Saturday, December 30, 2006

Faktor 5B: Bibit, Bobot, Bebet, Besut + Bejo

Putri IndonesiaMembaca kolom sosok di Kompas, berjudul "Sang Penyelamat Muka Bangsa" membangkitkan rasa bangga sekaligus rasa malu. Rasa bangga karena tulisan ini berisi tentang sosok seorang remaja belasan tahun dari SMA Kristen Penabur 1 Jakarta bernama Jonathan Pradana Mailoa yang memperoleh prestasi yang dahsyat dalam Olimpiadi Fisika Internasional (OFI), mengalahkan para kompetitornya dari negara-negara dengan GNP yang jauh lebih tinggi termasuk China, Amerika Serikat, Korea dan Taiwan. Rasa malu karena judul tulisan ini mengingatkan ucapan mantan presiden AS, JF Kennedy, "Janganlah pernah bertanya apa yang telah diberikan negara untukmu, tapi tanyakanlah apa yang akan engkau berikan untuk negaramu".

Dalam sejarah keikutsertaan Indonesia dalam ajang OFI, para pelajar Indonesia memang boleh dibilang sudah menjadi langganan juara. Namun baru Jonathan inilah yang pertama kali memperoleh gelar The Absolute Winner yang menjuarai teori dan praktek sekaligus mengalahkan 385 siswa dari 84 negara. Ia pun dinobatkan sebagai The Best ASEAN Student. ckckck...

Jonathan telah menjadi salah satu bukti sejarah bahwa makanan, minuman dan gizi di Indonesia bisa melahirkan seorang bibit unggul yang tak kalah dengan bangsa lain, paling tidak dalam bidang sains. Melihat daftar asal daerah para pelajar juara adu sains tingkat dunia, bibit unggul ini tidak terbatas hanya dilahirkan di Ibukota saja namun juga dari berbagai daerah.

Meskipun demikian, jika dilihat dari asal SMU para pemenang medali OFI masih terbatas dari SMU tertentu saja dibandingkan puluhan ribuan SMU yang ada di Indonesia. Di Ibukota dan kota besar lebih cenderung didominasi oleh SMU negeri, sedangkan di kota kecil dan daerah lebih didominasi oleh SMU swasta. Masing-masing sekolah memiliki citra prestasi masing-masing yang secara langsung maupun tak langsung akan memberikan atmosfir tersendiri bagi para siswa-siswinya. Sebagai contoh, SMA Kristen Penabur 1 Jakarta tersebut dari dulu sudah dikenal luas lebih berprestasi dalam mencetak individu-individu juara, terutama dalam bidang sains tingkat internasional, nasional dan regional. Beda halnya dengan, misalnya SMA 1 Yogyakarta yang dari dulu dikenal luas lebih berprestasi dalam persentase penerimaan siswanya di perguruan tinggi negeri. Sekolah Unggulan baik tingkat kotamadya, provinsi dan nasional menjadi idaman pelajar maupun orang tua yang merasa putra-putrinya memiliki bibit unggul sesuai citra prestasi sekolah tersebut yang diakui masyarakat luas.

Disamping memiliki kualifikasi bibit dan bebet yang unggul, Jonathan juga telah digembleng berbagai soal fisika yang konon bobotnya setara dengan program magister doktor MIT, Massachussets (bukan Mbandung) Institut of Technology. Setiap Sabtu, ketika para ABG umumnya larut dalam acara liburan akhir pekan, di sekolah ia ikut klub fisika membahas soal-soal fisika dengan bobot setingkat universitas. Seperti di Universitas, setiap mata kuliah memiliki bobot penilaian tersendiri sesuai jurusan yang diambilnya, ia dan sekolahnya memiliki prioritas perhatian di bidang sains daripada bidang lainnya.

