Monday, November 13, 2006

Mobil Cina

Hari ini banyak koran yang memberitakan pembalap Indonesia Ananda Mikola mengalami gatot (gagal total) gara-gara DRS Med (Dereng Rampung Sampun Medal) alias sudah keluar arena sebelum menyelesaikan semua lap di lomba balap mobil A1 di Beijing (Peking). Sirkuit di Beijing ini merupakan sirkuit internasional terbaru Cina setelah ZIT (Zhuhai International Circuit - 1996) dan SIC (Shanghai - 2004) yang telah beberapa kali dipakai buat balapan F1. Hal ini menunjukkan keseriusan Cina dalam industri mobil international.

Sekitar 2 mingguan lalu Presiden Perancis Jacques Chirac meletakkan batu pertama peresmian pembangunan pabrik Peugeot di Wuhan. Pabrik ini pengganti pabrik terbesarnya di Ryton, Inggris yang direncanakan tutup tahun 2007. Alasannya klasik, biaya produksi di Cina jauh lebih murah. Bisa jadi nanti-nantinya harga mobil baru Jepang tidak selalu lebih murah dari mobil yang selama ini dikenal sebagai mobil merek Eropa sekelasnya, misalnya sedan Toyota Camri 2.4G matic akan lebih mahal dari Peugeot 408 Coupe Le Mans. Mungkinkah?

Peugeot Made in China

Sunday, November 12, 2006

Kendaraan Siap Banjir

 Kendaraan Kendaraan Siap Siap Banjir"Soni! Soni! Soni!... kalo gede mau naik apa?"

Ini adalah sepenggal bait plesetan dari lagu Susan (Ria Ernes) tapi lebih diperuntukan buat anak laki-laki. Entah anaknya yang seneng mobil-mobilan ataukah Bapaknya yang seneng mobil beneran.

Di banyak kalangan terutama di kota-kota besar, laki-laki suka merasa kendaraan menunjukkan bonafid tidaknya dirinya, perusahaannya atau orangtuanya. Bagi karyawan yang wajib pergi-pulang ke kantor setiap hari kerja, maka kendaraan merupakan modal utama produktivitas. Apalagi di Jakarta, banyak karyawan yang mengandalkan kendaraan pribadi karena memang fasilitas angkutan umum belum memadai.

Menjelang musim hujan seperti sekarang banyak warga Jakarta yang khawatir bahwa musim hujan adalah musim masalah. Bukan hanya masalah banjir bandang namun juga masalah transportasi saat banjir. Barangkali karena itulah saat ini di jalanan ibukota banyak berseliweran mobil-mobil jenis siap banjir ala Mitsubishi L200 Strada, Ford Ranger, Mazda B2500 Fighter, Nissan Frontier dan Navara, Isuzu D-Max, ....

Mobil-mobil jenis ini selain kokoh dan tinggi untuk melewati banjir, juga dilengkapi dengan bak terbuka di belakang untuk jaga-jaga mengangkut barang-barang yang bisa diselamatkan andaikata rumahnya kebanjiran.

Bagi yang belum mampu beli mobil jenis siap banjir, mungkin tak ada salahnya mempertimbangkan motor siap banjir di pameran motor di JHCC. Meskipun tidak bisa mengangkut banyak barang bila rumahnya kebanjiran, setidaknya bisa sebagai transportasi alternatip jika jalanan banjir dan sulit dilewati kendaraan biasa yang tidak dirancang khusus untuk melewati medan seperti itu.

Naik motor gede tak khawatir tilang
Cari motor trail antisipasi banjir
Harree genneee ke Balai Sidang
Bawa mobil susah ngurusi parkir

Lebih enakan naik ojek, sarana angkutan umum swasta pelat hitam. Bener juga dugaan saya, di pintu masuk Senayan saja mobil sudah antri panjang sekali. Biasanya sih kalo sudah begini, untuk parkirnya saja lama banget karena untuk masuk ke Senayan saja sudah lama, ditambah di dalam Senayan pun cari parkiran tidaklah gampang saking penuhnya. Belum lagi sakit hati dipalakin (mengemis tapi maksa) gali (okem) di area parkiran minimal tiga rebong tanpa karcis, kuitansi atau tanda bukti pembayaran sama sekali!

