Friday, April 30, 2010

ngePek bin ngeKor binti ngekSis yang gi ngeTren

Facebook ala Indonesia Kurleb sebulan lalu (29/3-2010) adalah 1 tahun masehi saya terdaftar sebagai anggota komunitas maya facebook. Saya pun mulai menimbang-nimbang telah ngapain aja atau akan ngapain lagi di FB? Apakah sejak terdaftar ini makin banyak positipnya ataukah makin sedikit sedikitnya? Atokah.... ??

Ada beberapa teman yang menanyakan secara offline bagaimana saya bisa mengetahui 1 tahun tersebut? Bahkan ada diantaranya yang saya tak pernah lihat apdet status, ngomen ataupun nge-Like pun juga menanyakan hal yang sama. Hmmm.... Hal ini menunjukkan bahwa meskipun teman-teman tak pernah ngomen atau nge-Like status-status kita, namun rupanya mereka mratiin juga status-status kita. Padahal kunci jawabannya gancel saja, yaitu setelah teregistrasi di FB, hal pertama yang saya lakukan adalah menulis di box di wol dibawah pik profil:

sejak minggu legi [10], 29 maret 2009M [2454920]; 2 rabiulawal 1430H; 2 bakdamulud 1942 Je windu: kuntara; redite umanis - langkir [5] penanggal 4 kedasa saskara, basah cenik, 1931SB; 16/12-2552BE; 3/3 (peach)-98 己丑 jǐchǒu (kerbau tanah) 2560IL
Apapun efeknya facebook, saya salut abis ma Mark Zuckerberg yang punya ide membuat konsep cikal bakal FB pada Oktober 2003 yang awalnya digunakan sebagai forum komunikasi terbatas dengan sobat-sobitnya di jurusan ilmu komputer, kemudian digunakan rame-rame oleh para mahasiswa-mahasiswi Harvard dan berkembang ke universitas-universitas lain, yang kemudian diikuti oleh para siswa-siswi SMA Amrik. Akhirnya sejak September 2006 FB dibuka untuk umum dengan syarat sudah memiliki imil dan berumur 13 tahun keatas.

Sebelum betul-betul siap dipublikasikan untuk masyarakat dunia maya, kurang lebih dalam jangka waktu 8 bulan setelah dibuat atau bulan Juni 2004, FB telah mendapat modal pertama dari salah seorang pendiri PayPal sebanyak US$500.000. Kurleb setahun kemudian mendapat tambahan dana US$ 12.7 juta dan US$ 27,5 juta dari 2 perusahaan modal ventura. Dengan demikian FB membutuhkan 3 tahun pengembangan dan total modal US$ 40,7 juta atau kurleb 366 milyar rupiah.

Berarti modal awal usaha yang berhasil didapatkan Facebook sebelum dibuka untuk umum pada tahun 2006 tersebut sudah melebihi kekayaan Gayus Halomoan P. Tambunan [30], pegawai Ditjen Pajak golongan 3A, yang belakangan ini banyak diberitakan berbagai media massa sebesar 200 milyar rupiah. Andaikata pun benar, kekayaan gayus inipun tidak semua dipakai untuk modal usaha, namun sudah banyak dipakai untuk beli rumah, mobil, plesiran, dsb. Maka wajar sajalah jika Gayus hanya populer sebatas nasional saja, sedangkan facebook lebih populer secara internasional.

Meskipun sebatas nasional, namun aliran jama'ah Guyusiah menjadi trend tersendiri untuk bisa ngEksis di pentas publikasi nasional. Jumlah uang yang berhasil diraup Gayus dengan umur yang semuda itu dan pangkat yang tak tinggi2 amat tersebut tak hanya menjadi idaman pegawai Ditjen Pajak saja, namun sudah menjadi keingingan banyak pegawai dan profesional seperti polisi, pengacara, jaksa, wartawan, dll.

Gayus Tambunan Convergence Inc.

Kembali ke ngeksis skala internasional. Menurut pernyataan resmi Mark Zuckerberg baru-baru ini, jumlah pengguna Facebook mencapai 400 juta akun per 21 April 2010, seperempatnya selalu konek [http://social.venturebeat.com/2010/04/21/facebook-stats-400m/]. Menurut The New York Times yang dipublikasikan pada 20 April 2010, masyarakat internet Indonesia sebanyak 22,7 juta akun merupakan pengguna ke-3 terbanyak setelah AS dan Inggris.

