Wednesday, December 27, 2006

Hayang Ngapung Ngawang Ngawang

Pertama kali saya mengetahui nama Google.com pada akhir-akhir tahun 1998 dari imil seorang anggota di milis Search Engine Watch yang waktu itu dimoderatori oleh Danny Sulivan yang telah mengundurkan diri akhir bulan lalu. Imil singkat tersebut memuji mesin pencari baru bernama Google.com, layanan sebuah perusahaan baru yang didirikan Larry Page dan Sergey Brin pada 7-11/1998, alumni paska sarjana Stanford University, berdasarkan proyek tugas akhirnya berjudul BackRub yang konon mulai dikerjakan sejak awal 1996. Saya belum pernah mendengar nama BackRub ini di daftar W3 Search Engine, sebuah proyek dari Universitas Jenewa di Swiss yang dikenal sebagai barometer mesin pencari saat itu. Proyek ini memang lebih fokus dalam mempelajari CUSI (Configurable Unified Search Interface, d/h CUI). Nama BackRub juga tidak pernah terdaftar di SiFMuG, suatu search tool yang berisi lebih dari 100 mesin pencari online berbagai jenis kategori.

Apa yang pertama kali saya rasakan saat mencoba Google (├četa) adalah kemampuannya menemukan halaman paling updata yang mengandung masukan kata kunci pada halaman pertama. Belakangan saya baru tahu ternyata Google mengandalkan apa yang mereka sebut sebagai teknologi PageRank dalam kriteria algoritma pencariannya. Sebenarnya hal ini sudah luar biasa pada saat itu karena mesin pencari pada umumnya hanya merangking berdasarkan informasi tanggal update halaman web, namun metodologi ini tak dapat diterapkan di halaman-halaman web berbasis CGI yang mulai banyak saat itu.

Saya juga takjub akan kemampuan Google dalam mencari kata kunci sampai akhir kalimat. Padahal mesin pencari paling dominan saat itu AltaVista, sebagai media promosi kecanggihan teknologi produk perusahaan komputer raksasa Digital, hanya mengarsip halaman web dengan ukuran kapasitas yang jauh lebih terbatas di servernya. Server merek Digital memang amat populer waktu itu. Meskipun iklannya di Kompas satu halaman penuh hanya menyebut nama AltaVista, orang pun sudah tahu bahwa iklan itu promosi merek Digital. Salah satu proyek digitalisasi nasional di bidang perteleponan adalah pusat informasi 108 Telkom menggunakan server Digital.

Membaca jumlah halaman web yang disimpan di server Google untuk kata kunci yang umum saja sungguh menakjubkan, saya bayangkan ruangan server Google seluas lapangan banteng. Belum lagi kecepatan pencariannya yang kurang dari hitungan 1 detik, rasanya mustahil jika lokasi fisik servernya tidak tersebar di berbagai kawasan. Saya pun melongo dibuatnya, seberapa besar investasi awal Google ini?

Tak berapa lama Larry Page dan Sergey Brin yang berumur 30-an tahun itu segera menjadi tokoh fenomenal bagi generasi muda yang berhasrat kaya mendadak di dunia seperti Jeff Bezos, yang dalam umur 35 tahun sudah terpilih sebagai "Man of The Year 1999" ala majalah Time karena keterkenalannya sebagai penjual buku online Amazon.com. Konsistensinya dalam mengembangkan teknologi dan metodologi pencarian serta investasi lama-lama membuat banyak perusahaan search engines dan search tools pada berguguran. SiFMuG yang sempat menggoyang keimanan saya untuk beralih ke dunia perkomputeran (IT) dari telekomunikasi (ICT), dalam waktu singkat merosot drastis pendapatan iklannya sehingga akhirnya saya putuskan untuk reses dari internet. Hanya dalam waktu beberapa tahun saja Google tidak hanya mendominasi bisnis search engine saja, namun merambah ke bisnis bidang lain di internet. Pengunjung situs bisnis sharing video, YouTube, yang dibeli Google seharga USD 1,65 milyar bulan lalu tiba-tiba langsung melonjak drastis.

Dominasi Google nyaris tak ada yang mempersoalkannya. Istilah googling merupakan istilah yang umum saat ini bagi para netter yang tak lain adalah para googler. Bukan karena kebijakan proteksi, namum belum ada yang mampu menandinginya termasuk perusahaan raksasa Microsoft yang salah satu pendirinya Bill Gates dikenal sebagai orang terkaya no 1 di dunia sejak tahun 2000. Bahkan suasana komplex perkantoran pusatnya yang disebut googleplex yang konon membebaskan semua karyawannya untuk makan, minum, renang, ping pong ataupun main skateboard di kantor dan sering mengadakan pesta hura-hura seperti layaknya ABG malah mengundang minat banyak karyawan Microsoft dan perusahaan raksasa IT lainnya untuk bergabung di perusahaan yang terkenal dengan filosofi sentral: "Don't be Evil" atau "You can make money without doing evil". Sebuah filosifi yang terang-terangan menentang bisnis iklan-iklan banner yang waktu itu memang lagi marak-maraknya, tidak hanya terbatas di situs-situs porno dan crack saja namun juga di berbagai situs informasi.

Saat ini sungguh menyeramkan membayangkan seandainya Google tiba-tiba menutup layanan gratisnya untuk publik internet atau membatasi layanan gratisnya untuk kawasan tertentu saja. Dampaknya akan lebih terasa daripada MTNSMS.com yang pernah mendominasi layanan SMS sebelum menutup layanan gratisnya bagi jutaan anggotanya pada awal Maret 2002. Meskipun sampai saat ini belum ada situs lain yang bisa menandingi ketenaran MTNSMS.com, namun banyak orang pun memaklumi atas penutupan layanan SMS itu yang lebih sering digunakan untuk fun dan personal daripada bisnis. Sedangkan dominasi layanan Google dalam bisnis mesin pencari bukan lagi ketergantungan semua pengguna internet baik perorangan di rumah, warnet maupun kantor.

Oleh karena itulah, pemerintah Perancis, Jerman dan kalangan industri di Eropa bekerja sama mensponsori proyek pengembangan mesin pencari "backup" Google yang lebih dikhususkan untuk pencarian informasi Eropa bernama Quaro yang diresmikan april tahun lalu dengan dana mendekati USD 110 juta. Menurut Business Plan-nya sih, proyek ini direcanakan rampung awal tahun ini, namun sampai akhir tahun ini belum terdengar kabar rampungnya. Bahkan mulai awal minggu ini pihak Jerman mengundurkan diri dari proyek Quaro untuk mengembangkan proyek mesin pencari lain yang dinamakan Theseus.

Proyek Quero sebesar itu pun masih belum mampu menampakkan gejala-gegala sebagai alternatip dominasi mesin pencari Google, apalagi SiFMuG bikinan Hastu Wicaksono yang merupakan hasil iseng di kala senggang?! wkwkwk........

Sepertinya, untuk menjadi kompetitor Google saat ini, para pebisnis mesin pencari tidak cukup hanya mengandalkan modal pas-pasan saja. Jika tidak, seperti potongan syair lagu pop sunda "Hayang ngapung ngawang-ngawang teu boga jangjang" (Maunya sih bisa terbang melayang-layang namun tak punya sayap). Kalo gak salah (lupa) dinyanyikan Yanti Aryanto dalam lagunya berjudul Karunya' yang bahasa ABG-nya kini "Kacian dee lu..."

0 comments:

Post a Comment