secara sukses dan damai. Kita harus mau mengakui bahwa ketiga pasangan adalah jagoan-jagoan terbaik negeri saat ini, karena itulah mereka yang maju. So siapapun yang nantinya menang wajib kita dukung sepenuhnya untuk membutikan bahwa bersama-sama kita bisa mewujudkan Neo Indonesia yang berpihak ke masa depan anak bangsa Republik Indonesia.