Kalo pengunjung pameran naik angkutan umum atau jalan kaki, wajar saja mereka nonton pameran motor buat perbandingan mau beli motor. Kalo pun pengunjung naik motor pun saya tak heran, karena mungkin pengin ganti motor yang lebih bagus. Lha kalo pengunjung yang naik mobil sebanyak itu, saya tak yakin apa motivasi mereka selain kurangnya sarana hiburan keluarga yang terjangkau di Jakarta. Bisa jadi mereka ke pameran dalam rangka mencari motor siap banjir, itung-itung sedia payung sebelum hujan.

Namun bagi mereka yang mau cari kendaraan siap banjir barangkali pameran ini tidaklah begitu istimewa. Tidak semua merek memamerkan motor trailnya atau motor yang dirancang khusus untuk jalanan banjir. Kalaupun ada cuma pajangan dan tidak ada harganya. Stand KTM juga tak nampak. Kalau pun saya ikut-ikutan banyak pengunjung lain untuk moto-moto sana-sini, itu bukannya karena saya tertarik terhadap obyek yang saya foto tapi ogah rugi aja karena sama-sama mbayar Rp. 20K untuk masuk pameran.

Oh ya, saya jadi ingat, biasanya tiap minggu ada MX1 di TV. Mendingan nonton TV aja.

Saturday, November 11, 2006

Peringatan Hari Kematian

Hari Pahlawan 10 Nopember kemaren mengingatkan saya bagaimana orang tua kami merancang nama buat salah seorang adik saya. Barangkali adik saya waktu itu diramalkan akan lahir tepat di hari pahlawan. Oleh karena itu dipersiapkanlah nama Pahalawan, asal kata istilah Pahlawan yang berarti orang yang diharapkan memperoleh banyak pahala atau penghargaan. Jika meleset 1 hari, maka akan dikurangi hurup 'aw' menjadi nama Pahalan. Namun kenyataannya ramalan tersebut meleset 2 hari, sehingga nama tersebut mendapat sisipan (jw: seselan) 'in' seperti dalam kata kinerja atau dalam bahasa jawa: kinenthu, pinisepuh, dsb.

Pengetan Sedanipun KGP A MangkubumiDalam budaya jawa, peringatan hari kelahiran seseorang (happy birthday) tidaklah umum. Kalaupun akan diadakan peringatan terhadap seseorang, yang diperingati adalah hari kematiannya seperti peringatan-peringatan 3, 7, 40, 100, 1000 hari disamping ulang tahunan yang dihitung sejak hari kematian orang tersebut. Ada kalanya orang yang telah lama tiada masih diperingati hari kematiannya seperti misalnya tokoh-tokoh terkenal Alfred Nobel, Ayatollah Khomeini, Mahatma Gandhi. Demikian juga bangsa Indonesia, secara resmi tidak mengenal peringatan hari kelahiran tokoh atau pahlawan nasionalnya, melainkan hanya mengenal peringatan hari kematian para pahlawannya setiap tahunnya.

Terlepas mana yang lebih baik: apakah memperingati ulang tahun hari kematian ataukah hari kelahiran, yang jelas hari ini saya tidak ada rencana beli kado sebagai hadiah ulang tahun hari kelahiran adik saya besok.

Friday, November 10, 2006

Pejabat Yang Merakyat

Hari ini pergi jumatan rame-rame bersama rekan-rekan ke masjid Istiqlal. Selepas salat saya lihat Pak Burhanuddin Abdullah, Gubernur Bank Indonesia, berada satu baris di belakang saya. Saya tidak tahu apakah beliau satu-satunya pejabat tinggi negara yang bila jumatan di Istiqlal tidak pernah di VIP (di belakang imam), ataukah kami tahunya hanya beliau saja dari ribuan umat yang jumatan. Yang jelas, beliau juga sering pergi jumatan rame-rame bersama rekan-rekannya ke masjid Istiqlal.