Penghargaan dan penghormatan seyogyanya juga diberikan kepada orang tua Jonathan, pasangan Edhi Mailoa dan Sherlie Darmawan, yang telah merelakan putranya dibatasi waktu bermainnya bersama teman-temannya, demi menyelamatkan muka bangsa dari keterpurukan prestasi dalam berbagai bidang. Keberhasilan tim olimpiade Indonesia tak bisa lepas dari besutan Yohanes Surya PhD, sarjana fisika UI 1986 kelahiran 6 Nopember 1963, yang telah dengan tepat memilih metodologi pemilihan putra-putri terbaik bangsa untuk dibesut menjadi juara di tingkat internasional. Barangkali sejak dulu kala sudah banyak bibit unggul di Indonesia, namun belum ada yang menemukannya. Menemukan bibit unggul diantara ratusan juta pelajar Indonesia bukanlah perkara sepele namun bukanlah pula hal yang mustahil. Paling tidak Yohanes Surya PhD telah membuktikannya melalui besutan-besutannya di TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) sejak 1993. Pada 20 Maret 2004, pada usia 40 tahun ia sudah memperoleh gelar professor melalui Sidang Terbuka Senat Universitas Pelita Harapan di Lippo Karawaci. Dua bulan setelah itu (16/5-2004), Kompas memuat wawancaranya dengan Salomo Simanungkalit tentang cita-citanya mempersiapkan peneliti Indonesia meraih Nobel tahun 2020. Sosok fisikawan indonesia populer lainnya, Prof. Pantun Silaban PhD, 1 dari 32 fisikawan teori Einstein besutan Peter Gabriel Bergmann, baru memperoleh gelar profesor dalam usia 57 tahun di ITB pada tahun 1995 dan telah memasuki masa pensiun per November 2005 lalu di usia 65 tahun. Sayang sekali, di tulisannya di Kompas, Salomo Simanungkalit tidak menyinggung sama sekali apa rokoknya Pantur Silaban di masa pensiunnya: Apakah masih GG Surya 16 ya?

Cita-cita Prof. Yohanes Surya untuk mempersiapkan fisikawan Indonesia yang tidak hanya sedahsyat Prof. Pantur Silaban, bahkan memperoleh Nobel 2020 sudah seharusnya didukung oleh semua pihak yang masih punya niat menyelamatkan muka bangsa. Ataukah barangkali kurikulum pendidikan di republik ini harus dirubah untuk mempersiapkan pelajarnya menjadi orang-orang seperti Yohanes Surya di bidang-bidang lainnya. Agar kelak lulusannya bisa memiliki kemampuan membesut bibit unggul diantara putra-putri terbaik bangsa untuk mengibarkan prestasi berkelas dunia atas nama bangsa Indonesia.

Andaikata kriteria 4B setara or beda-beda tipis bingit2, maka yang dibutuhkan untuk memenangkan kompetisi adalah Bejo alias keberuntungan coz niat, doa n ikhtiar segigih apapun adakalanya blom cukup menjamin kemenangan bila tak disertai faktor 5B tersebut

8 comments:

  1. wehhhh..baru posting..???
    met tahun baru mass..heheheh

    ReplyDelete
  2. Trims Folks!
    Lagi gak ada koneksi inet nih sejak Adam Air (meng)hilang, so postingnya offline dulu. Modah2an Adam Air cepet ketemu ya..

    ReplyDelete
  3. karena beberapa gelintir orang indonesia mampu beli jaguar, porsche, ferrari, lamborghini, dsb lantas disimpulkan bahwa orang indonesia tidak miskin.

    ReplyDelete
  4. hi anonymous, apa yang tersimpulkan belum tentu disimpulkan oleh orang lain

    ReplyDelete
  5. ternyata... ini toh hastu wicaksono..

    ReplyDelete
  6. Saya Sangat Berterima Kasih Atas Bantuan Angka Ritual Aki Roengsugi Dan Saya Tidak Rugi Mengirim Biaya Pembelian Alat RitualNya Karna Angka Aki Roengsugi Tidak Mengecewakan Benar-Benar Tembus 100%...Saya Udah Beberapa Kali Menghubungi Dukun Togel LainNya Untuk Mintak Angka Yang Mantap Selalu Gak Ada HasilNya...Sampai-Sampai Hutang Malah Tambah Banyak...Singkat Cerita, Tanpa Sengajah Seorang Teman Lagi Cari-Cari Nomer Jitu Di Internet...Kok Melihat Komentar Orang Yang Berhasil Menang Angka Togel 4D, KataNya Berkat Bantuan AKI ROENGSUGI...Singkat Cerita, Dan Disitulah Saya Langsung TerTarik AkhirNya Saya Langsung Menghubungi Beliau...Singkat Cerita, Saya Coba Beli Paket 2D Atau 2 Angka TerNyata Tembus...Dan AkhirNya Saya Langsung Membeli Paket 4D...Bagai Di Sambar Petir..TerNyata Angka Ritual Aki Roengsugi Benar-Benar 100% Tembus 4D...Singkat Cerita,Demi Allah Baru Kali Ini Saya Mendapat Dukun Togel Benar-Benar Asli Tanpa Ada Rekayasa Sedikit Pun...Bagi Anda Yang Butuh PerTolongan Melalui Angka Togel Langsung Ajah Konsultasi Dengan Aki Roengsugi Anda Bisa CALL/SMS Di Nomer 085 319 483 234. Jangan Mudah TerTarik Dengan Omongan Orang Lain...Sekarang Udah Banyak TerSebar Dukun Togel Palsu.

    ReplyDelete