[Sumber: http://www.nytimes.com/2010/04/20/world/asia/20indonet.html]

Bahkan Mama mertua saya yang notabene sama sekali tak pernah ngeNet pun tahu facebook. Pada waktu itu saya bikinkan akun untuk Papa mertua. Saya fikir ga haram ini n ga bidah daripada bengong aja, namun Mama mertua melarang saya ngajarin Papa mertua main facebook. Kata Mama mertua,
"Papa jangan diajarin mainan fesbuk... Saya takut entar Papa ikutan kecanduan malah masuk tivi kayak Ivan Brimob, dicaci sana sini, lah khan aku jadi ikut pusing dan repot to?!"

Sebelum era Facebook, para insan dunia maya pada umumnya ngeksis personal dengan ngeblog melalui berbagai blog gretongan ala blogspot ini, multiply, wordpress, dll. Namun mesbuk ternyata jauh lebih mudah daripada ngeblog yang pada umumnya perlu mikir panjang sebelum ngaplot artikel. Kemudahan ngeksis melalui facebook merupakan salah satu daya tarik utama dibandingkan ngeblog. Tak heran banyak blojer yang beralih cara ngeksisnya dari aktif ngeblog ke mesbuk.

Sebagai experimen, saya tahun kemarin membuat 2 akun fesbuk. Di akun pertama, sebut saja FB Hastu, saya lebih pasip, relatif jarang banget nge-Add atau invite friends, Kebanyakan friends adalah handaitaulan yang pernah ketemu di dunia nyata. Sedangkan di akun kedua, sebut saja FB JM, saya lebih agresip, relatif sering nge-Add, terutama sobat-sobit blojer dan blogwalker. Praktis tak ada friend yang pernah kopdar. Namun saya segera menghentikan aksi-aksi progresif saya untuk nge-Add di FB JM ini sampai angka 200an setelah mengetahui hasil penelitian berdasarkan survey di Inggris dari Profesor Robin Dunbar yang menyatakan bahwa teman sejati adalah 150 orang dan angka 200 friends adalah sudah terlalu banyak.

Bisa jadi hasil penelitian ini belum tentu cocok untuk masyarakat Indonesia yang pernah dikenal sebagai masyarakat ramah tamah dan guyub rukun ituh. Namun sampai saat ini saya belum mengetahui hasil penelitian ilmiah atau profesional tentang berapa sejatinya jumlah kawan sejati yang ideal bagi bangsa Indonesia dari para profesor ataupun pakar ilmu sosial Indonesia.

Its better to have a few true friends than lots of fake friends

Meskipun status-status di FB Hastu dan FB JM sama-sama mencerminkan jawaban atas pertanyaan "What's on your mind?" namun dari sejak awal-awal join saya sudah merasakan mindset friends di FB Hastu dan FB JM jauh berbeda meskipun tak saling bertolak belakang

Status-status friends di FB JM pada umumnya menjawab pertanyaan: "What do you think?". Saya sering tak tahan untuk senyam senyum atau bahkan ketawa ketiwi sendiri dan ada kalanya terharu sendiri saat membaca status-status friends di FB JM . Saya ngebayangin para friends di FB JM ga bisa pergi jauh-jauh dari kompi atau lepi, atau kalaupun pergi selalu membawa HP atau BB agar bisa rajin apdet status apa saja yang ada di benaknya. Pada umumnya status-status di FB JM lebih banyak bersifat imajinatif.

Sedangkan friends di FB Hastu pada umumnya menjawab pertanyaan: "What are you doing?" atau "What's happening?". Misalnya, friend yang ibu-ibu kebanyakan statusnya berupa aktivitas sehari-hari seperti sedang memasak ini itu, sedang makan apa, sedang belanja dimana, sedang antar/jemput anak, dsb. Sedangkan bapak-bapak kebanyakan statusnya menunjukkan kesenangannya seperti sedang main golf, main moge (motor gede), main biker (sepedaan), kesempatan main fesbuk saat sedang dinas luar kantor atau luar kota atau luar negeri, ataupun main politik-politikan (berusaha mempengaruhi minat dan pendapat friends) dengan informasi-informasi pilihan sesuai seleranya misalnya melalui link-link dari berita, artikel atau video dari situs lain. Pada umumnya status-status di FB Hastu dimaksudkan lebih bersifat informatif.