Di tempat biasa kami memakai sepatu, seorang rekan entah berkomentar atau bertanya:
"Pak Abdullah itu pejabat yang merakyat, ya Pak? Biasanya pejabat tinggi negara khan lewat pintu VIP tapi beliau kok mau selalu lewat pintu biasa seperti kita-kita saja ya?"

Rupanya pertanyaan atau komentar rekan saya tersebut berlatar-belakang: dari mata turun ke hati. Apa yang nampak dimata menjadi buah hati. Tanpa sok merakyat, orang akan dengan mudah menilainya secara spontan dan jujur. Merakyat diartikannya sebagai mudah dipahami dan diteladani oleh rakyat.

Merasa tak yakin apakah rekan saya tersebut sekedar berkomentar atau serius bertanya, saya pun balik bertanya:
"Mana yang lebih baik: pejabat yang merakyat ataukah pejabat yang bermanfaat buat rakyat?"

Siapa pun tahu maunya sih dua-duanya, tapi ini bukanlah jawaban dari pertanyaan tersebut. Tidak banyak individu yang punya segalanya, meskipun banyak individu ingin punya segalanya. Misalnya ingin cerdas, berpendidikan tinggi, kaya raya, baik hati, mandiri, pintar bergaul, pintar berdandan, pintar masak, setia, cantik lagi. Tidak bisa semuanya sama rata, mau tidak mau harus memilih (atau terpilih) sesuai bakat dan minat masing-masing individu. Mungkin karena bingung atau ragu-ragu sama jawabannya sendiri, rekan saya tersebut balik menanyakan apa jawaban yang benar.
Saya jawab:
"Itu khan urusan ilmu sospol. Kuliah di sospol pun saya belum pernah, bagaimana saya bisa menjawabnya dengan benar?!"

Thursday, November 09, 2006

Marketing Remang-Remang

Remang-remang clubbing di Ibukota
Bagi sebagian praktisi penjualan (sales) dan pemasaran (marketer), kegiatan profesi di nite club, cafe, lounge atau tempat remang-remang lain adalah hal yang lumrah atau pernah dilakukan. Ada kalanya kegiatan tersebut berupa clubbing yaitu acara kumpul bareng komunitas tertentu di tempat remang-remang. Clubbing berbeda dengan resepsi pernikahan yang umumnya diselenggarakan di tempat terang benderang dengan undangan dari berbagai kalangan. Clubbing bisa dilaksanakan secara swasembada atau disponsori oleh suatu perusahaan sebagai bagian dari strategi marketing. Barangkali atas dasar inilah, sebuah kantor representatip produk telekomunikasi menyelenggarakan clubbing untuk komunitas para sales dan marketer distributornya di Jakarta.

Setelah menjemput seorang teman dari rumahnya, kami berlima berangkat ke undangan clubing tersebut. Mungkin gara-gara salah milih jalan atau memang pas lalu-lintas lagi macet total, rasanya perjalanan jadi lama nian. Apalagi kami tidak bawa sopir sehingga di jalan suka ragu-ragu dan berdebat sendiri mau lewat mana. Saya beberapa kali terima telpon selama perjalanan. Ada yang mau memberi tahu tentang undangan ini, ada yang mempertanyakan berangkat-tidaknya saya ke undangan ini, ada pula yang terus terang khawatir bisa-bisa acara sudah bubar saat kami sampai.

Kalau dilihat dari jam undangan, jelaslah kami datang terlambat beberapa jam di cafe remang-remang tersebut. Bisa jadi banyak acara terlewatkan tapi untungnya acara terakhir khusus fun belum dimulai. Clubing seperti ini biasanya diawali orasi-orasi para pejabat pihak sponsor kemudian dilanjutkan dengan promosi-promosi marketing dan presentasi-presentasi teknologi terbaru mereka. Terlepas dari asas manfaat, kebetulan saja saya memang lagi males banget sama yang namanya marketing dan teknologi apalagi di acara model beginian.

Ada puluhan tamu undangan dari beberapa perusahaan, sebagian besar saya kenal karena memang masih didominasi oleh muka-muka lama tapi banyak juga yang belum saya kenal termasuk MC-nya. Oleh karena itulah sewaktu kami masuk ruangan, saya sempatkan berkenalan dengan sang MC, yang sepertinya sengaja disewa oleh pihak sponsor dari perusahaan EO (Event Organizer). Saya pikir hal ini wajar saja, sebagai tamu apalagi terlambat banget maka saya merasa berkewajiban memperkenalkan diri ke MC yang notabene mewakili tuan rumah. Paling tidak daripada dituduh sebagai tamu tak diundang. Anehnya hal ini mengundang tawa riuh para hadirin. Ada teman yang berbisik bahwa sebelum kami datang suasananya kurang begitu seru padahal katanya di undangannya dicetak besar-besar Full Surprises.

Selain disediakan hidangan makan malam, disediakan juga permainan-permainan olah-raga indoor seperti sepak bola mini, basket mini (handsal?) dan bilyard. Acara ini diakhiri dengan pemberian hadiah untuk bintang tamu hasil pilihan MC sendiri. Tentu saja, yang dimaksud MC bukanlah artis kondang yang sengaja diundang oleh EO untuk turut memeriahkan suasana, melainkan tamu undangan yang dinilai telah men-support kinerja EO dalam memeriahkan suasana. Tak salah pihak sponsor memilih EO ini, MC-nya memang pintar.

Wednesday, November 08, 2006

Financial Freedom

Membaca koran Media Indonesia hari ini terasa ada yang kurang sreg saat membaca judul besar di halaman 8, "Saya Tidak Berniat Korupsi" yang merupakan pernyataan Nur Mahmudi Ismail, walikota Depok. di gedung DPRD Depok.

Dari berita tersebut sulit memahami dimana kaitannya antara sidang DPRD yang diberitakan dengan niat pribadi pada judul berita tersebut. Lazimnya pimpinan pemerintahan rapat dengan anggota DPRD dalam rangka memperjuangkan atau melaporkan gagasan, kebijakan atau rencana-rencana pembangunan daerahnya. Antara judul dengan isi berita mengesankan masalah bela-membela terhadap niatan pribadi seorang pimpinan daerah. Diberitakan, satu-satunya fraksi yang membelanya adalah PKS yang berpendapat penyaluran bantuan keuangan Rp. 211 juta tidak menyalahi prosedur. Di berita tersebut tidak disebutkan angka itu merupakan berapa persen dari total nilai korupsi yang dituduhkan oleh masyarakat ataupun yang dilaporkan oleh 5 fraksi lainnya ke Mahkamah Agung. Penduduk Depok tentunya sudah maklum bahwa Nur Mahmudi Ismail bukan pertama kalinya ini berurusan dengan lembaga pengadilan.

Kemarin koran ini memberitakan demonstrasi besar-besaran dengan judul: Pencegahan Korupsi Jalan Ditempat. Para demonstran memandang pemerintah barulah sebatas niatan memberantas korupsi karena belum cukup bukti hasil dari usaha-usaha pemberantasan tersebut. Rupanya ada sebagian masyarakat yang menuntut para pimpinan pemerintahan tidak hanya punya niat, apalagi sekedar niatan pribadi. Orang pun maklum bahwa korupsi membutuhkan kemampuan, kecerdasan dan keberanian yang lebih dari rata-rata. Andaikata korupsi itu gampang dan tidak berresiko tinggi, mungkin akan jauh lebih banyak lagi orang yang mau korupsi. Oleh karena itu untuk memberantas korupsi, masyarakat mengharapkan para pemimpinnya memilki kemampuan, kecerdasan dan keberanian yang lebih tinggi daripada para pelaku korupsi baik lawan maupun kawan disamping memiliki penuh kharisma lintas golongan agar usaha-usahanya memperoleh dukungan dari semua golongan, paling tidak golongan yang secara resmi terwakili di DPR/DPRD.