Apakah status-status friends baik di FB Hastu maupun FB JM ini sesuai profil kenyataan pemilik akun sehari-hari? Apakah facebook bisa diandalkan sebagai media untuk meningkatkan citra pribadi seseorang?

Lagi-lagi saya belum menemukan hasil studi ilmiah yang dipublikasikan dari para pakar ataupun institusi dari Indonesia tentang perilaku fesbuker. Salah satu publikasi hasil studi adalah dari jurusan psikologi dari sebuah universitas di Jerman, Dr. Mitja D. Back dkk yang mulai tersebar di internet awal Maret 2010 ini. Hasil studi berdasarkan survey 133 fesbuker di jerman berusia antara 17-22 tahun. Ternyata kesimpulannya bahwa sebagian besar orang yang ngeksis melalui facebook merupakan cerminan profil sejati sehari-hari pemilik akun yang bersangkutan.

Ha ini berarti dengan ngeksis melalui facebook sebenarnya mayoritas orang tidak sedang berupaya meningkatkan citra dirinya namun sadar atau tidak sadar yang dilakukannya adalah ngexpose jati dirinya sendiri. Friends di FB Hastu yang suka ngeksis pada umumnya memang demen nampil. Saya duga friends di FB JM yang suka ngeksis pada umumnya memang demen mikir.

Belakangan ini di lingkungan teman-teman alam nyata, Twitter menjadi istilah media ngeksis di alam maya yang sering saya dengar selain Facebook. Ada beberapa teman yang ngajakin untuk ikutan join Twitter, yang konon disebut sebagai suatu aplikasi mikrobloging yang dibuat oleh Jack Dorsey pada tahun 2006. Ada pula teman-teman yang telah mendemokan bagaimana bermain Twitter.

Secara mayoritas pengguna Twitter ini mirip dengan Facebook. Berdasarkan statistik yang dirilis bulan Juni 2009 oleh sysomos.com, mayoritas pengguna Twitter dari USA dan Inggris, hanya saja jumlah pengguna dari Indonesia belum termasuk dalam 17 negara mayoritas. Namun kurleb 1/2 tahun kemudian, statistik bulan Januari 2010 menunjukkan jumlah pengguna dari Indonesia naik melejit drastis ke rangking 6 dunia.

Dari semua teman yang ngomongin Twitter itu, kata yang paling saya sering dengar adalah "follower" alias "pengekor". Oooo.... Saya pun jadi maklum kalo Twitter ini amat cepat populer di kalangan teman-teman saya, terutama teman-teman generasi muda dan teman-teman yang berjiwa muda (baca: doyan internetan begetek).

Baik Facebook dan Twitter secara internasional disebut sebagai jejaring sosial (social networking), namun banyak orang sudah maklum bahwa di Indonesia FB sebagai alternatif pengobat kecanduan ngeksis personal di dunia maya. Baik itu aktivitas-aktiviatas melalui nyetatus, ngomen-ngomen, ngeLike, foto, video, ataupun melalui aneka ragam game dan aplikasi online lainnya.

Tentunya beda motivasi para pengguna Facebook dan Twitter di negara-negara maju yang infrastruktur dan masyarakatnya sudah banyak mapan, dengan motivasi para pengguna di Indonesia dimana masyarakatnya masih banyak yang membutuhkan aktivitas ataupun pekerjaan (yang setidaknya bisa kelihatan) produktip.

    Berdasarkan hitung-hitungan matematika logika konslet:
  1. Jumlah penduduk Indonesia ada 237 juta. 104 juta diantaranya adalah para pensiunan. Jadi tinggal 133 juta yang masih bisa kerja produktip.

  2. Jumlah pelajar dan mahasiswa adalah 85 juta. Mereka sibuk sekolah dan kuliah, jadi tinggal 48 juta orang yang masih bisa kerja produktip.

  3. Ada 4 juta yang jadi anggota TNI/POLRI. Jadi tinggal 44 juta yang masih bisa kerja produktip.

  4. Pegawai negeri di pemerintah pusat ada 29 juta. Jadi tinggal 15 juta yang masih bisa kerja produktip.

  5. Ada lagi yang kerja di pemerintahan daerah dan departemen jumlahnya 14.800.000. jadi sisanya tingal 200.000 yang masih bisa kerja produktip.

  6. Yang sakit dan dirawat di Rumah Sakit di seluruh Republik Indonesia ada 188.000. Jadi sisa 12.000 orang yang masih bisa kerja produktip.