Ada yang berpendapat pemimpin masyarakat seperti ini teramat sulit dicari selama mayoritas masyarakatnya masih belum terbebaskan dari basic financial problems, yang juga tergantung masing-masing individu masyarakat tersebut.

Sore-sore seorang rekan dari perusahaan lain di gedung perkantoran yang sama mendatangi meja saya. Sudah lama sekali saya tidak ketemu dia. Herannya, entah kenapa kalo setiap pertama-tama ketemu rekan ini, saya serasa terhipnotis untuk berbahasa Inggris, meskipun amburadul. Berikut adalah dialog Saya dengan Rekan tersebut yang berlangsung dengan tempo allegro.

R: "Hi! I just want to let you know that I have resign"
S: "Thank you. It sounds like your own option, right?"
R: "Yes"

Biasanya bila ada orang yang berpamitan begini saya enggan menanyakan mau pindah kerja kemana. Saya khawatir orang yang saya tanya akan menjawabnya secara terpaksa, misalnya mungkin saja dikarenakan ada perasaan tidak enak karena berbagai alasan pribadi. Namun anehnya, rasa khawatir ini tak ada saat bicara dengan rekan yang satu ini. Mungkin karena kami jarang bertemu, atau mungkin juga saya merasa rekan ini terbiasa bersikap jelas dan berbicara lugas.

Andaikata dia tak mau menjawab, maka saya yakin dia akan berterus-terang mengatakannya kalau dirinya tak mau menjawab. Dan saya pun yakin dia sudah hapal salah satu tradisi saya yang tak bakalan memaksanya ataupun berharap-harap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dia enggan menjawabnya.

S: "Where are you going to move then?"
R: "Not anywhere"
S: "Surprised. How old are you?"
R: "36"
S: "But many people think Life begins at 40. How about you?"
R: "I think I can build my life earlier than other people"
S: "Since when you built your life?"
R: "Since more than 2 years ago."
S: "So what did you have now?"
R: "I have readiness for financial freedom now."
S: "Did you mean you have been ready to become a man like Mbah Marijan?"
R: "No. That's far beyond of my capability. I believe he already has real financial freedom, but I just want virtual financial freedom"
S: "What's the difference?"
R: "I believe he has almost free of financial dependencies in reality, meanwhile I just want virtually free from financial definitions"
S: "How will you define your own finance?"
R: "I will sell what I want to sell by my self."
S: "What kind of stuff which you want to sell?"
R: "Any kind"
S: "Where will you sell it?"
R: "Anywhere"
S: "God bless you"
R: "Thank you"

Who's the real boss?

Potrait of BossSurprised. Wondering why analysts still don't want consider Mbah Marijan, read thoroughly an article at The Jakarta Post page 3 today, "Who's the real boss of Indonesia: Yudhoyono or Golkar's Kalla?" a commentary by Endy M. Bayuni.

Answer: Not found.

Who's the real boss?
The real boss is one who knows the way, shows the way and goes the way, is it? Who was said this kind of statement?

According Soekarno to Cindy Adams (translated in Bahasa Indonesia):

Aku adalah putra seorang ibu Bali dari kasta Brahmana. Ibuku, Idaju, berasal dari kasta tinggi. Raja terakhir Singaraja adalah paman ibuku. Bapakku dari Jawa. Nama lengkapnya adalah Raden Sukemi Sosrodihardjo. Raden adalah gelar bangsawan yang berarti "Tuan". Bapak adalah keturunan Sultan Kediri. ...

Apakah itu kebetulan atau suatu pertanda bahwa aku dilahirkan dalam kelas yang memerintah, akan tetapi apa pun kelahiranku atau suratan takdir, pengabdian bagi kemerdekaan rakyatku bukan suatu keputusan tiba-tiba. Akulah ahli warisnya. ...

Kata ibuku kala aku masih kecil:
Kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing. Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar.

Tuesday, November 07, 2006

Kembali Ramai

Bagi sebagian orang, bercerita tentang perjalanan mudik asyiknya rame-rame. Perjalanan mudik rame-rame saja sudah mengasyikkan apalagi menceritakannya rame-rame. Setiap orang berhasrat menceritakan kisah perjalanan mudiknya, apalagi bagi yang menggunakan kendaraan pribadi. Lumayan unik bagi yang belum pernah mengalaminya. Mana yang naik motor bebek sekeluarga sampai Jawa Timur, melayani antar jemput khusus pembantu sampai kampungnya di Jawa Tengah, atau kisah tentang mobilnya yang ditawar untuk dibeli tunai ditengah perjalanannya di sebuah warung di Sumatera.

Begitu juga saat ngobrol bersama teman-teman dari kalangan teknisi lapangan, satpam, tukang parkir atau pedagang indomie dan somay. Banyak ragam kisah yang tak pernah terbayangkan. Bedanya jika ngobrol bersama teman-teman dari komunitas obrolan ini adalah ujung-ujungnya lagi-lagi Mbah Maridjan. Kalo sudah begini, rasanya sama saja sebelum dan sesudah lebaran: Automatic Updates -- kira-kira begitulah padanannya di dunia software.

Meskipun tidak senantiasa berusaha secara khusus mengikuti berita tentang Gunung Merapi, Plang nama mbah Maridjannama Mas Penewu Surakso Hargo (79 tahun) a.k.a mbah Maridjan seorang abdi dalem kraton dengan jabatan Juru Kunci Hargo Merapi sejak 1982 dari desa Kinahrejo - Ngayogyakarta tak asing lagi bagi saya. Barangkali karena teman-teman taunya saya kelahiran Yogyakarta maka mereka selalu antusias update info, bahkan ada yang update via SMS segala. Iklan jamu yang dibintanginya di TV: Pokoke Rosa! (Pokoknya Perkasa!) menyiratkan citra keperkasaannya dalam artian luas.

Citra keperkasaannya diawali dari berbagai tekanan dan intrik dari berbagai pihak yang memojokkannya di berbagai media massa cetak dan elektronik karena konsistensinya untuk tetap mbalelo terhadap perintah resmi pemerintah RI pertengahan Mei yang lalu. Gubernur DIY Sri Sultan HB X juga memerintahkan untuk tunduk pada pemerintah, "Saya saja tunduk terhadap pemerintah pusat. Mbah Marijan juga mestinya tunduk pada pemerintah daerah yang merupakan kepanjangan tangan pemerintah pusat". Pemerintah pusat juga berusaha dengan segala upaya agar semua warganya tunduk sama perintahnya untuk mengungsi. Sampai-sampai untuk menunjukkan keseriusan perintahnya untuk mengungsi, Presiden SBY beserta Kapolri, beberapa Menteri dan rombongan menginap di posko (16/5) di salah satu lokasi pengungsian. Ada juga temen-temen yang heran mengapa waktu itu pemerintah tak mencoba memusyawarahkan antara pendapat para pakar-pakar kepercayaan pihak pemerintah dengan kepercayaan mbah Maridjan. Namun yang terkesan adalah pemerintah hanya mau memaksakan pendapatnya sendiri tanpa pernah mau mencoba memahami pendapat yang berbeda, apalagi yang bertentangan.

Jika hanya mengandalkan logika semata memang tidaklah masuk akal bagi orang kebanyakan. Mbah Mardijan tidak punya titel kesarjanaan, koneksi pejabat tinggi, backing konglomerat, pengacara, pasukan, ataupun pelobi atau negosiator. Kalaupun kaitan ormas sekedar tercatat sebagai Ketua Syuriah Majelis Wakil Cabang NU Cangkringan, Sleman. Tapi terbukti sampai kini tak ada satu pun kekuatan pemerintah yang bisa melakukan pengusiran atau penggusuran terhadapnya seperti yang kerap terjadi di Ibukota bagi mereka yang dipandang tidak mau tunduk terhadap perintah pemerintah. Sepertinya semua teman-teman penggemar perbincangan tentang mbah Maridjan tak ada yang menyangsikan masalah keperkasaannya ini.