  7. Ada 11.998 orang yg dipenjara. Jadi tinggal sisa 2 orang saja yang masih bisa kerja produktip.
Jadi dari total jumlah penduduk RI masih begitu banyak yang membutuhkan aktivitas ataupun pekerjaan produktip. Maka dunia maya pun jadilah media alternatif untuk tampil menunjukkan produktivitas seseorang.

Dari data statistik dan telaah ini mudahlah diprediksi mulai Q2 tahun 2010, setidaknya paska postingan ini, jumlah pecandu Twitter pun di Indonesia akan makin melejit lagi untuk memenuhi kebutuhan kecanduan ngekSis
Namun apabila kita mau benar-benar serius gaul dengan anak-anak muda, maka ada cara ngeksis lain yang saat ini juga mulai ngetren di kalangan kawula internet indonesia. Cara ngeksisnya pun jauh lebih mudah daripada ngeblog, mesbuk ataupun ngekor lewat Twitter. Bila ngeblog orang biasanya mikir panjang dulu sebelum mosting apa yang telah dipikirkannya, dan di fesbuk orang biasanya perlu mikir dikit untuk ngeksis, sedangkan di Twitter orang musti ngekor sana-sini agar dirinya pun berekor panjang, maka cara ngeksis yang satu ini lebih mudah lagi yaitu dengan cara ngePek.

Saya belum tahu pasti apa padanan yang tepat dalam bahasa Indonesianya. Yang saya tahu, orang yang ngePek tak bisa didakwa sebagai plagiator yang biasanya dikenakan ke orang-orang yang menjiplak tanpa seijin pemilik hak cipta yang didaftarkan berdasarkan undang-undang yang berlaku. Menjiplak bisa dikatakan mengaku-ngaku atau mengesankan karya cipta orang lain sebagai hasil jerih payahnya sendiri.

Pada jaman saya sekolah dulu (mudah-mudahan saat ini sudah tak ada lagi), ada 2 macam kecurangan yang populer pada saat ulangan harian ataupun ulangan umum (saat itu belum ada UTS, UAS, UN, dsb).

Salah satunya adalah nyontek yaitu melihat contekan yang tak lain adalah jawaban-jawaban ulangan teman baik yang duduk di samping kiri-kanan, atau depan-belakang. Nyontek ini bisa tanpa sepengetahuan teman yang dicontek maupun dilakukan dengan sepengetahuan yang dicontek, bahkan mungkin saja sengaja dicontekin atau diberi kesempatan untuk menyontek oleh teman-temannya.

Kecurangan lain saat ulangan adalah ngePek yang bisa independen atau sama sekali tidak bergantung teman. NgePek ini bermodalkan kepekan, yang biasanya berupa buku pelajaran ataupun kertas, dusgrip, garisan atau media-media lain yang ditulisin jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diramalkan akan keluar di ulangan. Kepekan ini ada yang ditulis dengan huruf-huruf yang diduga tak bisa dibaca oleh guru atau pengawas ulangan, seperti huruf-huruf Cyrillic (Rusia), Kanji, Arab gundul, dll. ataupun menggunakan kosa kata yang sulit dimaknai oleh orang-orang lain selain dirinya sendiri.

Bisa jadi kata ngePek pada anak2 sekolahan jaman itu berasal dari bahasa Jawa umum yang berarti "menjadikan 'milik' sesuatu yang asalnya bukan 'milik'-nya". Jadi pada kasus ulangan, karena kurang rajin belajar seharusnya memiliki nilai rendah, namun berkat ngePek saat ulangan dirinya mengharapkan nilai ulangan miliknya menjadi lebih tinggi. Dengan kata lain, anak yang ngePek mengharapkan dirinya akan bisa memiliki nilai yang lebih indah dari aselinya.