Diluar citra keperkasaan, ada sebagian teman-teman yang mempercayai mbah Maridjan memiliki ilmu yang sudah melampaui sains dan teknologi modern. Sebagian teman-teman yang lain kurang begitu mempercayainya dengan alasan kebetulan saja waktu itu ada beberapa bugs yang belum di-patched atau di-fixed-kan di peralatan-peralatan yang dipakai untuk meramal meletusnya Gunung Merapi karena tidak ada dana untuk upgrade peralatan-peralatan tersebut. Ada juga kemungkinan pakar-pakarnya belum di-training atau sudah lupa penggunaan peralatan-peralatan tersebut karena sehari-harinya sibuk ngobyek cari tambahan. Andai benar Mbah Maridjan punya ilmu pengetahuan yang melebihi sains dan teknologi, toh buktinya tidak pernah terdengar berita atau cerita mbah Maridjan meramal akan terjadi bencana gempa bumi Yogya. Temen-temen yang percaya hasil bukti kebenaran ilmu mbah Maridjan bukan sekedar kebetulan belaka, berpendapat bahwa gempa bumi Jogja asalnya bukan dari Gunung Merapi berarti hal itu sudah diluar job description-nya sebagai Juru Kunci Hargo Gunung Merapi. Dengan alasan profesionalisme ini jugalah, teman-teman berdalih menolak tantangan uji kaji ilmu & teknologi ala mbah Maridjan untuk menyelesaikan bencana lumpur Lapindo di Porong - Jawa Timur.

Pro-kontra diluar masalah keperkasaan inilah yang suka meramaikan obrolan tentang mbah Maridjan. Barangkali pro-kontra semacam ini juga yang memecah belah penduduk lereng Gunung Merapi. Ada yang mau mentaati perintah pemerintah untuk mengungsi ataukah mempercayai pendapat Mbah Maridjan, seperti yang pernah disampaikannya sewaktu dialog dengan Gus Dur di TV "Lha wong mboten wonten punopo-punopo kok ngungsi?!" (Lha tidak akan terjadi apa-apa kok mengungsi?). Wuih!... manstap.

Sewaktu mudik secara iseng-iseng saya sempat menanyakan ke orang tua tentang hubungan mbah Maridjan dengan bencana gempa bumi Yogya. Dengan nada datar dan biasa saja, diceritakan bahwa sebenarnya sehari sebelum terjadi gempa bumi Mbah Maridjan sudah pergi ke kraton hendak melapor tapi tak ketemu. Mungkin hari itu Sri Sultan sedang tidak berada di kraton. Memang saat hari kejadian gempa bumi Sabtu pagi, baik Sri Sultan maupun permaisurinya GKR Ratu Hemas sedang berada diluar kota yang berbeda. Cerita tersebut diakhiri dengan komentar Mbah Maridjan, "Lha kulo sampun bade matur kok mboten ditampi. Nggih empun". (Saya sudah berusaha melapor tapi kok tidak diterima. Ya udah).

Cerita atau rumor ini belum pernah saya dengar dari teman-teman. Namun saya tak begitu yakin, bila saya ceritakan apakah obrolan bisa tambah ramai atau sebaliknya. Rasanya bosen juga kalo nongkrong di warung tanpa dengar ramainya obrolan mereka, apalagi cuman diem-dieman doang sambil iseng-iseng baca koran merah atau mengisi TTS. Pokoke Rame!

Monday, November 06, 2006

Kembali ke Habitat

Masa paska mudik seperti ini mengingatkan saya pada masa paska mudik semasa mahasiswa di Bandung.