Rupanya ide ngePek muda-mudi sekolahan era 80an tersebut saat ini telah diadopsi dan dikembangkan ke dunia maya masa kini sebagai salah satu alternatif media ngeksis dan ngekor namun penggunanya dibolehkan ngePek yang bahasa Inggrisnya "reblog" secara mudah. Agar ga dianggap sebagai generasi jadul-jadul amat maka segeralah cek Wikipedia,
Tumblr is a blogging platform that allows users to post text, images, video, links, quotes, and audio to their tumblelog, a short-form blog. Users are able to "follow" other users and see their posts together on their dashboard.
Jadi jelaslah konsep Tumblr ini adalah turunan dari tren follow-followan atau ngekor ala Twitter yang dikawinkan dengan kemudahan ngeksis ala facebook. Salah satu keunikannya adalah pengguna bisa dengan mudah ngePek dari kepekan hasil karya orang lain untuk ngeksis. Wajar saja bila dipilih nama Tumblr yang sulit dilafalkan. Yaah..... namanya juga mengadopsi konsep kepekan seperti telah dijelaskan diatas... ^_^

Menurut David Karp, salah satu pencetusnya pada tahun 2007, trefik pada 8 Maret 2010 lalu telah mencapai 2 juta postingan per hari dan jumlah penggunanya bertambah 15 ribuan per hari. Sampai saat ini saya belum berhasil memperoleh datanya, dari angka 15 ribuan ini berapa persennya pengguna dari Indonesia. Seminggu kemudian, 15 Maret 2010, fitur aplot video ditutup untuk jangka waktu yang belum ditentukan.

Secara faktor "U" (Umur / Usia) Tumblr memang kalah setahun dengan Twitter maupun dengan Facebook yang dana investasinya lebih besar dan lebih senior daripada keduanya. Jadi ya wajar saja bila saat ini di kalangan orang tua Indonesia, ngeksis melalui Facebook masih lebih populer daripada ngekor dengan Twitter ataupun ngePek melalui Tumblr. Namun ketiganya mengindikasikan bagaimana tren pengguna teknologi kearah keranjingan konten textual dari fren yang dipercayai tanpa melalui prosedur penyensoran yg komplex seperti di media massa pada umumnya, apalagi media massa kelas nasional ataupun internasional yang terbukti eksis slama puluhan tahun.

Hal ini mendorong sebagian orang mulai keranjingan ngeksis secara textual. Fenomena keranjingan (yang bisa mengakibatkan kecanduan) pengen tahu n pengen ngeksis secara textual antar fren ini saya sebut sebagai "HIPERTEXT".

Barangkali fenomena kek gini nih yang mendorong RIM (Research In Motion), perusahaan di Canada menerbitkan jualan jasa or service layanan hipertext dimana para penggunanya mudah mengopas dari frennya ke fren lainnya secara berkesinambungan. Maksud mengopas disini tidak hanya kopi-paste atau mengutip kisah2, juga bisa memforward foto2 or gambar2, bahkan bisa meniru aneka gaya tulisan dari fren-frennya secara mudah dengan fitur pengetikan otomatis.

Untuk bisa ngakses layanan hipertext ini pelanggan harus memenuhi persyaratan memiliki henpon merek BlackBerry yang bisa berfungsi biasa untuk teleponan n SMSan. Bedanya, selain membayar pulsa untuk telponan n SMSan, pengguna layanan ini musti bayar juga biaya untuk ngakses layanan2 spesial dari RIM termasuk akses internet pun juga melalui.server RIM.

Ngeksis lewat fesbuk lebih mudah daripada ngeblog, ngekor lebih mudah daripada mesbuk, dan rupanya ngePek lebih berasa menggairahkan daripada ngekor, apalagi tinggal ngutip n ngopas sana sini khan?! So sangat mungkin tak lama lagi popularitas BlackBerry bakalan melejit bagi masyarakat Indonesia seperti halnya Facebook dan Twitter.

Ngeksis sudah merupakan tren kebutuhan bagi banyak orang di dunia pada saat ini. Media ngeksis yang lebih mudah dan lebih menggairahkan akan lebih cepat laris dan populer di dunia. Semoga fakta-fakta cepatnya popularitas media ngeksis ini bisa menginspirasi para anak bangsa Indonesia untuk juga bisa ngeksis di kancah dunia dengan ide-ide konsep tren baru yang lebih cepat laris dan populer di dunia.

Tak hanya sekedar bangga sebagai negeri pengekor tren dunia dengan predikat jumlah pemakai (termasuk pecandu akut) terbanyak ke-sekian di dunia dan tak hanya bangga karena telah merasa berhasil niru, njiplak, nyontek ide atau konsep anak bangsa lain... Eh udah gitu, ga laku-laku lagi... Waa yaaa...... CDMA ... Capek Dwueeeeh... Maleszz Aaaah......

1 comment:

  1. ya ampun, baru sadar setelah bc tglnya ternyata ini tulisan jaman pra BB

    ReplyDelete