Di kontrakan kami terdapat seekor kucing yang menurut hasil jajak pendapat seluruh warga tidak layak huni. Jangankan ikut iuran bayar kontrakan tiap tahunnya, iuran bulanan pun tak pernah bayar tapi sering bikin repot dan susah warga. Sedangkan untuk membunuhnya, tidak ada satu pun warga yang berani. Akhirnya kami memutuskan untuk membuangnya saja.

Secara bergiliran kami jalankan usaha-usaha intensif dengan mempertimbangkan berbagai macam saran tentang metodologi pembuangan kucing. Mana yang katanya matanya harus ditutup waktu dijalan, harus dimasukkan karung, harus dibuang di tengah pasar, harus melewati sungai dsb tapi hasilnya kucing tersebut selalu kembali ke rumah kontrakan kami.

Untuk mencegah masalah berlarut-larut, Sudut Pasar Baru Bandung maka jauh hari sebelum memasuki bulan puasa kami pun meeting tentang kucing. Hasil meeting adalah menjalankan semua saran yang diatas, hanya saja lokasi pembuangannya di Pasar Baru Bandung yang jaraknya kami perkirakan diluar jangkauan kucing untuk jalan kaki kembali disamping melalui beberapa pasar dan sungai sekaligus. Selain itu, menurut pendapat kami sebagai pasar yang besar dan ramai merupakan habitat yang ideal bagi kucing karena disana akan banyak makanan kesukaaannya dan teman-temannya sehingga si kucing tak akan pernah tertarik untuk kembali kesini lagi.

Hari-hari tanpa kucing pun berlalu dan diantara kami sudah tidak ada yang ingat sama sekali. Pada hari Minggu pagi setelah semua warga kembali dari mudik lebaran, tiba-tiba terdengar teriakan histeris Bibi - begitu kami biasa memanggil seorang Ibu yang biasa memasakkan buat kami, dari arah dapur: "Den!... Den!...". Kontan saja kami berhamburan ke arah dapur. Sesampai di dapur, Bibi hanya menunjuk-nunjuk ke arah pintu masuk dapur tanpa berkata-kata. Persis ditengah-tengah pintu yang ditunjuk, dibawah sinar matahari si kucing tiduran dengan amat santainya sambil buntutnya goyang-goyang dikit, dan matanya melihat kami dengan cueknya seolah mengejek habis. Saking kagetnya, kami semua terbengong-bengong bak melihat keajaiban dunia. Sampai akhirnya seorang diantara kami secara spontan setengah berteriak bilang: "Edan!". Barulah kami tersadar dan terbahak-bahak mentertawakan diri sendiri karena merasa begitu dilecehkannya oleh seekor kucing. Seorang teman berceloteh: "Gimana jadinya republik ini kalo segini banyak calon insinyurnya kalah telak oleh seekor kucing yang tak pernah sekolah?!"

Kami akhirnya menyadari keterbatasan pengetahuan kami tentang kucing. Namun sejak itu kami menghentikan usaha-usaha intensif pembuangan kucing. Bukannya putus asa tapi dikarenakan kami berpendapat si kucing sendirilah yang paling berhak menentukan habitatnya yang tak lain adalah tempat dimana ia mencari makan yang paling cocok buat dirinya.

Ada sebagian orang yang berpandangan hujan emas di tanah orang, hujan batu di tanah sendiri, masih memilih tanah sendiri. Namun bagi sebagian orang yang lain, habitat bukanlah masalah memilih emas atau batu, melainkan tempat mencari makan. Kalo mencari makan saja susah, bagaimana kita mau memilih apakah mau koleksi emas atau batu-batuan? Apalagi bagi seekor kucing yang taunya makan, cepat atau lambat dia akan kembali ke habitatnya.

Hari ini pembantu rumah tangga kami kembali dari mudik. Begitu juga temen-teman kantor dari berbagai bagian, setidaknya semua temen-temen ngobrol sehari-hari, sudah mulai masuk kantor per hari ini.